-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berencana mengambil saham yang ada pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-19T17:32:57Z

 

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berencana mengambil saham yang ada pada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

 


Pengamat BUMN sekaligus Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mengatakan pengambilalihan tersebut perlu diselesaikan secara menyeluruh, termasuk dengan mengembalikan dana investasi yang telah dikeluarkan perseroan.

 

WIKA mendapat tugas untuk melakukan investasi pada PSBI guna membantu pembiayaan proyek kereta cepat. Perseroan menginvestasikan sekitar Rp 6 triliun dan memiliki 33,36% saham PSBI, yang merupakan pengendali PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), perusahaan yang mengoperasikan kereta cepat Whoosh.

 

"Soal mekanisme pengambilalihan, seharusnya melalui mekanisme business to business. Jangan lupa, WIKA adalah perusahaan publik, sehingga perlu mempertanggungjawabkan aksi korporasinya kepada para pemangku kepentingan, baik dari investor ritel maupun regulator," ujar Herry dilansir dari Antara, Rabu (19/8/2026).

 

Herry menegaskan WIKA perlu memperoleh pengembalian dana investasi dari pengambilalihan saham tersebut berdasarkan harga yang disepakati dan sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki perseroan di PSBI.

 

Menurut dia, pengambilalihan saham WIKA di PSBI oleh pemerintah seharusnya dilakukan melalui skema divestasi atau jual-beli saham, bukan hibah. Selain itu, penyelesaian pengambilalihan tersebut harus mencakup pengembalian dana investasi yang telah disetorkan WIKA sekitar Rp 6 triliun kepada PSBI.

 

"Skema ini perlu menjadi pilihan, karena BUMN seperti WIKA, sudah menggelontorkan dana ke PSBI, dan semuanya harus dipertanggungjawabkan ke publik, baik dari sisi transparansi maupun akuntabilitas. Bukan dengan cara hibah," ujar Herry.

 

Herry menjelaskan mekanisme pengambilalihan saham WIKA di PSBI melalui skema divestasi dapat menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan, termasuk investor, terhadap pemerintah maupun BUMN.

 

"Mekanisme bisnis melalui divestasi atau pelimpahan kepemilikan melalui mekanisme bisnis tersebut penting untuk dijaga oleh pemerintah, demi menjaga kepercayaan para investor," ujar Herry.

 

Apabila pengambilalihan saham tersebut tidak dilakukan secara business to business, Herry mengingatkan adanya potensi dampak terhadap keberlanjutan perusahaan. Hal itu mengingat tingginya utang yang digunakan untuk membiayai proyek tersebut serta potensi munculnya persepsi negatif investor terhadap BUMN lain yang tercatat di pasar modal.

 

"Kalau perpindahan sahamnya dilakukan bukan dengan cara bisnis artinya ada transaksi jual-beli saham atau kepemilikan, ini bisa berpengaruh pada keberlanjutan usaha terhadap BUMN lain yang sudah jadi perusahaan terbuka," ujar Herry.

 

Sebelumnya, WIKA menerima penugasan dari pemerintah untuk menginvestasikan sekitar Rp 6 triliun ke PSBI, yang merupakan pemegang 60% saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Dana investasi tersebut diperoleh WIKA melalui pinjaman perbankan, sukuk, hingga obligasi. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada tingginya beban utang yang harus ditanggung perusahaan setiap tahun.

 

Beban tersebut terutama berasal dari penyelesaian utang sukuk dan obligasi yang berlarut-larut sehingga berdampak langsung terhadap masyarakat dan institusi pemegang surat berharga, termasuk lembaga pengumpul dana investasi masyarakat seperti lembaga dana pensiun (Dapen).

 

Apabila pengambilalihan saham WIKA di PSBI disertai pengembalian dana investasi sebesar Rp 6 triliun, langkah tersebut diproyeksikan dapat menghindarkan WIKA dari potential loss sekitar Rp 2 triliun per tahun yang berasal dari beban bunga pinjaman serta kewajiban menyerap kerugian PSBI.

 

Selain itu, kewajiban WIKA terhadap para kreditur, termasuk masyarakat dan pensiunan melalui Dapen, dapat tetap dipenuhi. Dengan demikian, saham WIKA yang telah hampir dua tahun disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi dapat diperdagangkan kembali.

 

Sebagai informasi, proyek Whoosh dikerjakan oleh PT KCIC. Sebanyak 60% saham KCIC dimiliki PSBI, sedangkan 40% saham lainnya dimiliki Beijing Yawan HSR Co Ltd.


×
Berita Terbaru Update