-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Proses negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berada di titik krusial yang menentukan masa depan stabilitas Timur Tengah.

Sabtu, 06 Juni 2026 | Juni 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-05T19:22:39Z

 Proses negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini berada di titik krusial yang menentukan masa depan stabilitas Timur Tengah. Pihak Teheran menegaskan bahwa terwujudnya kesepakatan damai sepenuhnya bergantung pada kesediaan pemerintahan Donald Trump untuk mencairkan aset-aset Iran yang membeku di luar negeri senilai US$ 24 miliar (sekitar Rp 390 triliun). Peringatan keras pun dilayangkan jika AS memilih untuk kembali menyulut angkat senjata.



"Negosiasi sekarang berada di titik buntu dan Trump harus memecahkan kebuntuan ini," ujar Mohsen Rezaei, penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam wawancara eksklusif bersama CNN di Teheran pada hari Jumat (5/6/2026).

 "Bola sekarang berada di pengadilan Trump," tambah Rezaei, menekankan bahwa keputusan akhir sepenuhnya ada di tangan Washington.

Berdasarkan draf tuntutan, Iran meminta pencairan dana dilakukan dalam dua tahap: sebesar US$ 12 miliar wajib dilepaskan segera setelah kesepakatan interim (sementara) ditandatangani, dan US$ 12 miliar sisanya dicairkan pada tahapan berikutnya. Namun, lini pertahanan diplomasi AS masih ragu. Para pejabat di Washington khawatir bahwa melepas dana tersebut di awal justru akan menghilangkan posisi tawar dan daya tekan utama mereka terhadap rezim Teheran.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menuntut perjanjian damai kali ini harus jauh lebih mengikat dan kuat ketimbang kesepakatan nuklir tahun 2015 (JCPOA). Trump bersikap keras untuk menghindari kesepakatan apa pun yang bisa diartikan sebagai penyerahan "palet berisi uang tunai", sebuah frasa sindiran yang sering ia gunakan untuk mengkritik kebijakan mantan Presiden Barack Obama yang memberikan kompensasi finansial kepada Teheran di masa lalu.

Wawancara dengan Rezaei ini menjadi sangat langka dan penting karena memberikan gambaran langsung mengenai arah kebijakan strategis domestik pascaperang. Sosok Rezaei dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran keamanan Iran dan sangat dekat dengan Pemimpin Tertinggi saat ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei. 

Profil sang Pemimpin Tertinggi sendiri belakangan ini dipenuhi teka-teki oleh publik, lantaran ia belum pernah lagi tampil di hadapan umum sejak menderita luka-luka akibat serangan udara Israel yang menewaskan ayahnya pada hari pertama perang. Mengenai tuntutan pencairan aset, Rezaei membingkai langkah tersebut sebagai tolok ukur keseriusan dan upaya membangun kembali rasa saling percaya yang telah runtuh. 

"Jika dia (Trump) ingin mencapai kesepakatan dengan Iran, uang US$ 24 billion ini adalah tes kepercayaan yang ingin dimiliki Iran terhadap Trump, ini adalah tes yang harus dilewati Amerika agar jalan keluar bisa terbuka," kata Rezaei. 

“Ini adalah uang kami sendiri, bukan uang milik Amerika,” tambahnya lagi. 

Pejabat senior Iran itu juga melayangkan peringatan keras bernada ancaman jika Washington memilih kembali ke jalur militer. Iran siap menyeret konflik ini hingga keluar dari kawasan Teluk Persia. Wilayah operasi militer mereka direncanakan meluas dari Selat Hormuz hingga ke Samudra Hindia, Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, hingga Laut Mediterania. 

"Kami akan memberikan dimensi baru pada perang dengan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika lainnya," ancam Rezaei, meski ia menilai probabilitas pecahnya perang susulan saat ini masih rendah.

Saat disinggung mengenai peluang pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara Trump dan Ayatollah Mojtaba Khamenei, Rezaei memilih bungkam terkait kondisi kesehatan sang Pemimpin Tertinggi. Namun, ia secara tegas menolak kemungkinan terjadinya pertemuan tersebut dalam waktu dekat. 

"Hal itu tidak akan terjadi, saat ini kita baru berada di tahap pertama negosiasi dan Tuan Trump telah membawa negosiasi ini ke titik mandek," ketusnya, mengabaikan klaim Trump sebelumnya yang sesumbar merasa terhormat jika bisa bertemu Khamenei.

Selain urusan geopolitik makro, Iran juga menegaskan kembali kedaulatan bersama mereka dengan Oman atas Selat Hormuz, jalur air vital bagi perdagangan minyak dunia sebelum perang pecah. Teheran berencana memberlakukan biaya pemeliharaan logistik bagi setiap kapal dagang yang melintas. Rezaei menolak jika biaya tersebut disebut sebagai pungutan liar atau upeti, dengan alasan bahwa Iran tidak seharusnya menanggung beban operasional pengamanan selat tersebut sendirian.

Sebagai tokoh veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang memimpin pasukan pada periode 1981–1997, pernyataan Rezaei mencerminkan faksi pragmatis garis keras yang mengakar kuat di Iran. Iran sendiri baru saja melewati perang 40 hari melawan aliansi AS-Israel pada akhir Februari lalu. Dalam konflik tersebut, Teheran membalas serangan dengan menggempur fasilitas militer dan infrastruktur energi di 12 negara sekutu AS, bahkan sempat menembakkan rudal ke pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia untuk memamerkan daya jangkau militernya.

Kendati bersiap untuk berunding, Rezaei mengaku tetap skeptis terhadap daya tahan kesepakatan jangka panjang dengan Trump, merujuk pada keputusan sepihak AS keluar dari perjanjian nuklir masa lalu. Namun, ia menegaskan Iran sama sekali tidak gentar jika skenario terburuk seperti invasi darat oleh AS benar-benar terjadi. 

"Dunia akan memahami kemampuan Iran yang sesungguhnya, karena kekuatan tempur darat kami berlipat ganda jauh lebih besar ketimbang kemampuan rudal kami," pungkasnya.


×
Berita Terbaru Update