Bank Sentral China (People's Bank of China/PBOC) kembali
menambah cadangan emas pada Juni 2026, menandai pembelian selama 20 bulan
berturut-turut sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap
aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bank Sentral China, cadangan emas bertambah
480.000 troi ons atau sekitar 14,93 ton pada Juni 2026. Dengan tambahan
tersebut, total kepemilikan emas China mencapai 75,44 juta troi ons atau
sekitar 2.346 ton pada akhir Juni 2026.
Menurut Reuters, rangkaian pembelian tersebut menjadi
periode akumulasi emas bulanan terpanjang sejak 2015.
Langkah itu mencerminkan strategi Beijing untuk
mendiversifikasi cadangan devisa sekaligus mengurangi eksposur terhadap aset
berdenominasi dolar AS. Meski demikian, berdasarkan data World Gold Council
(WGC), emas masih menyumbang kurang dari 10% dari total portofolio cadangan
devisa China.
Secara terpisah, State Administration of Foreign Exchange
melaporkan cadangan devisa China mencapai US$ 3,4163 triliun pada akhir Juni
2026. Nilai tersebut turun US$ 26 miliar atau 0,75% dibandingkan bulan
sebelumnya.
Analis menilai emas semakin penting bagi para pembuat
kebijakan karena dinilai lebih tahan terhadap risiko sanksi, ketegangan
geopolitik, serta volatilitas sistem keuangan AS, sebagaimana dilaporkan South
China Morning Post.
Dalam laporan prospek tengah tahun yang dirilis pekan lalu,
World Gold Council kembali menegaskan pentingnya emas sebagai aset cadangan
strategis. Organisasi tersebut menilai pembelian oleh bank sentral, ketidakpastian
geopolitik, serta potensi pelonggaran kebijakan moneter akan terus menopang
pasar emas.
Sementara itu, analis Goldman Sachs mempertahankan proyeksi
harga emas sebesar US$ 4.900 per troi ons pada akhir 2026. Menurut mereka,
permintaan yang tetap kuat dari bank-bank sentral akan terus menjadi penopang
harga emas meskipun pasar sempat mengalami koreksi sepanjang tahun ini.
Emas Duniaemaspbocbank sentral china