Pemerintah China berharap Menteri Keuangan Suahasil Nazara
menghadiri pertemuan para menteri keuangan negara anggota APEC yang dijadwalkan
berlangsung di Hong Kong pada Oktober 2026. Suahasil disebut telah menyatakan
kesediaannya untuk menghadiri agenda tersebut.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan
mengungkapkan permintaan tersebut disampaikan dalam rangkaian pertemuannya
dengan sejumlah pejabat tinggi China di Beijing.
"Dalam perbincangan saya, mereka tanya, ‘Bisa tidak Pak
Menteri Suahasil hadir di APEC Ministerial Meeting di Hong Kong?’. Saya telepon
Pak Sua, dan Pak Sua akan hadir. Mereka senang," kata Luhut di Beijing,
Jumat (18/9/2026), dikutip dari Antara.
Hong Kong dijadwalkan menjadi tuan rumah APEC Finance
Ministers’ Meeting pada Oktober 2026. Pertemuan tersebut akan dihadiri para
menteri keuangan dan pejabat senior keuangan dari 21 ekonomi anggota APEC serta
perwakilan organisasi internasional.
Agenda itu menjadi bagian dari rangkaian APEC 2026 sebelum
pertemuan para pemimpin ekonomi APEC yang akan berlangsung di Shenzhen pada
November. Selain kehadiran Suahasil, Luhut mengatakan pemerintah China juga
menaruh perhatian terhadap kelanjutan Panda Bond Indonesia.
"Juga mereka ingin agar Pak Sua melanjutkan Panda Bond
dan Pak Sua mau, jadi mereka senang sekali," tambah Luhut.
Pernyataan itu disampaikan setelah Luhut bertemu sejumlah
pejabat China, di antaranya Menteri Luar Negeri Wang Yi, Sekretaris Jenderal
Komite Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China (CPPCC) Wang
Dongfeng, serta Ketua Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) Zheng
Shanjie.
Dalam pertemuannya dengan Wang Yi, Luhut mengatakan China
turut menyoroti pentingnya kepastian kebijakan bagi pelaku usaha dan investor.
"Saat pertemuan dengan Menlu Wang Yi, dia hanya minta
kepastianlah, kepastian aturan. Kalau ada perubahan aturan, jangan tiba-tiba. Mereka
juga paham aturan bisa berubah, tapi jangan kaget-kaget. Ya, saya jelaskan
karena Indonesia masih dalam masa transisi. Sekarang setelah 1-2 tahun sudah
mulai ada aturan tetap," jelas Luhut.
Sebelum berada di Beijing, Luhut juga menghadiri undangan
Dewan Ekonomi dan Sosial China (CESC) di Hangzhou pada 15 September 2026.
Pertemuan tersebut diikuti perwakilan dari sekitar 20 negara.
"Di sana ada 20 negara, jadi kita bertukar pandangan.
Saya baca di sana negara-negara Global South ingin bersatu karena sekarang
dunia terfragmentasi, ketidakjelasan soal perang Iran-AS dan kapan Selat Hormuz
dibuka. Dampaknya masih luas dan susah diprediksi," ungkap Luhut.
Menurut Luhut, Indonesia tetap mempertahankan pendekatan
politik luar negeri yang tidak berpihak pada satu blok kekuatan tertentu serta
tetap menjalin kerja sama dengan berbagai negara.
Ia juga menilai fondasi ekonomi domestik menjadi modal
Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.
"Modal kita cukup kuat: ekonomi tumbuh 5,1%, inflasi
terkendali di bawah 3%, rasio utang masih di bawah 40%, jauh lebih sehat dari
banyak negara maju," kata Luhut.
Dalam kunjungan tersebut, Luhut didampingi Wakil Ketua DEN
Mari Elka Pangestu, Sekretaris Eksekutif DEN Setiwan Hario Seto, Direktur
Eksekutif DEN Mochammad Firman Hidayat, anggota DEN Heriyanto Irawan, serta
Penasihat Khusus Bidang Hubungan Internasional Jona Widhagdo Putri