-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Pemutusan hubungan kerja (PHK) memang tengah menjadi momok lantaran dunia usaha di Indonesia mengalami tekanan. Selain dipengaruhi faktor eksternal

Kamis, 09 Juli 2026 | Juli 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-08T17:00:57Z

 


Pemutusan hubungan kerja (PHK) memang tengah menjadi momok lantaran dunia usaha di Indonesia mengalami tekanan. Selain dipengaruhi faktor eksternal, terdapat sejumlah faktor domestik yang turut memperlambat laju ekonomi.

 

Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan empat risiko tekanan ekonomi atau quadruple whammy yang berdampak pada perkembangan dunia usaha di Indonesia.

 

Fithra memaparkan empat indikator utama yang menjadi tantangan saat ini, yakni defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,6 miliar, kontraksi indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur ke level 46,9, lonjakan inflasi dari 3,08% menjadi 3,34%, serta penurunan indeks keyakinan konsumen (Consumer Confidence Index/CCI) menjadi 117,8 dari sebelumnya 120,9.

 

Kontraksi pada sektor manufaktur terjadi karena pelaku usaha enggan melakukan ekspansi lebih lanjut akibat tingginya biaya produksi, terutama dari sektor energi.

 

Menurut Fithra, kondisi tersebut turut memperberat fundamental ekonomi nasional dalam jangka pendek.

 

"Untuk yang bekerja di industri menjadi pengusaha, menjadi produsen, pasti melihat tren ini sudah sangat khawatir, karena apa? Karena kalau ingin menaikkan harga, kecenderungannya di Indonesia ini price elastic, kalau harganya naik demand-nya turun," ujarnya, dikutip dari Antara, Rabu (8/7/2026).

 

Ia menambahkan, situasi dilematis tersebut pada akhirnya memaksa para pelaku usaha menerapkan strategi shrinkflation, yaitu memperkecil ukuran atau isi produk untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, sementara harga jual tetap terjangkau oleh konsumen.

 

Meski demikian, Fithra menyebut masih ada harapan karena impor barang modal meningkat dari 5,64% pada April menjadi 12,7% pada Mei. Hal itu menunjukkan adanya aktivitas pemenuhan pasokan dari sisi produsen.

 

Terkait defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 1,6 miliar setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut, Fithra menyebut kondisi tersebut dipicu oleh tingginya defisit pada neraca minyak dan gas (migas).

 

Ekspor migas nasional tercatat hanya sebesar US$ 758 juta, sedangkan nilai impor migas melonjak hingga US$ 4,5 miliar. Kondisi tersebut menyebabkan defisit sektor migas membengkak menjadi US$ 3,8 miliar.

 

Kondisi tersebut tidak mampu ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang meskipun mencatatkan performa positif, nilainya hanya mencapai US$ 2,2 miliar.

 

Fithra menambahkan, penurunan kinerja ekspor nonmigas dipengaruhi oleh anjloknya pengapalan komoditas lemak nabati atau CPO sebesar 14,23%, serta besi dan baja yang merosot 14,68% pada Mei.

 

Penurunan tajam ekspor nonmigas ke pasar global ini diduga merupakan dampak kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang menerapkan aturan tarif baru.

 

"Hipotesis saya ini karena front loading. Kalau kita lihat berdasarkan trade partners, di bulan April ekspor kita ke Amerika Serikat naik 38,72%, tetapi di bulan Mei anjlok 24,21%," ucap Fithra.

×
Berita Terbaru Update