-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Eskalasi serangan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terhadap Arab Saudi sejak akhir pekan lalu menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga negara Indonesia (WNI)

Jumat, 16 Oktober 2026 | Oktober 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-15T19:41:38Z

  


Eskalasi serangan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terhadap Arab Saudi sejak akhir pekan lalu menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga negara Indonesia (WNI), kelancaran perjalanan umrah, hingga stabilitas harga minyak dunia. Gangguan terhadap produksi dan distribusi minyak menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai, terutama jika serangan menyasar fasilitas energi strategis.

 

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Idham Badruzaman, mengatakan, gangguan terhadap operasional perusahaan minyak Saudi Aramco berpotensi mengancam pasokan minyak global.

 

Kekhawatiran tersebut menguat setelah salah satu gedung di kompleks kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran menjadi sasaran serangan pada Selasa (13/10/2026) malam. Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan serangan itu menyebabkan kebakaran terbatas tanpa korban jiwa maupun luka-luka.

 

“Belum dapat dipastikan seberapa besar serangan ini akan mengganggu produksi dan distribusi Aramco. Namun, jika produksinya terganggu, harga minyak dunia dapat meningkat karena belum tentu terdapat pemasok lain yang mampu segera menggantikan pasokan tersebut,” ujar Idham pada Kamis (15/10/2026).

 

 

Posisi Saudi Aramco, dikatakan Idham, sebagai salah satu produsen minyak terbesar di dunia membuat setiap gangguan terhadap produksi maupun distribusinya berpotensi memengaruhi pasar energi internasional, termasuk Indonesia.

 

Keamanan WNI di Saudi Disorot

Selain dampak terhadap pasokan energi, keselamatan WNI di Arab Saudi juga menjadi perhatian setelah dua WNI mengalami luka ringan akibat serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Minggu (11/10/2026).

 

Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi insiden tersebut setelah menerima informasi dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi yang disampaikan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh pada Selasa (13/10/2026).

 

Kedua korban sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit di Riyadh dan diperbolehkan pulang pada hari yang sama. Keduanya merupakan WNI yang memiliki izin tinggal di Arab Saudi dan dipastikan bukan jemaah umrah.

 

Idham menjelaskan, perwakilan Indonesia di luar negeri telah memiliki protokol perlindungan WNI untuk menghadapi situasi darurat. Setelah insiden tersebut, KBRI Riyadh menyampaikan imbauan dan panduan keselamatan melalui kanal resmi serta menyebarluaskan kembali nomor layanan darurat.

 

“Setelah peristiwa ini terjadi, protokol perlindungan dijalankan. Di antaranya melalui penyampaian imbauan dan panduan bagi WNI di media sosial perwakilan RI serta penyebarluasan kembali nomor hotline yang dapat dihubungi sewaktu-waktu,” jelasnya.

 

Ia meminta WNI di Arab Saudi meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menghindari lokasi yang berpotensi menjadi sasaran serangan.

 

Menurut Idham, kelompok Houthi cenderung menyasar objek vital yang memiliki nilai strategis dan dapat menimbulkan dampak ekonomi besar apabila operasionalnya terganggu. Sasaran tersebut, antara lain, bandara dan fasilitas energi.

 

Umrah dan Haji Berpotensi Terdampak

Eskalasi serangan juga berpotensi mengganggu perjalanan jemaah umrah dan persiapan penyelenggaraan ibadah haji. Risiko tersebut dapat meningkat apabila serangan meluas ke infrastruktur penerbangan lainnya.

 

Bandara Internasional King Khalid merupakan salah satu pintu masuk bagi jemaah umrah, meskipun jumlah jemaah yang tiba melalui Riyadh tidak sebanyak yang menggunakan penerbangan menuju Jeddah atau Madinah.

 

Operasional bandara tersebut sempat dihentikan sementara setelah rangkaian serangan pada pekan sebelumnya. Berdasarkan pemberitahuan penerbangan yang dirujuk dalam keterangan tersebut, penutupan diperpanjang hingga Sabtu (17/10/2026) pukul 24.00 waktu setempat untuk memastikan keamanan dan kesiapan fasilitas.

 

Idham memperingatkan, kemungkinan serangan lanjutan terhadap bandara maupun objek vital lainnya tetap perlu diantisipasi. Karena itu, WNI dan calon jemaah yang hendak bepergian ke Arab Saudi harus memantau perkembangan situasi keamanan serta informasi resmi mengenai operasional penerbangan.

 

“Perbatasan darat Arab Saudi dan Yaman sangat luas sehingga serangan dapat dilancarkan dari berbagai titik. Saya rasa semua pihak masih terus mengamati perkembangannya,” pungkas Idham.

×
Berita Terbaru Update