Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menyelidiki laporan
kemungkinan kasus kedua wabah pneumonia di Rusia, setelah seorang pekerja
laboratorium meninggal dunia akibat penyakit yang diduga berkaitan dengan paparan
patogen berbahaya.
Para pejabat kesehatan global mendesak Moskwa bersikap
transparan menyusul kematian seorang pekerja laboratorium bernama Daria
Shipilova, di Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk di Shelekhov.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus,
mengonfirmasi pihaknya telah meminta informasi tambahan dari otoritas kesehatan
Rusia mengenai karyawan kedua yang menunjukkan gejala pneumonia tanpa penyebab
yang jelas.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa (6/10/2026) malam
waktu setempat, Tedros mendesak Rusia merilis seluruh informasi yang diketahui
mengenai wabah tersebut.
“Berbagi informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan
sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional sangat penting untuk
mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan dan memungkinkan penilaian
yang akurat tentang potensi risiko kesehatan masyarakat,” kata Tedros, dilansir
dari The Independent UK, Rabu (7/10/2026).
Shipilova dirawat di rumah sakit pada akhir September lalu
karena mengalami gagal napas akut. Ketika dirawat di rumah sakit, perempuan
berusi 28 tahun tersebut harus dipasangi alat bantu pernapasan sebelum
meninggal dunia pada Jumat (2/10/2026).
Menurut laporan media lokal, Shipilova terpapar patogen
berbayaha setelah tidak sengaja memecahkan tabung sampel biologis saat
menjalankan pekerjaan rutinnya di laboratorium.
Namun, ahli epidemiologi senior Rusia, Mikhail Favorov,
meragukan laporan tersebut. Saat diwawancara The Moscow Times awal pekan ini,
Favorov mengatakan personel di institut tersebut bekerja dengan mengenakan
pakaian pelindung atau alat pelindung diri (APD) lengkap.
Sementara itu, media berita independen Rusia, Lyudi Baikal,
melaporkan seorang individu kedua dengan gejala gangguan pernapasan berat
meninggal dunia di fasilitas medis regional Irkutsk. Namun, laporan tersebut
belum diverifikasi secara mandiri.
Sebelumnya, setidaknya 197 orang yang diidentifikasi sebagai
kontak langsung maupun tidak langsung dengan Shipilova masih menjalani isolasi
medis. Sekitar 100 orang di antaranya saat ini dipantau di kamar perawatan
rumah sakit.
