-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Peretas China yang dikaitkan dengan perusahaan berbasis di Nanjing dilaporkan menargetkan sejumlah jaringan sensitif milik Pemerintah Amerika Serikat (AS), termasuk NASA,

Sabtu, 29 Agustus 2026 | Agustus 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-28T19:46:48Z

 

Peretas China yang dikaitkan dengan perusahaan berbasis di Nanjing dilaporkan menargetkan sejumlah jaringan sensitif milik Pemerintah Amerika Serikat (AS), termasuk NASA, Departemen Kehakiman, Federal Reserve, hingga Senat AS.

 


Pemerintah AS menyatakan telah mengganggu operasi tersebut dengan menyita dua domain yang digunakan untuk menjalankan platform peretasan.

Mengutip Al Jazeera, Jumat (28/8/2026), Departemen Kehakiman AS atau Department of Justice (DOJ) pada Rabu (26/8/2026) mengumumkan tindakan terhadap dua platform bernama QScan dan QTRouter. Berdasarkan dokumen pengadilan, kedua platform tersebut digunakan untuk membobol perangkat yang terhubung ke internet sekaligus menyamarkan sumber serangan.

 

Infrastruktur tersebut disebut telah digunakan untuk mengompromikan jaringan kritis dan sensitif di AS maupun negara lain setidaknya sejak 2018.

 

DOJ menyebut QScan dan QTRouter dioperasikan oleh Nanjing Xinjiuwei Network Technology Company, perusahaan yang berbasis di China. Menurut DOJ, perusahaan tersebut memiliki klien yang mencakup badan intelijen sipil China, Ministry of State Security (MSS), serta militer China, People’s Liberation Army (PLA). Informasi tersebut tercantum dalam affidavit yang menjadi bagian dari rangkaian tindakan hukum terhadap operasi peretasan tersebut.

 

Dokumen pengadilan menyebut infrastruktur komputer yang digunakan kelompok tersebut telah dimanfaatkan untuk mengakses jaringan infrastruktur kritis dan jaringan sensitif sejak setidaknya 2018. Operasi tersebut tidak hanya menyasar AS, tetapi juga jaringan di sejumlah negara lain.

 

NASA hingga Federal Reserve Jadi Incaran

Salah satu target yang disebut dalam affidavit adalah jaringan NASA. Upaya mengakses jaringan badan antariksa AS tersebut terjadi pada Agustus 2019 dengan mengeksploitasi kerentanan pada virtual private network (VPN).

 

Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Beberapa tahun kemudian, operasi yang sama dilaporkan berhasil menembus sejumlah jaringan pemerintah AS.

 

Pada September 2024, pelaku disebut berhasil mengakses jaringan tiga laboratorium Departemen Energi AS, National Institutes of Health (NIH), satu lembaga di bawah Department of Health and Human Services (HHS), serta sebuah produsen perangkat keamanan asal AS.

 

Federal Reserve dan Senat AS juga tercatat sebagai target. Selain itu, dokumen pengadilan menyebut Departemen Energi, HHS, NIH, serta empat perusahaan yang tidak disebutkan namanya di AS dan Korea Selatan sebagai korban operasi tersebut.

 

Metode QScan dan QTRouter

QScan disebut berfungsi untuk menemukan dan menginfeksi ribuan perangkat yang terhubung ke internet. Perangkat yang menjadi sasaran antara lain router dan berbagai perangkat jaringan lainnya.

 

Setelah terinfeksi, perangkat tersebut dimasukkan ke dalam jaringan melalui QTRouter. Sistem tersebut memungkinkan operator mengarahkan serangan melalui komputer dan perangkat yang berada di luar China.

 

Teknik tersebut membuat sumber serangan menjadi lebih sulit dilacak. Serangan terhadap target di AS, misalnya, dapat terlihat seolah-olah berasal dari perangkat di negara lain atau bahkan perangkat yang berada di sekitar lokasi target.

 

Richard Hummel, wakil presiden perusahaan keamanan siber SecurityScorecard, mengatakan metode tersebut dapat memperlambat proses atribusi serangan. Menurutnya, pengambilalihan dua platform tersebut dapat mengurangi kemampuan operasional yang selama ini digunakan kelompok tersebut.

 

AS Sita Dua Domain untuk Ganggu Operasi Peretasan

 

DOJ menyatakan penyitaan domain QScan dan QTRouter merupakan bagian dari tindakan yang telah memperoleh persetujuan pengadilan. Operasi tersebut melibatkan FBI Cyber Division, jaksa federal di California, serta FBI di San Diego. Jaksa Agung AS Todd Blanche menggambarkan aktivitas yang menjadi sasaran penyelidikan sebagai “indiscriminate hacking activities” yang disponsori China.

 

Meski demikian, penyitaan dua domain tersebut tidak berarti seluruh aktivitas kelompok peretas telah dihentikan. DOJ menyatakan tindakan tersebut terutama bertujuan mengganggu akses terhadap platform yang digunakan dalam operasi tersebut.

 

Dengan demikian, langkah penegakan hukum AS lebih tepat dipahami sebagai upaya mengurangi kemampuan infrastruktur peretasan yang digunakan kelompok tersebut, bukan menghentikan seluruh aktivitas kelompok.

 

China Dituduh AS

Kasus tersebut muncul di tengah serangkaian insiden peretasan yang dikaitkan dengan China terhadap jaringan pemerintah dan sektor swasta AS. Pada Maret 2026, FBI memberi tahu Kongres, peretas telah menembus jaringan sejumlah lembaga yang berkaitan dengan orang-orang yang menjadi bagian dari penyelidikan FBI. Laporan publik kemudian mengaitkan kompromi tersebut dengan China.

 

Kelompok peretas yang dikaitkan dengan China juga disebut pernah terlibat dalam kompromi jaringan sejumlah komite Dewan Perwakilan AS serta beberapa perusahaan telekomunikasi besar.

 

Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa jaringan pemerintah dan sektor strategis AS menjadi bagian dari sasaran operasi siber yang sedang ditangani aparat AS.

 

Beijing Pilih Tutup Mulut

Hingga berita ini ditulis, Kedutaan Besar China di Washington dan Nanjing Xinjiuwei Network Technology Company belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar media mengenai tuduhan tersebut.

 

Sementara itu, pemerintah AS menyatakan penyitaan domain QScan dan QTRouter telah mengganggu akses terhadap platform yang digunakan dalam operasi peretasan. Namun, langkah tersebut tidak serta-merta menghapus seluruh aktivitas kelompok yang dikaitkan dengan operasi tersebut.

 

Pemerintah AS menyatakan telah mengganggu operasi peretasan dengan menyita dua domain yang dikaitkan dengan QScan dan QTRouter. Platform tersebut disebut digunakan untuk menginfeksi perangkat yang terhubung ke internet dan mengarahkan serangan melalui perangkat di luar China.

 

Dokumen pengadilan mencatat NASA, Federal Reserve, Senat AS, sejumlah lembaga pemerintah, laboratorium, serta perusahaan di AS dan Korea Selatan sebagai target atau korban. Meski akses terhadap dua platform telah diganggu, pemerintah AS menegaskan tindakan tersebut belum berarti seluruh aktivitas kelompok peretas berhenti.

×
Berita Terbaru Update