Pemutusan hubungan kerja (PHK) memang tengah menjadi momok
lantaran dunia usaha di Indonesia mengalami tekanan. Selain dipengaruhi faktor
eksternal, terdapat sejumlah faktor domestik yang turut memperlambat laju
ekonomi.
Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Fithra
Faisal Hastiadi, mengungkapkan empat risiko tekanan ekonomi atau quadruple
whammy yang berdampak pada perkembangan dunia usaha di Indonesia.
Fithra memaparkan empat indikator utama yang menjadi
tantangan saat ini, yakni defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,6 miliar,
kontraksi indeks manajer pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur
ke level 46,9, lonjakan inflasi dari 3,08% menjadi 3,34%, serta penurunan
indeks keyakinan konsumen (Consumer Confidence Index/CCI) menjadi 117,8 dari
sebelumnya 120,9.
Kontraksi pada sektor manufaktur terjadi karena pelaku usaha
enggan melakukan ekspansi lebih lanjut akibat tingginya biaya produksi,
terutama dari sektor energi.
Menurut Fithra, kondisi tersebut turut memperberat
fundamental ekonomi nasional dalam jangka pendek.
"Untuk yang bekerja di industri menjadi pengusaha,
menjadi produsen, pasti melihat tren ini sudah sangat khawatir, karena apa?
Karena kalau ingin menaikkan harga, kecenderungannya di Indonesia ini price
elastic, kalau harganya naik demand-nya turun," ujarnya, dikutip dari
Antara, Rabu (8/7/2026).
Ia menambahkan, situasi dilematis tersebut pada akhirnya
memaksa para pelaku usaha menerapkan strategi shrinkflation, yaitu memperkecil
ukuran atau isi produk untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, sementara
harga jual tetap terjangkau oleh konsumen.
Meski demikian, Fithra menyebut masih ada harapan karena
impor barang modal meningkat dari 5,64% pada April menjadi 12,7% pada Mei. Hal
itu menunjukkan adanya aktivitas pemenuhan pasokan dari sisi produsen.
Terkait defisit neraca perdagangan yang mencapai US$ 1,6
miliar setelah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut, Fithra menyebut
kondisi tersebut dipicu oleh tingginya defisit pada neraca minyak dan gas
(migas).
Ekspor migas nasional tercatat hanya sebesar US$ 758 juta,
sedangkan nilai impor migas melonjak hingga US$ 4,5 miliar. Kondisi tersebut
menyebabkan defisit sektor migas membengkak menjadi US$ 3,8 miliar.
Kondisi tersebut tidak mampu ditopang oleh kinerja ekspor
nonmigas yang meskipun mencatatkan performa positif, nilainya hanya mencapai
US$ 2,2 miliar.
Fithra menambahkan, penurunan kinerja ekspor nonmigas
dipengaruhi oleh anjloknya pengapalan komoditas lemak nabati atau CPO sebesar
14,23%, serta besi dan baja yang merosot 14,68% pada Mei.
Penurunan tajam ekspor nonmigas ke pasar global ini diduga
merupakan dampak kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang menerapkan aturan
tarif baru.
"Hipotesis saya ini karena front loading. Kalau kita
lihat berdasarkan trade partners, di bulan April ekspor kita ke Amerika Serikat
naik 38,72%, tetapi di bulan Mei anjlok 24,21%," ucap Fithra.