Pergerakan harga Bitcoin berfluktuasi di tengah
ketidakpastian ekonomi global menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat
(AS). Penguatan dolar AS, ekspektasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve
(The Fed), hingga arus dana investasi menjadi sejumlah faktor yang dicermati
investor.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (13/10/2026)
pukul 21.30 WIB, harga Bitcoin berada di US$ 83.646, naik 0,99% dalam 24 jam
terakhir. Posisi ini berbalik dari perdagangan pagi saat Bitcoin berada di
kisaran US$ 82.400, turun 1,45% dalam 24 jam.
Pelaku pasar kini menantikan rilis indeks harga konsumen
atau consumer price index (CPI) AS periode September 2026 pada Rabu
(14/10/2026). Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi
ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menuturkan
pergerakan Bitcoin perlu dilihat dalam konteks ekonomi global yang lebih luas,
termasuk perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan
ketidakpastian geopolitik.
“Perubahan ekspektasi
suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi
selera risiko investor,” ungkap Ryan dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Ryan menyebutkan data inflasi AS perlu dicermati karena
dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan ekspektasi suku bunga. Dolar AS
sendiri telah menguat mendekati level tertinggi dalam 18 bulan, didukung
permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian
geopolitik dan perhatian investor terhadap data inflasi.
Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat
memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi
tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan imbal hasil obligasi
pemerintah, sehingga minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin
dapat melemah.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan
berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter dan memberikan
sentimen positif bagi Bitcoin. Meski demikian, arah harga tetap bergantung pada
respons pasar dan faktor lainnya.
Selain inflasi, perkembangan harga minyak juga menjadi
perhatian. Ryan menjelaskan perubahan harga energi dapat memengaruhi inflasi
dan ekspektasi kebijakan suku bunga AS. Kenaikan harga minyak berpotensi
menambah tekanan inflasi, sedangkan penurunan harga energi dapat membantu
meredakannya.
Faktor lainnya adalah arus dana pada produk investasi
Bitcoin. Arus dana keluar dari produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF)
di Amerika Serikat dapat mengindikasikan berkurangnya permintaan terhadap
produk investasi tersebut dan berpotensi menekan harga Bitcoin.
Sementara itu, CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai
hasil rilis inflasi AS berpotensi memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam jangka
pendek. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat meningkatkan
kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dan menekan harga
Bitcoin hingga di bawah US$ 80.000.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan
berpotensi mendorong Bitcoin menuju US$ 86.000 atau lebih tinggi.
“Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar bisa
kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini
berpotensi menekan Bitcoin melalui penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil
obligasi pemerintah,” kata Yudho dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
Selain CPI, pasar juga akan mencermati data producer price
index (PPI) AS pada 15 Oktober dan pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada 16
Oktober. Kedua agenda tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor
terhadap arah kebijakan moneter AS.
Yudho juga menilai arus dana ETF Bitcoin masih menjadi
indikator penting untuk mencermati permintaan pasar. Menurutnya, pemulihan
harga Bitcoin akan lebih meyakinkan jika didukung oleh kembalinya arus dana
masuk ke ETF Bitcoin spot di AS.
Sebelumnya, arus dana keluar yang signifikan mencerminkan
permintaan investor terhadap produk tersebut yang belum konsisten.
“Selain arus dana ETF, harga minyak, ketegangan geopolitik,
data inflasi AS, dan arah kebijakan suku bunga The Fed juga perlu dicermati
karena dapat memengaruhi sentimen pasar,” imbuh Yudho.
Di tengah volatilitas tersebut, Yudho mengingatkan investor
agar tidak hanya berfokus pada target harga, tetapi juga menerapkan pengelolaan
risiko. Langkah tersebut antara lain mengatur ukuran posisi, menentukan batas
kerugian, serta berhati-hati dalam menggunakan leverage.
Ryan menambahkan dinamika Bitcoin pada Oktober 2026
menunjukkan pentingnya memahami hubungan antara kondisi ekonomi global dan
pasar aset digital. Penguatan dolar AS, perkembangan harga minyak, ekspektasi
kebijakan moneter, serta arus investasi dapat memberikan konteks tambahan dalam
membaca pergerakan harga. Namun, tidak ada satu faktor yang dapat digunakan
secara terpisah untuk memastikan arah pasar berikutnya.
Di tengah dinamika tersebut, Bittime menyediakan layanan
perdagangan aset digital melalui Spot, Staking, dan Futures. Layanan Futures
menyediakan mekanisme perdagangan derivatif bagi pengguna yang ingin mengambil
posisi berdasarkan perkiraan pergerakan harga, baik naik maupun turun.
Namun demikian, Ryan menekankan fleksibilitas perdagangan
Futures perlu disertai pemahaman mengenai mekanisme transaksi, penggunaan
margin, dan risiko yang melekat pada produk derivatif.
Penggunaan leverage memungkinkan pengguna memiliki eksposur
perdagangan lebih besar dibandingkan margin yang digunakan. Namun, mekanisme
tersebut juga memperbesar potensi kerugian ketika pasar bergerak berlawanan
dengan posisi yang diambil.
“Keputusan yang terukur dimulai dari riset mandiri, pemahaman
terhadap instrumen yang digunakan, dan pengelolaan eksposur sesuai kemampuan
finansial. Tidak ada strategi yang menghilangkan seluruh risiko, terutama di
pasar yang volatil,” tutup Ryan.
