Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) membatasi kenaikan
harga emas pada perdagangan Senin (5/10/2026). Namun, harga emas tetap bergerak naik didukung
meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dalam
waktu dekat serta kekhawatiran terhadap peningkatan utang pemerintah Amerika
Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, harga emas spot pada Senin malam naik
0,4% menjadi US$ 4.159,89 per ons troi pada. Sementara itu, harga emas
berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 0,64% menjadi US$ 4.188,70 per ons
troi.
Indeks dolar AS menguat 0,3%. Penguatan dolar membuat emas
yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang
lainnya, sehingga membatasi permintaan terhadap logam mulia tersebut.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, peningkatan utang
pemerintah AS menjadi salah satu faktor struktural yang menopang harga emas.
Menurutnya, emas masih mampu bertahan relatif kuat meskipun menghadapi tekanan
dari suku bunga yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS.
“Kami terus melihat peningkatan tingkat utang pemerintah
sebagai faktor pendukung struktural bagi emas,” kata Staunovo.
Pada Agustus 2026, total utang pemerintah AS untuk pertama
kalinya menembus US$ 40 triliun. Kondisi tersebut memunculkan kembali
kekhawatiran mengenai potensi krisis fiskal di negara tersebut.
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi perubahan ekspektasi
pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Ekspektasi kenaikan suku bunga pada
Oktober 2026 mereda tajam setelah pertumbuhan lapangan kerja AS pada September
2026 melambat lebih dari perkiraan. Data nonfarm payrolls untuk dua bulan
sebelumnya juga direvisi turun secara signifikan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini
memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober 2026 hanya
sebesar 18%. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2026 masih
mencapai 69%.