Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Anggito Abimanyu menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Namun, potensi tersebut perlu diolah melalui
kebijakan yang saling terhubung agar mampu menghasilkan produktivitas, nilai
tambah, pekerjaan berkualitas, dan kesejahteraan.
Menurut Anggito, pembangunan ekonomi jangka panjang
setidaknya bertumpu pada lima hal, yakni peningkatan investasi, perdagangan
yang lebih kuat, pendalaman industrialisasi, pendalaman sektor keuangan, serta
penguatan kepercayaan. Kelimanya perlu berjalan dalam satu siklus yang saling
memperkuat.
Satu sendok sebelum tidur, turunkan 16 kg hanya dalam 2
minggu!
“Investment yang meningkatkan produksi. Industry yang
meningkatkan ekspor. Ekspor menghasilkan devisa. Sektor keuangan mengubah
tabungan dan devisa menjadi investasi baru. Growth creates financing. Financing
creates investment. Investment creates better growth,” kata Anggito.
Dalam konteks tersebut, Anggito menilai tabungan domestik
perlu semakin mampu disalurkan menjadi investasi produktif di dalam negeri.
Menurutnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan peningkatan sumber dana, tetapi
juga sistem keuangan yang mampu menghubungkan tabungan dan sumber pembiayaan
lainnya dengan kebutuhan investasi jangka panjang.
“Domestic saving
harus menjadi domestic investment. Global saving harus kita tarik menjadi
Indonesian investment,” ujarnya.
Menurutnya, lima siklus tersebut tidak akan berjalan optimal
jika kebijakan ekonomi bergerak sendiri-sendiri. Fiskal harus menjadi katalis,
sementara kebijakan moneter dan sektor keuangan menjaga stabilitas sekaligus
menyediakan pembiayaan jangka panjang. Di sisi lain, industri, perdagangan,
sumber daya manusia, regulasi, dan kelembagaan perlu mendukung arah
transformasi yang sama.
“Jadi kita memerlukan satu ekosistem reformasi,” tegasnya.
Anggito menilai hilirisasi tanpa industrialisasi akan
berhenti pada bahan antara, sedangkan industrialisasi tanpa perdagangan akan
kehilangan skala. Keduanya juga membutuhkan pembiayaan agar transformasi
ekonomi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Ia juga menegaskan bahwa stabilitas dan pertumbuhan maupun
modal domestik dan modal asing tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dibutuhkan
selama dapat diarahkan menjadi investasi produktif di Indonesia.
“Persoalannya bukan memilih salah satu. Persoalannya
bagaimana mengelola yang dalam satu arah transformasi nasional,” ujarnya.
Hal tersebut disampaikan Anggito dalam keynote speech pada
acara Investor Daily Summit 2026 di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (7/10/2026). Ia
menyampaikan pandangannya dalam sesi bertajuk Anchoring Indonesia's Long-Term
Development Ambitions, yang merupakan bagian dari tema besar Investor Daily
Summit 2026, Indonesian Economic Model.
Menurut Anggito, pertumbuhan ekonomi sekitar 5% menunjukkan
resiliensi Indonesia, tetapi belum cukup untuk membawa Indonesia melompat
menjadi negara berpenghasilan tinggi. Karena itu, kebijakan fiskal, moneter,
sektor keuangan, investasi, perdagangan, dan industri perlu bergerak dalam arah
yang selaras.
Ia menekankan, keselarasan tersebut juga membutuhkan
kesinambungan kebijakan. Pemerintah dan pejabat dapat berganti, tetapi arah
transformasi ekonomi tidak seharusnya selalu dimulai dari nol.
“Pemerintah boleh berganti, pejabat boleh berganti, tetapi
arah transformasi ekonomi tidak boleh selalu dimulai kembali dari nol. Kita
membutuhkan institutional continuity. Fiskal, moneter, sektor keuangan,
investasi, perdagangan dan industri harus bergerak dalam satu arah. Jangan
menjadi silo-silo kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri,” pungkasnya.
