Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat
kejutan politik dengan menunjuk Bill Pulte sebagai Pelaksana Tugas Direktur
Intelijen Nasional atau Director of National Intelligence (DNI). Keputusan
tersebut diumumkan pada Selasa (2/6/2026) setelah Tulsi Gabbard mengundurkan
diri dari jabatannya.
Mengutip Reuters, Kamis (4/6/2026), penunjukan Bill Pulte
cukup mengejutkan dan langsung menjadi sorotan di Washington karena pria
berusia 38 tahun itu tidak memiliki latar belakang di bidang intelijen maupun
militer. Selama ini, Pulte lebih dikenal sebagai pengusaha properti, investor,
dan pejabat sektor pembiayaan perumahan.
Bill Pulte atau William J
Pulte merupakan cucu dari pendiri PulteGroup, salah satu perusahaan
pembangunan rumah terbesar di Amerika Serikat. Berdasarkan biografi resminya di
Federal Housing Finance Agency (FHFA), ia menyelesaikan pendidikan di
Northwestern University pada 2010 dengan gelar di bidang jurnalisme penyiaran.
Setelah lulus kuliah, Pulte mendirikan perusahaan investasi
swasta Pulte Capital Partners LLC pada 2011. Ia juga aktif dalam berbagai
kegiatan filantropi dan dikenal luas melalui aksi berbagi bantuan kepada
masyarakat lewat media sosial yang populer dengan istilah "Twitter
philanthropy".
Kedekatannya dengan Donald Trump terbangun melalui aktivitas
politik. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Pulte dan istrinya menyumbangkan
sekitar US$ 1 juta untuk mendukung kampanye Trump. Loyalitasnya yang tinggi
terhadap agenda presiden membuatnya kerap dijuluki sebagai "Little
Trump" oleh sejumlah pengamat politik.
Sebelum dipercaya memimpin komunitas intelijen AS, Pulte
menjabat Direktur FHFA sejak 14 Maret 2025 setelah memperoleh persetujuan Senat
AS dengan hasil pemungutan suara 56 berbanding 43.
FHFA merupakan lembaga yang mengawasi Fannie Mae, Freddie
Mac, serta Federal Home Loan Banks. Selama menjabat, Pulte melakukan sejumlah
perubahan di tingkat manajemen dan bahkan menunjuk dirinya sendiri sebagai
ketua dewan di beberapa institusi yang berada di bawah pengawasan FHFA.
Trump menilai pengalaman Pulte mengelola lembaga keuangan
yang menangani aset bernilai lebih dari US$ 10 triliun menjadi salah satu
alasan utama di balik penunjukan tersebut.
Meski mendapat kepercayaan dari Trump, penunjukan Pulte
menuai kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak mempertanyakan kemampuannya
memimpin kantor DNI yang membawahi 18 lembaga intelijen AS.
Pulte juga dikenal sebagai sosok yang agresif dalam membela
kebijakan pemerintahan Trump. Selama memimpin FHFA, ia beberapa kali mengajukan
rujukan pidana terkait dugaan penipuan hipotek terhadap sejumlah tokoh politik
yang berseberangan dengan Trump.
Beberapa nama yang sempat menjadi sasaran tuduhan tersebut
antara lain Jaksa Agung New York Letitia James, Senator California Adam Schiff,
mantan anggota DPR Eric Swalwell, dan Gubernur Dewan Federal Reserve Lisa Cook.
Namun, para tokoh tersebut membantah seluruh tuduhan yang
dialamatkan kepada mereka. Situasi tersebut kemudian mendorong anggota Partai
Demokrat meminta Government Accountability Office (GAO) melakukan penyelidikan
terkait dugaan penyalahgunaan kewenangan.
Latar belakangnya sebagai loyalis Trump, pengelola lembaga
keuangan bernilai triliunan dolar, serta sosok yang dikenal vokal dalam
mendukung kebijakan pemerintahan menjadikan penunjukannya sebagai salah satu
keputusan politik yang paling banyak diperbincangkan di Washington saat ini.
Dengan jabatan barunya sebagai Acting Director of National
Intelligence, Bill Pulte akan menghadapi tantangan besar dalam mengawasi
badan-badan intelijen AS di tengah situasi geopolitik global yang semakin
kompleks.
Berbeda dengan para pendahulunya, Bill Pulte akan
menjalankan dua tugas sekaligus. Selain menjabat sebagai pelaksana tugas DNI,
ia tetap memimpin FHFA serta mempertahankan posisinya sebagai ketua Fannie Mae
dan Freddie Mac.
Keputusan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pengamat
keamanan nasional. Sebab, Amerika Serikat saat ini tengah menghadapi berbagai
tantangan geopolitik penting, mulai dari ketegangan dengan Iran, upaya mediasi
perang Rusia-Ukraina, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin
berpengaruh dalam sektor pertahanan.
Karena statusnya hanya sebagai pelaksana tugas, Pulte tidak
memerlukan persetujuan Senat untuk segera menjabat. Kondisi tersebut memicu
kritik dari sejumlah anggota parlemen.
Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck
Schumer, menjadi salah satu tokoh yang paling keras menentang penunjukan
tersebut. Ia menilai Pulte tidak memiliki pengalaman yang memadai untuk memimpin
komunitas intelijen AS.
Keraguan juga muncul dari kalangan Partai Republik. Senator
John Cornyn menyatakan belum melihat bukti bahwa Pulte memiliki kualifikasi di
bidang intelijen. Sementara itu, Senator Bill Cassidy secara terbuka menyebut
Pulte tidak memenuhi syarat untuk menduduki posisi tersebut.
Sebelumnya, Tulsi Gabbard mengumumkan pengunduran dirinya
yang efektif berlaku pada 30 Juni 2026. Keputusan tersebut diambil agar ia
dapat mendampingi suaminya, Abraham Williams, yang didiagnosis mengidap kanker
tulang langka.
Pengunduran diri Gabbard mengakhiri masa kepemimpinannya
selama sekitar 15 bulan sebagai Direktur Intelijen Nasional. Posisinya kini
diisi sementara oleh Bill Pulte hingga pemerintahan Trump menentukan langkah
selanjutnya terkait kepemimpinan komunitas intelijen AS.