-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Kamis, 08 Oktober 2026 | Oktober 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-07T18:16:40Z

 


Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Namun, potensi tersebut perlu diolah melalui kebijakan yang saling terhubung agar mampu menghasilkan produktivitas, nilai tambah, pekerjaan berkualitas, dan kesejahteraan.

 

Menurut Anggito, pembangunan ekonomi jangka panjang setidaknya bertumpu pada lima hal, yakni peningkatan investasi, perdagangan yang lebih kuat, pendalaman industrialisasi, pendalaman sektor keuangan, serta penguatan kepercayaan. Kelimanya perlu berjalan dalam satu siklus yang saling memperkuat.

 

Satu sendok sebelum tidur, turunkan 16 kg hanya dalam 2 minggu!

“Investment yang meningkatkan produksi. Industry yang meningkatkan ekspor. Ekspor menghasilkan devisa. Sektor keuangan mengubah tabungan dan devisa menjadi investasi baru. Growth creates financing. Financing creates investment. Investment creates better growth,” kata Anggito.

 

Dalam konteks tersebut, Anggito menilai tabungan domestik perlu semakin mampu disalurkan menjadi investasi produktif di dalam negeri. Menurutnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan peningkatan sumber dana, tetapi juga sistem keuangan yang mampu menghubungkan tabungan dan sumber pembiayaan lainnya dengan kebutuhan investasi jangka panjang.

 

 “Domestic saving harus menjadi domestic investment. Global saving harus kita tarik menjadi Indonesian investment,” ujarnya.

 

Menurutnya, lima siklus tersebut tidak akan berjalan optimal jika kebijakan ekonomi bergerak sendiri-sendiri. Fiskal harus menjadi katalis, sementara kebijakan moneter dan sektor keuangan menjaga stabilitas sekaligus menyediakan pembiayaan jangka panjang. Di sisi lain, industri, perdagangan, sumber daya manusia, regulasi, dan kelembagaan perlu mendukung arah transformasi yang sama.

 

“Jadi kita memerlukan satu ekosistem reformasi,” tegasnya.

 

Anggito menilai hilirisasi tanpa industrialisasi akan berhenti pada bahan antara, sedangkan industrialisasi tanpa perdagangan akan kehilangan skala. Keduanya juga membutuhkan pembiayaan agar transformasi ekonomi dapat berjalan secara berkelanjutan.

 

Ia juga menegaskan bahwa stabilitas dan pertumbuhan maupun modal domestik dan modal asing tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dibutuhkan selama dapat diarahkan menjadi investasi produktif di Indonesia.

 

“Persoalannya bukan memilih salah satu. Persoalannya bagaimana mengelola yang dalam satu arah transformasi nasional,” ujarnya.

 

Hal tersebut disampaikan Anggito dalam keynote speech pada acara Investor Daily Summit 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (7/10/2026). Ia menyampaikan pandangannya dalam sesi bertajuk Anchoring Indonesia's Long-Term Development Ambitions, yang merupakan bagian dari tema besar Investor Daily Summit 2026, Indonesian Economic Model.

 

Menurut Anggito, pertumbuhan ekonomi sekitar 5% menunjukkan resiliensi Indonesia, tetapi belum cukup untuk membawa Indonesia melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi. Karena itu, kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, investasi, perdagangan, dan industri perlu bergerak dalam arah yang selaras.

 

Ia menekankan, keselarasan tersebut juga membutuhkan kesinambungan kebijakan. Pemerintah dan pejabat dapat berganti, tetapi arah transformasi ekonomi tidak seharusnya selalu dimulai dari nol.

 

“Pemerintah boleh berganti, pejabat boleh berganti, tetapi arah transformasi ekonomi tidak boleh selalu dimulai kembali dari nol. Kita membutuhkan institutional continuity. Fiskal, moneter, sektor keuangan, investasi, perdagangan dan industri harus bergerak dalam satu arah. Jangan menjadi silo-silo kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri,” pungkasnya.

×
Berita Terbaru Update