-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Banjir yang melanda Desa Cirumpak, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, masih belum sepenuhnya surut

Kamis, 29 Januari 2026 | Januari 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-28T20:25:06Z

 


Banjir yang melanda Desa Cirumpak, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, masih belum sepenuhnya surut. Hingga Rabu (28/1/2026), sebanyak 890 rumah dilaporkan masih tergenang air akibat luapan Sungai Cimanceuri dan Sungai Cipasilian.

Pantauan di lokasi menunjukkan genangan air masih menguasai sejumlah kawasan permukiman dengan ketinggian sekitar 30 cm hingga 50 cm. Meski lebih rendah dibandingkan kondisi awal banjir pada Senin (26/1/2026) yang sempat mencapai 80 cm, air belum juga sepenuhnya meninggalkan rumah warga.

Sejumlah ruas jalan desa yang sebelumnya terendam kini mulai bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun, sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian darurat yang didirikan di tepi jalan karena rumah mereka belum dapat dihuni.

Sekretaris Desa Cirumpak, Ahmad Yani, menyampaikan, banjir di wilayahnya memang berangsur surut, tetapi genangan masih bertahan di kawasan permukiman yang memiliki kontur tanah lebih rendah dibandingkan permukaan sungai.

“Air di sungai sudah kembali normal, tetapi di beberapa titik permukiman masih tergenang karena kondisi tanahnya lebih rendah,” kata Yani.

Ia mencatat, banjir kali ini berdampak pada 2.127 jiwa dari 942 keluarga. Menurutnya, genangan air cenderung stagnan dan sulit surut tanpa adanya perbaikan sistem aliran sungai.

Yani menambahkan, Desa Cirumpak termasuk wilayah yang kerap dilanda banjir. Namun, banjir pada Januari 2026 ini dinilai sebagai yang terparah karena genangan bertahan sejak Kamis (22/1/2026) hingga hampir sepekan kemudian.

 “Biasanya banjir cepat surut. Namun, kali ini air lama bertahan di permukiman warga,” ujarnya.

Ia menilai, sedimentasi yang tinggi serta belum adanya tanggul pengaman di sepanjang Sungai Cimanceuri dan Cipasilian menjadi penyebab utama banjir berulang. Endapan lumpur di alur sungai juga terlihat jelas setelah debit air kembali normal.

Menurut Yani, usulan normalisasi sungai dan pembangunan tanggul sebenarnya telah berulang kali disampaikan warga melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Namun hingga kini, usulan tersebut belum terealisasi.

“Kami sudah berkali-kali mengajukan, bahkan sampai ke tingkat kementerian, tetapi belum ada tindak lanjut nyata,” tegasnya.

Atas kondisi tersebut, pemerintah desa bersama warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melakukan normalisasi sungai dan pembangunan tanggul guna mencegah banjir serupa terulang setiap tahun.

“Mudah-mudahan kejadian ini menjadi perhatian serius. Kami berharap normalisasi sungai dan pembangunan tanggul bisa segera dilakukan agar warga tidak terus menjadi korban banjir,” pungkas Yani.

×
Berita Terbaru Update