Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam empat pekan seusai ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Pasar khawatir konflik yang melibatkan dua negara tersebut dapat mengganggu pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Pada perdagangan Selasa (14/7/2026) malam, harga minyak mentah Brent naik US$ 2,89 atau 3,47% menjadi US$ 86,19 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$ 1,53 atau 1,96% menjadi US$ 79,67 per barel.
Kenaikan tersebut mendorong harga Brent ke level tertinggi sejak 12 Juni 2026 dan WTI ke posisi tertinggi sejak 16 Juni 2026, sebelum AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk meredakan konflik pada 17 Juni lalu.
Kekhawatiran pasar kembali meningkat seusai Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran dan mengusulkan pungutan sebesar 20% untuk pengamanan kapal yang melintasi Selat Hormuz.
“Meski sudah ada nota kesepahaman dan kesepakatan, situasi itu ternyata tidak bertahan lama. Inilah yang sedang diperhitungkan pasar saat ini,” kata analis ANZ, Soni Kumari, dikutip dari Reuters.
Ia menilai puncak eskalasi kemungkinan telah terlewati. Namun, harga minyak masih berpotensi naik apabila gangguan terhadap distribusi energi terus berlanjut.
“Ada risiko kenaikan harga minyak apabila gangguan ini terus berlanjut dan itu dapat menjaga harga tetap berada pada kisaran US$ 85 hingga US$ 90 per barel,” ujarnya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting di dunia. Sebelum konflik memanas, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia dikirim melalui jalur tersebut setiap hari.
Ketegangan semakin meningkat seusai dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan terkena serangan rudal jelajah Iran di Selat Hormuz. Kementerian Pertahanan UEA menyatakan satu awak kapal asal India tewas dan delapan lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.
Data pelayaran juga menunjukkan jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz turun ke level terendah dalam dua bulan terakhir, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku industri terhadap keamanan jalur pelayaran tersebut.
Lembaga keuangan Citi memperingatkan risiko harga minyak bertahan tinggi semakin besar apabila Iran memutuskan menjauh dari kesepakatan yang telah ditandatangani dengan AS hingga setelah pemilu sela Amerika Serikat.
Meski demikian, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menyatakan ekspor minyak negaranya masih berjalan normal meskipun AS telah mencabut pengecualian sanksi minyak selama 60 hari yang sebelumnya diberikan kepada sejumlah pihak.