-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kebakaran besar yang melanda Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Senin, 24 Agustus 2026 | Agustus 24, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-23T18:26:38Z

 Kebakaran besar yang melanda Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghanguskan sedikitnya 75 rumah dan 69 galeri kerajinan. Kerugian sementara ditaksir mencapai puluhan miliar rupiah.



Bagi warga Sade, kebakaran bukan hanya menghilangkan tempat tinggal dan barang berharga. Api juga menghancurkan sumber mata pencarian sekaligus sebagian warisan arsitektur tradisional Sasak yang telah dijaga secara turun-temurun dan menjadi daya tarik wisata kawasan tersebut.


Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Adat Sade Ardinata Sanah mengatakan penghitungan kerugian masih terus dilakukan. Nilainya mencakup bangunan rumah, galeri, barang dagangan, uang, hingga perhiasan milik warga.


“Total dari kerugian nilai bangunan dan nilai artshop itu sekitar puluhan miliar,” kata Ardinata, Minggu (23/8/2026).


Berdasarkan pendataan Pokdarwis, sebanyak 75 rumah yang terbakar masing-masing dihuni satu keluarga. Selain itu, 69 galeri kerajinan ikut dilalap api.


Sejumlah bangunan tradisional lainnya juga terdampak, termasuk satu lumbung menara dan empat berugak sekenam.


Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah juga telah menyiapkan penataan kembali Desa Sade. Pemerintah daerah menilai rekonstruksi perlu mengevaluasi tata ruang, akses penanganan keadaan darurat, serta penggunaan material bangunan tanpa meninggalkan nilai adat dan budaya masyarakat setempat.


Dampak kebakaran bagi masyarakat Sade melampaui kerugian material. Selain kehilangan tempat tinggal, sebagian warga kehilangan ruang usaha tempat mereka selama ini menjual kain tenun, cendera mata, dan berbagai produk kerajinan kepada wisatawan.


Namun, kehilangan yang paling berat bagi warga adalah rusaknya bagian dari permukiman adat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.


BACA JUGA


Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Momentum Bangun Wisata Tangguh Bencana

“Yang paling menyedihkan bagi kami adalah ini warisan leluhur yang kami jaga berabad-abad,” ujar Ardinata.


Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu permukiman tradisional masyarakat Sasak yang mempertahankan karakter bangunan dan tata ruang khas. Kawasan tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 600 tahun dan menjadi salah satu tujuan wisata budaya utama di Lombok.


Menurut Ardinata, kebakaran dalam skala sebesar ini merupakan kejadian pertama yang sampai menghanguskan satu kawasan permukiman.


Hingga Minggu malam, penyebab kebakaran masih belum diketahui. Pemerintah daerah juga menyatakan proses identifikasi penyebab masih berlangsung.


Warga Ingin Kembali ke Arsitektur Asli Sasak

Di tengah musibah tersebut, masyarakat Sade mulai memikirkan pembangunan kembali kawasan.


Alih-alih mengganti permukiman dengan bangunan modern, warga justru ingin mengembalikan karakter arsitektur tradisional Sasak yang dinilai mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir.


Ardinata mengatakan sejumlah bangunan sebelum kebakaran telah mengalami perubahan karena menggunakan material modern, seperti semen dan kaca.


“Kami ingin membangun supaya betul-betul keasliannya. Kami ingin petik hikmah dari kejadian ini dan kembali ke konstruksi awal seperti tahun 90-an sebelumnya,” katanya.


Menurutnya, keaslian arsitektur menjadi bagian penting dari identitas Sade sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung untuk melihat kehidupan masyarakat Sasak.


Karena itu, pembangunan kembali diharapkan tidak sekadar mengganti rumah yang terbakar, tetapi juga mengembalikan karakter permukiman sebagaimana bentuk tradisionalnya.


Keinginan tersebut sejalan dengan rencana Pemkab Lombok Tengah yang menegaskan nilai adat tetap harus dipertahankan dalam penataan Sade pascakebakaran.


Mitigasi Kebakaran Jadi Evaluasi

Keinginan mempertahankan arsitektur tradisional juga membawa tantangan baru, terutama terkait keselamatan.


Ardinata mengakui kepadatan bangunan perlu menjadi bahan evaluasi. Sebelum kebakaran, kawasan terdampak dipenuhi rumah, galeri kerajinan, meja dagangan, dan berbagai barang milik warga yang berada dalam jarak berdekatan.


Sejumlah material mudah terbakar juga membuat api dapat merambat cepat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.


Karakteristik rumah adat Sade yang menggunakan bahan seperti kayu, bambu, serta atap ilalang memang memiliki risiko tinggi ketika terjadi kebakaran. Pemerintah Lombok Tengah menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu alasan evaluasi tata ruang dan akses keadaan darurat perlu dilakukan.


Komunitas Lombok Heritage and Science Society juga menilai kebakaran Sade menjadi peringatan bagi perlindungan kawasan warisan budaya di NTB. Sistem mitigasi, proteksi kebakaran mandiri, dan pengamanan instalasi listrik dinilai perlu mendapat perhatian lebih serius.


Ardinata mengatakan masyarakat akan meminta masukan pemerintah serta tenaga ahli arsitektur untuk merancang kawasan yang tetap mempertahankan identitas asli Sade, tetapi lebih siap menghadapi keadaan darurat.


Akses kendaraan pemadam, jalur evakuasi, dan jarak antarbangunan menjadi sejumlah aspek yang perlu dipertimbangkan.


×
Berita Terbaru Update