-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dana Moneter Internasional (IMF) meminta pemerintah mempertimbangkan empat hal sebelum menentukan bentuk bantuan ketika harga pangan melonjak

Senin, 21 September 2026 | September 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-20T20:32:56Z

 


Dana Moneter Internasional (IMF) meminta pemerintah mempertimbangkan empat hal sebelum menentukan bentuk bantuan ketika harga pangan melonjak.

 

Empat pertanyaan yang perlu dijawab pemerintah adalah apakah pangan tersedia, apakah harga masih terjangkau, apakah pasar berfungsi dengan baik, dan apakah penerima bantuan dapat ditargetkan secara tepat.

 

Rekomendasi tersebut disampaikan Wakil Kepala Unit sekaligus Kepala Misi IMF untuk Kosovo dan Bosnia dan Herzegovina David Amaglobeli bersama tiga rekannya. IMF menyoroti dua tekanan yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, yakni potensi El Nino yang lebih kuat hingga kategori super dan eskalasi konflik di Timur Tengah.

 

Konflik tersebut berpotensi mengganggu pasokan pupuk dan energi. Kondisi itu kemudian dapat meningkatkan biaya produksi petani dan memberikan tekanan terhadap harga pangan.

 

IMF mencatat harga sejumlah jenis pupuk sempat melonjak hampir 50% setelah perang di Timur Tengah pecah pada awal tahun ini. Meskipun harga pupuk kemudian kembali normal, kenaikan tersebut bertepatan dengan musim tanam di sejumlah negara. Karena itu, dampaknya terhadap produksi, pendapatan petani, dan harga pangan masih berpotensi terasa pada musim panen saat ini.

 

Risiko tersebut memiliki preseden. El Nino 2015-2016 diperkirakan memengaruhi ketahanan pangan sekitar 60 juta orang di dunia. Sementara itu, lonjakan harga pangan pada 2022 akibat perang Rusia-Ukraina mendorong sekitar 71 juta orang ke dalam kemiskinan hanya dalam tiga bulan.

 

Beban tersebut semakin berat di negara dengan penghasilan rendah karena belanja makanan dapat menyerap lebih dari separuh pengeluaran rumah tangga.

 

Menurut IMF, subsidi harga kerap menjadi respons awal pemerintah ketika terjadi krisis pangan karena dapat diterapkan dengan cepat dan tidak membutuhkan kemampuan administratif untuk menargetkan penerima dalam jumlah besar.

 

Namun, kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi fiskal. Subsidi berpotensi dinikmati rumah tangga berpenghasilan lebih tinggi yang mengonsumsi lebih banyak pangan, sementara manfaatnya bagi kelompok rentan belum tentu optimal.

 

“Ketika krisis terjadi, subsidi harga sering kali menjadi respons pertama. Subsidi dapat diterapkan dengan cepat dan membutuhkan kapasitas penargetan administratif yang terbatas, sehingga menarik ketika kecepatan sangat penting. Namun, subsidi juga merupakan instrumen yang mahal, sering kali menguntungkan rumah tangga yang lebih kaya yang mengonsumsi lebih banyak dan kurang sensitif terhadap harga,” ungkap Amaglobeli dalam laporan tersebut, dikutip Minggu (20/9/2026).

 

IMF menyarankan subsidi harga tidak dijadikan pilihan utama. Jika tetap digunakan, kebijakan tersebut harus bersifat luar biasa, sementara, transparan, dan memiliki batas yang jelas.

 

Pemerintah juga disarankan membiarkan harga domestik mencerminkan perkembangan biaya di pasar internasional. Pada saat yang sama, rumah tangga rentan dan usaha kecil yang layak dapat dilindungi melalui kebijakan fiskal yang sementara dan terarah.

Alternatif lainnya adalah voucher pangan. Skema ini memungkinkan bantuan diarahkan kepada kelompok yang paling membutuhkan, tetapi efektivitasnya bergantung pada kemampuan pemerintah mengidentifikasi penerima melalui sistem registrasi sosial dan infrastruktur pembayaran digital.

 

Persoalannya, bantuan tunai maupun voucher tidak akan banyak membantu apabila pangan secara fisik tidak tersedia.

 

Gangguan perdagangan akibat konflik, hambatan ekspor dan impor, persoalan logistik, hingga bencana alam dapat mengurangi pasokan pangan. Saat El Nino 2015-2016, misalnya, produksi beras Vietnam turun signifikan akibat kekeringan dan intrusi air asin. Sebagian petani bahkan kehilangan hingga 90% hasil panen. Di Afrika bagian selatan, penurunan produksi jagung berdampak terhadap sekitar 40 juta orang.

 

Dalam kondisi seperti itu, bantuan pangan secara langsung dalam bentuk barang dapat menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, IMF mengingatkan biaya program tersebut relatif tinggi. Jika berlangsung terlalu lama, bantuan dapat menekan permintaan terhadap pangan produksi lokal, menurunkan harga, serta mengurangi insentif petani dan produsen domestik untuk meningkatkan produksi.

Di Indonesia, tekanan harga pangan turut terlihat dalam inflasi Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21% setelah Indonesia mengalami deflasi pada Juli 2026.

 

Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,19%, sedangkan inflasi sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat 1,86%.

 

Peningkatan permintaan daging ayam ras menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi pangan. Permintaan tersebut meningkat setelah program makan bergizi gratis (MBG) kembali berjalan seusai libur sekolah.

 

IMF mengingatkan kebijakan bantuan pangan juga perlu memperhitungkan kemampuan fiskal pemerintah. Program yang tidak dirancang secara tepat dapat menyerap anggaran dan mengurangi ruang pemerintah untuk membiayai investasi jangka panjang, seperti riset, infrastruktur pertanian, kesehatan, dan pendidikan.

 

Karena itu, IMF menilai pemerintah perlu memiliki strategi keluar yang jelas sejak awal. Program yang awalnya dirancang sebagai respons sementara terhadap krisis berisiko menjadi permanen apabila sudah dipandang sebagai hak masyarakat.

 

Pemerintah juga disarankan mempersiapkan transisi menuju bantuan yang lebih tepat sasaran dan efisien ketika kondisi darurat mulai mereda. IMF menekankan tidak ada satu skema bantuan pangan yang dapat diterapkan secara universal sehingga setiap negara perlu menilai kondisi pasokan, keterjangkauan harga, fungsi pasar, dan kemampuan administratif sebelum menentukan kebijakan.

 

×
Berita Terbaru Update