-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Seorang pejabat Prancis menuding Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang bersalah atas gelombang panas ekstrem yang tengah melanda Eropa

Rabu, 01 Juli 2026 | Juli 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-30T19:15:24Z

Seorang pejabat Prancis menuding Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang bersalah atas gelombang panas ekstrem yang tengah melanda Eropa. Pejabat Prancis tersebut menilai tingginya emisi gas rumah kaca yang dihasilkan AS sangat berkontribusi memperparah pemanasan global, sehingga memicu cuaca ekstrem yang kini menelan ribuan korban.



Wakil Wali Kota Paris Bidang Hubungan Internasional Audrey Pulvar mengatakan AS memikul tanggung jawab yang signifikan sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah wisatawan, jurnalis, dan influencer asal AS mengkritik minimnya penggunaan pendingin udara (AC) di Paris ketika Eropa dihantam gelombang panas.

"Kepada para jurnalis Amerika dan influencer media sosial, selama beberapa hari ini sebagian dari Anda telah mengkritik dan mengolok-olok Paris karena kota ini tidak memiliki AC di setiap ruangan. Ya Tuhan, ini sangat menggelikan!" tulis Pulvar melalui akun Instagram pribadinya.

Ia kemudian blak-blakan menyinggung besarnya kontribusi AS terhadap emisi gas rumah kaca.

"Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia, Anda memikul tanggung jawab yang signifikan atas pemanasan global dan konsekuensi yang kami, di Prancis, alami. Kota-kota Anda (di AS), yang 90% menggunakan pendingin udara, tidak terlepas dari hal ini," lanjut Pulvar, dikutip dari The Independent UK, Selasa (30/6/2026). 

Data dari Our World in Data menunjukkan, AS menyumbang sekitar 13% emisi karbon dioksida (CO2) global, menjadikan negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu sebagai penghasil emisi terbesar kedua di dunia setelah China yang berkontribusi sekitar 32%. Sedangkan 27 negara anggota Uni Eropa secara gabungan menyumbang sekitar 6% emisi CO2 global.

Gelombang panas yang melanda Eropa dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu yang paling ekstrem dalam sejarah. Salah satunya yang melanda Prancis, suhu di sejumlah wilayah dilaporkan mencapai 44 derajat celsius.  Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gelombang panas telah mengakibatkan lebih dari 1.300 angka kematian di berbagai negara Eropa. 

Sementara itu, pada sisi lain, perbedaan penggunaan pendingin udara juga menjadi sorotan. Berdasarkan data Badan Energi Internasional, hanya sekitar 20% rumah tangga di Eropa yang memiliki AC, sedangkan di AS angkanya mencapai sekitar 90%.


×
Berita Terbaru Update