Kekuatan paspor menjadi salah satu indikator yang kerap digunakan untuk melihat seberapa mudah warga suatu negara bepergian ke berbagai belahan dunia.
Semakin banyak negara yang dapat dikunjungi tanpa visa atau dengan fasilitas visa saat kedatangan, semakin tinggi pula tingkat mobilitas yang diberikan sebuah paspor.
Pada 2026, sejumlah lembaga kembali merilis pemeringkatan paspor terkuat dunia dengan hasil yang cukup beragam. Perbedaan tersebut terjadi karena masing-masing lembaga menggunakan metode penilaian dan indikator yang tidak sepenuhnya sama.
Tiga pemeringkatan yang menjadi acuan adalah Henley Passport Index, Global Passport Power Rank dari Arton Capital, serta Global Passport Index yang diterbitkan Global Citizen Solutions.
Dari ketiga indeks tersebut, posisi paspor Indonesia juga berbeda-beda. Ada yang menempatkannya di peringkat ke-68, sementara indeks lain berada di posisi ke-59 dan bahkan ke-119 karena menggunakan indikator yang lebih luas.
Dalam Henley Passport Index 2026, Singapura kembali mempertahankan posisi sebagai pemilik paspor terkuat di dunia. Pemegang paspor Singapura dapat melakukan perjalanan ke 192 negara tanpa visa, menjadi jumlah akses bebas visa tertinggi di dunia.
Berikut ini beberapa posisi teratas dalam pemeringkatan tersebut:
1. Singapura — 192 destinasi
Singapura kembali menjadi negara dengan paspor terkuat di dunia. Warganya memiliki akses bebas visa ke 192 negara tujuan untuk berbagai keperluan, termasuk perjalanan wisata dan bisnis.
2. Jepang dan Korea Selatan — 188 destinasi
Jepang dan Korea Selatan menempati posisi kedua secara bersama-sama. Kedua negara memberikan akses bebas visa kepada pemegang paspornya ke 188 destinasi di berbagai kawasan dunia.
Amerika Serikat Kembali Masuk 10 Besar
Amerika Serikat juga kembali masuk dalam jajaran 10 besar paspor terkuat dunia setelah sempat keluar dari kelompok tersebut pada akhir 2025.
Meski demikian, posisi AS masih cukup jauh dibandingkan pencapaiannya pada 2014 ketika negara tersebut pernah berada di peringkat pertama.
UEA Catat Kenaikan Terbesar dalam Sejarah Indeks
Uni Emirat Arab (UEA) menjadi salah satu negara dengan perkembangan kekuatan paspor paling signifikan dalam sejarah Henley Passport Index.
Ketua Henley & Partners, Christian H Kaelin menyebut kekuatan sebuah paspor dapat mencerminkan modal geopolitik suatu negara.
Negara dengan paspor yang kuat umumnya memiliki posisi yang menarik bagi negara lain sebagai mitra dalam perdagangan, investasi, keamanan, maupun kerja sama internasional.
Dalam kurun waktu sejak 2006, UEA berhasil menambah 149 destinasi bebas visa. Negara tersebut juga mengalami kenaikan hingga 57 peringkat dalam daftar paspor terkuat dunia selama dua dekade terakhir.
Peningkatan tersebut tidak terlepas dari strategi diplomasi yang dilakukan secara berkelanjutan serta kebijakan liberalisasi visa yang diterapkan pemerintah UEA.
Global Passport Power Rank 2026 Versi Arton Capital
Hasil berbeda terlihat dalam Global Passport Power Rank 2026 yang diterbitkan Arton Capital. Jika Henley menempatkan Singapura di posisi teratas, Arton Capital justru menempatkan UEA sebagai pemilik paspor dengan tingkat mobilitas tertinggi.
1. Uni Emirat Arab — Skor mobilitas 182
UEA berada di peringkat pertama dengan skor mobilitas 182. Hasil tersebut membuat UEA mengungguli Singapura dalam pemeringkatan Arton Capital.
2. Singapura — Skor mobilitas 175
Singapura berada di posisi kedua dengan skor mobilitas 175. Meski berbeda dari hasil Henley, Singapura tetap menjadi salah satu negara dengan akses perjalanan internasional paling luas.
3. Spanyol dan Malaysia — Skor mobilitas 174
Spanyol dan Malaysia berbagi posisi ketiga dengan skor mobilitas masing-masing 174.
Selain negara-negara tersebut, sejumlah negara Eropa, seperti Belgia, Prancis, Jerman, dan Swedia juga berada dalam kelompok dengan skor mobilitas 173.
Perbedaan hasil antara Henley Passport Index dan Arton Capital menunjukkan bahwa istilah paspor terkuat dapat menghasilkan peringkat berbeda tergantung metode yang digunakan untuk mengukur kekuatan mobilitas sebuah paspor.
Global Passport Index Gunakan Indikator Lebih Luas
Pemeringkatan lainnya diterbitkan oleh Global Citizen Solutions melalui Global Passport Index 2026. Indeks ini memiliki pendekatan yang lebih luas karena tidak hanya menghitung jumlah negara yang dapat dikunjungi tanpa visa.
Penilaian juga mempertimbangkan sejumlah faktor lain, seperti daya tarik investasi, iklim perpajakan, daya saing ekonomi, layanan kesehatan, serta infrastruktur sosial.
Dengan metode tersebut, Swedia justru berada di posisi pertama sebagai pemilik paspor terkuat dunia.
1. Swedia — Skor 96,05
Swedia memperoleh skor keseluruhan 96,05 dari 100. Negara tersebut memiliki performa kuat dalam tiga pilar penilaian, yakni berada di peringkat ke-11 untuk mobilitas, peringkat kesembilan untuk investasi, dan peringkat kedua untuk kualitas hidup.
2. Swiss
Swiss berada di posisi kedua dalam Global Passport Index 2026. Posisi tersebut menunjukkan kuatnya performa Swiss tidak hanya dari sisi mobilitas internasional, tetapi juga sejumlah indikator ekonomi dan kualitas hidup.
3. Finlandia dan negara Eropa lainnya
Finlandia serta sejumlah negara Eropa lainnya mendominasi jajaran atas dalam indeks Global Citizen Solutions.
Berbeda dari Henley dan Arton Capital yang lebih menitikberatkan pada mobilitas internasional, Global Passport Index mencoba melihat kekuatan paspor dari perspektif yang lebih luas.
Hasil tersebut menunjukkan kualitas sebuah paspor tidak selalu hanya ditentukan oleh berapa banyak negara yang dapat dikunjungi tanpa visa.
Kondisi ekonomi, peluang investasi, sistem perpajakan, layanan kesehatan, hingga kualitas hidup turut menjadi faktor yang dapat memperkuat posisi suatu negara.
Posisi Paspor Indonesia pada 2026
Posisi paspor Indonesia juga berbeda dalam tiga indeks tersebut. Perbedaan ini terjadi karena setiap lembaga memiliki metode dan indikator penilaian masing-masing.
Dalam Henley Passport Index edisi Juli 2026, paspor Indonesia berada di peringkat ke-68 dari total 104 peringkat. Posisi tersebut turun dua peringkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah destinasi yang dapat diakses pemegang paspor Indonesia tanpa visa juga mengalami penurunan. Pada 2025, paspor Indonesia memiliki akses ke 76 negara, sedangkan dalam laporan terbaru jumlahnya menjadi 70 negara.
Sementara itu, Global Passport Power Rank dari Arton Capital menempatkan Indonesia di peringkat ke-59 dengan skor mobilitas 89. Angka tersebut mencakup akses bebas visa maupun fasilitas visa saat kedatangan ke 49 negara tujuan.
Posisi Indonesia lebih rendah dalam Global Passport Index 2026 yang menggunakan indikator lebih luas. Dalam indeks tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-119 karena penilaiannya tidak hanya mempertimbangkan kemudahan perjalanan, tetapi juga faktor ekonomi, investasi, perpajakan, layanan kesehatan, dan kualitas hidup.
Perbedaan peringkat yang muncul dalam tiga indeks paspor tersebut merupakan hal yang wajar karena setiap lembaga menggunakan metodologi dan sumber data yang berbeda.
Meski demikian, ketiga pemeringkatan tersebut memperlihatkan gambaran yang relatif serupa mengenai kondisi mobilitas global. Akses perjalanan internasional memang meningkat dalam dua dekade terakhir, tetapi manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh seluruh negara.
Dengan demikian, kekuatan paspor bukan sekadar menunjukkan seberapa mudah seseorang bepergian ke luar negeri. Posisi sebuah paspor juga dapat menggambarkan hubungan diplomatik, kondisi ekonomi, tingkat kepercayaan antarnegara, serta daya tarik suatu negara dalam hubungan internasional.