-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pergerakan harga Bitcoin berfluktuasi di tengah ketidakpastian ekonomi global menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar AS

Rabu, 14 Oktober 2026 | Oktober 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-13T18:23:44Z

 


Pergerakan harga Bitcoin berfluktuasi di tengah ketidakpastian ekonomi global menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar AS, ekspektasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), hingga arus dana investasi menjadi sejumlah faktor yang dicermati investor.

 

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (13/10/2026) pukul 21.30 WIB, harga Bitcoin berada di US$ 83.646, naik 0,99% dalam 24 jam terakhir. Posisi ini berbalik dari perdagangan pagi saat Bitcoin berada di kisaran US$ 82.400, turun 1,45% dalam 24 jam.

 

Pelaku pasar kini menantikan rilis indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS periode September 2026 pada Rabu (14/10/2026). Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

 

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menuturkan pergerakan Bitcoin perlu dilihat dalam konteks ekonomi global yang lebih luas, termasuk perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik.

 

 “Perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi selera risiko investor,” ungkap Ryan dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

 

Ryan menyebutkan data inflasi AS perlu dicermati karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan ekspektasi suku bunga. Dolar AS sendiri telah menguat mendekati level tertinggi dalam 18 bulan, didukung permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian geopolitik dan perhatian investor terhadap data inflasi.

 

Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah, sehingga minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin dapat melemah.

 

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter dan memberikan sentimen positif bagi Bitcoin. Meski demikian, arah harga tetap bergantung pada respons pasar dan faktor lainnya.

 

Selain inflasi, perkembangan harga minyak juga menjadi perhatian. Ryan menjelaskan perubahan harga energi dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi kebijakan suku bunga AS. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi, sedangkan penurunan harga energi dapat membantu meredakannya.

 

Faktor lainnya adalah arus dana pada produk investasi Bitcoin. Arus dana keluar dari produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) di Amerika Serikat dapat mengindikasikan berkurangnya permintaan terhadap produk investasi tersebut dan berpotensi menekan harga Bitcoin.

 

Sementara itu, CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai hasil rilis inflasi AS berpotensi memengaruhi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dan menekan harga Bitcoin hingga di bawah US$ 80.000.

 

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi mendorong Bitcoin menuju US$ 86.000 atau lebih tinggi.

 

“Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar bisa kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini berpotensi menekan Bitcoin melalui penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah,” kata Yudho dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

 

Selain CPI, pasar juga akan mencermati data producer price index (PPI) AS pada 15 Oktober dan pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada 16 Oktober. Kedua agenda tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter AS.

 

Yudho juga menilai arus dana ETF Bitcoin masih menjadi indikator penting untuk mencermati permintaan pasar. Menurutnya, pemulihan harga Bitcoin akan lebih meyakinkan jika didukung oleh kembalinya arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot di AS.

 

Sebelumnya, arus dana keluar yang signifikan mencerminkan permintaan investor terhadap produk tersebut yang belum konsisten.

 

“Selain arus dana ETF, harga minyak, ketegangan geopolitik, data inflasi AS, dan arah kebijakan suku bunga The Fed juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi sentimen pasar,” imbuh Yudho.

 

Di tengah volatilitas tersebut, Yudho mengingatkan investor agar tidak hanya berfokus pada target harga, tetapi juga menerapkan pengelolaan risiko. Langkah tersebut antara lain mengatur ukuran posisi, menentukan batas kerugian, serta berhati-hati dalam menggunakan leverage.

 

Ryan menambahkan dinamika Bitcoin pada Oktober 2026 menunjukkan pentingnya memahami hubungan antara kondisi ekonomi global dan pasar aset digital. Penguatan dolar AS, perkembangan harga minyak, ekspektasi kebijakan moneter, serta arus investasi dapat memberikan konteks tambahan dalam membaca pergerakan harga. Namun, tidak ada satu faktor yang dapat digunakan secara terpisah untuk memastikan arah pasar berikutnya.

 

Di tengah dinamika tersebut, Bittime menyediakan layanan perdagangan aset digital melalui Spot, Staking, dan Futures. Layanan Futures menyediakan mekanisme perdagangan derivatif bagi pengguna yang ingin mengambil posisi berdasarkan perkiraan pergerakan harga, baik naik maupun turun.

 

Namun demikian, Ryan menekankan fleksibilitas perdagangan Futures perlu disertai pemahaman mengenai mekanisme transaksi, penggunaan margin, dan risiko yang melekat pada produk derivatif.

 

Penggunaan leverage memungkinkan pengguna memiliki eksposur perdagangan lebih besar dibandingkan margin yang digunakan. Namun, mekanisme tersebut juga memperbesar potensi kerugian ketika pasar bergerak berlawanan dengan posisi yang diambil.

 

“Keputusan yang terukur dimulai dari riset mandiri, pemahaman terhadap instrumen yang digunakan, dan pengelolaan eksposur sesuai kemampuan finansial. Tidak ada strategi yang menghilangkan seluruh risiko, terutama di pasar yang volatil,” tutup Ryan.

×
Berita Terbaru Update