-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Gelombang aksi protes antipemerintah di Iran terus meluas selama lebih dari sepekan terakhir. Hal itu menempatkan Teheran pada tekanan domestik yang semakin berat di tengah meningkatnya ancaman

Rabu, 07 Januari 2026 | Januari 07, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-06T18:38:33Z

 



Gelombang aksi protes antipemerintah di Iran terus meluas selama lebih dari sepekan terakhir. Hal itu menempatkan Teheran pada tekanan domestik yang semakin berat di tengah meningkatnya ancaman intervensi Amerika Serikat (AS) oleh Presiden Donald Trump.

Melansir CNBC, Selasa (6/1/2025), kerusuhan yang dipicu krisis ekonomi berkepanjangan ini bermula di bazar Teheran pada 28 Desember 2025, sebelum menyebar ke berbagai wilayah. Data Human Rights Activists News Agency mencatat sedikitnya 29 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang ditangkap hingga Selasa. Aksi demonstrasi dilaporkan terjadi di lebih dari 250 lokasi di 27 dari 31 provinsi Iran.

Pemerintah Iran berupaya meredam situasi. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan pada akhir pekan lalu bahwa para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya, pernyataan yang dipahami luas sebagai sinyal keras bagi aparat keamanan untuk menghentikan demonstrasi.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil pendekatan lebih manusiawi. Ia menyerukan dialog serta menjanjikan reformasi ekonomi guna meredakan tuntutan publik terkait perubahan politik, pemberantasan korupsi, dan lonjakan biaya hidup.

Menurut laporan Reuters yang mengutip kantor berita Tasnim, pemerintah berencana memberikan bantuan elektronik bulanan sebesar 10 juta rial per orang dalam bentuk kredit non-tunai untuk kebutuhan pokok. Pemerintah juga berjanji mereformasi sistem subsidi valuta asing agar bantuan langsung menyasar konsumen, bukan importir yang kerap dikritik rawan korupsi.

Namun, keresahan publik tak surut. Aksi protes kini meluas dari isu ekonomi menjadi penolakan terhadap rezim, dengan sejumlah demonstran meneriakkan slogan 'Matilah diktator', yang merujuk pada Khamenei.

Situasi di Iran turut meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan intervensi AS. Dalam unggahan media sosial, Trump menyatakan AS siap membela demonstran jika diserang, serta menegaskan Washington 'siap siaga untuk bertindak' apbila kekerasan digunakan terhadap aksi damai.

Ancaman tersebut makin serius setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada akhir pekan lalu dan membawanya ke New York untuk diadili. Hal itu jadi langkah yang menimbulkan kekhawatiran Teheran akan pola kebijakan luar negeri agresif Washington.

Trump kembali menegaskan sikapnya pada Minggu saat berbicara di pesawat Air Force One.

“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” ujar Trump.

Analis unit riset Fitch Solutions menilai kepemimpinan Iran kini kemungkinan lebih berhati-hati dalam menggunakan kekerasan, mengingat rekam jejak Trump yang sebelumnya memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada 2025 sebagai dukungan terhadap Israel. “Kami melihat peningkatan risiko tindakan AS terhadap Iran pada awal 2026 jika protes meningkat,” tulis para analis.

Tekanan domestik Iran diperparah kondisi ekonomi yang memburuk sejak Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan kembali memperketat sanksi. Nilai tukar rial Iran anjlok tajam pada Desember 2025 hingga menyentuh rekor sekitar 1,45 juta rial per dolar AS, sementara inflasi melonjak ke 42,5%.

×
Berita Terbaru Update