-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kejutan politik dengan menunjuk Bill Pulte sebagai Pelaksana Tugas Direktur Intelijen Nasional

Jumat, 05 Juni 2026 | Juni 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-04T18:00:58Z

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kejutan politik dengan menunjuk Bill Pulte sebagai Pelaksana Tugas Direktur Intelijen Nasional atau Director of National Intelligence (DNI). Keputusan tersebut diumumkan pada Selasa (2/6/2026) setelah Tulsi Gabbard mengundurkan diri dari jabatannya.

 


Mengutip Reuters, Kamis (4/6/2026), penunjukan Bill Pulte cukup mengejutkan dan langsung menjadi sorotan di Washington karena pria berusia 38 tahun itu tidak memiliki latar belakang di bidang intelijen maupun militer. Selama ini, Pulte lebih dikenal sebagai pengusaha properti, investor, dan pejabat sektor pembiayaan perumahan.

Bill Pulte atau William J  Pulte merupakan cucu dari pendiri PulteGroup, salah satu perusahaan pembangunan rumah terbesar di Amerika Serikat. Berdasarkan biografi resminya di Federal Housing Finance Agency (FHFA), ia menyelesaikan pendidikan di Northwestern University pada 2010 dengan gelar di bidang jurnalisme penyiaran.

Setelah lulus kuliah, Pulte mendirikan perusahaan investasi swasta Pulte Capital Partners LLC pada 2011. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan filantropi dan dikenal luas melalui aksi berbagi bantuan kepada masyarakat lewat media sosial yang populer dengan istilah "Twitter philanthropy".

Kedekatannya dengan Donald Trump terbangun melalui aktivitas politik. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Pulte dan istrinya menyumbangkan sekitar US$ 1 juta untuk mendukung kampanye Trump. Loyalitasnya yang tinggi terhadap agenda presiden membuatnya kerap dijuluki sebagai "Little Trump" oleh sejumlah pengamat politik.

Sebelum dipercaya memimpin komunitas intelijen AS, Pulte menjabat Direktur FHFA sejak 14 Maret 2025 setelah memperoleh persetujuan Senat AS dengan hasil pemungutan suara 56 berbanding 43.

FHFA merupakan lembaga yang mengawasi Fannie Mae, Freddie Mac, serta Federal Home Loan Banks. Selama menjabat, Pulte melakukan sejumlah perubahan di tingkat manajemen dan bahkan menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua dewan di beberapa institusi yang berada di bawah pengawasan FHFA.

Trump menilai pengalaman Pulte mengelola lembaga keuangan yang menangani aset bernilai lebih dari US$ 10 triliun menjadi salah satu alasan utama di balik penunjukan tersebut.

Meski mendapat kepercayaan dari Trump, penunjukan Pulte menuai kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak mempertanyakan kemampuannya memimpin kantor DNI yang membawahi 18 lembaga intelijen AS.

Pulte juga dikenal sebagai sosok yang agresif dalam membela kebijakan pemerintahan Trump. Selama memimpin FHFA, ia beberapa kali mengajukan rujukan pidana terkait dugaan penipuan hipotek terhadap sejumlah tokoh politik yang berseberangan dengan Trump.

Beberapa nama yang sempat menjadi sasaran tuduhan tersebut antara lain Jaksa Agung New York Letitia James, Senator California Adam Schiff, mantan anggota DPR Eric Swalwell, dan Gubernur Dewan Federal Reserve Lisa Cook.

Namun, para tokoh tersebut membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Situasi tersebut kemudian mendorong anggota Partai Demokrat meminta Government Accountability Office (GAO) melakukan penyelidikan terkait dugaan penyalahgunaan kewenangan.

Latar belakangnya sebagai loyalis Trump, pengelola lembaga keuangan bernilai triliunan dolar, serta sosok yang dikenal vokal dalam mendukung kebijakan pemerintahan menjadikan penunjukannya sebagai salah satu keputusan politik yang paling banyak diperbincangkan di Washington saat ini.

Dengan jabatan barunya sebagai Acting Director of National Intelligence, Bill Pulte akan menghadapi tantangan besar dalam mengawasi badan-badan intelijen AS di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks.

Berbeda dengan para pendahulunya, Bill Pulte akan menjalankan dua tugas sekaligus. Selain menjabat sebagai pelaksana tugas DNI, ia tetap memimpin FHFA serta mempertahankan posisinya sebagai ketua Fannie Mae dan Freddie Mac.

Keputusan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pengamat keamanan nasional. Sebab, Amerika Serikat saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan geopolitik penting, mulai dari ketegangan dengan Iran, upaya mediasi perang Rusia-Ukraina, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin berpengaruh dalam sektor pertahanan.

Karena statusnya hanya sebagai pelaksana tugas, Pulte tidak memerlukan persetujuan Senat untuk segera menjabat. Kondisi tersebut memicu kritik dari sejumlah anggota parlemen.

Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menjadi salah satu tokoh yang paling keras menentang penunjukan tersebut. Ia menilai Pulte tidak memiliki pengalaman yang memadai untuk memimpin komunitas intelijen AS.

Keraguan juga muncul dari kalangan Partai Republik. Senator John Cornyn menyatakan belum melihat bukti bahwa Pulte memiliki kualifikasi di bidang intelijen. Sementara itu, Senator Bill Cassidy secara terbuka menyebut Pulte tidak memenuhi syarat untuk menduduki posisi tersebut.

Sebelumnya, Tulsi Gabbard mengumumkan pengunduran dirinya yang efektif berlaku pada 30 Juni 2026. Keputusan tersebut diambil agar ia dapat mendampingi suaminya, Abraham Williams, yang didiagnosis mengidap kanker tulang langka.

Pengunduran diri Gabbard mengakhiri masa kepemimpinannya selama sekitar 15 bulan sebagai Direktur Intelijen Nasional. Posisinya kini diisi sementara oleh Bill Pulte hingga pemerintahan Trump menentukan langkah selanjutnya terkait kepemimpinan komunitas intelijen AS.

×
Berita Terbaru Update