Banjir yang melanda Desa Cirumpak, Kecamatan Kronjo,
Kabupaten Tangerang, masih belum sepenuhnya surut. Hingga Rabu (28/1/2026),
sebanyak 890 rumah dilaporkan masih tergenang air akibat luapan Sungai Cimanceuri
dan Sungai Cipasilian.
Pantauan di lokasi menunjukkan genangan air masih menguasai
sejumlah kawasan permukiman dengan ketinggian sekitar 30 cm hingga 50 cm. Meski
lebih rendah dibandingkan kondisi awal banjir pada Senin (26/1/2026) yang
sempat mencapai 80 cm, air belum juga sepenuhnya meninggalkan rumah warga.
Sejumlah ruas jalan desa yang sebelumnya terendam kini mulai
bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun, sebagian warga masih
bertahan di tenda pengungsian darurat yang didirikan di tepi jalan karena rumah
mereka belum dapat dihuni.
Sekretaris Desa Cirumpak, Ahmad Yani, menyampaikan, banjir
di wilayahnya memang berangsur surut, tetapi genangan masih bertahan di kawasan
permukiman yang memiliki kontur tanah lebih rendah dibandingkan permukaan
sungai.
“Air di sungai sudah kembali normal, tetapi di beberapa
titik permukiman masih tergenang karena kondisi tanahnya lebih rendah,” kata
Yani.
Ia mencatat, banjir kali ini berdampak pada 2.127 jiwa dari
942 keluarga. Menurutnya, genangan air cenderung stagnan dan sulit surut tanpa
adanya perbaikan sistem aliran sungai.
Yani menambahkan, Desa Cirumpak termasuk wilayah yang kerap
dilanda banjir. Namun, banjir pada Januari 2026 ini dinilai sebagai yang
terparah karena genangan bertahan sejak Kamis (22/1/2026) hingga hampir sepekan
kemudian.
“Biasanya banjir
cepat surut. Namun, kali ini air lama bertahan di permukiman warga,” ujarnya.
Ia menilai, sedimentasi yang tinggi serta belum adanya
tanggul pengaman di sepanjang Sungai Cimanceuri dan Cipasilian menjadi penyebab
utama banjir berulang. Endapan lumpur di alur sungai juga terlihat jelas setelah
debit air kembali normal.
Menurut Yani, usulan normalisasi sungai dan pembangunan
tanggul sebenarnya telah berulang kali disampaikan warga melalui forum
musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Namun hingga kini, usulan
tersebut belum terealisasi.
“Kami sudah berkali-kali mengajukan, bahkan sampai ke
tingkat kementerian, tetapi belum ada tindak lanjut nyata,” tegasnya.
Atas kondisi tersebut, pemerintah desa bersama warga
berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melakukan
normalisasi sungai dan pembangunan tanggul guna mencegah banjir serupa terulang
setiap tahun.
“Mudah-mudahan kejadian ini menjadi perhatian serius. Kami
berharap normalisasi sungai dan pembangunan tanggul bisa segera dilakukan agar
warga tidak terus menjadi korban banjir,” pungkas Yani.
