Gelombang aksi protes antipemerintah di Iran terus meluas
selama lebih dari sepekan terakhir. Hal itu menempatkan Teheran pada tekanan
domestik yang semakin berat di tengah meningkatnya ancaman intervensi Amerika
Serikat (AS) oleh Presiden Donald Trump.
Melansir CNBC, Selasa (6/1/2025), kerusuhan yang dipicu
krisis ekonomi berkepanjangan ini bermula di bazar Teheran pada 28 Desember 2025,
sebelum menyebar ke berbagai wilayah. Data Human Rights Activists News Agency
mencatat sedikitnya 29 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang ditangkap hingga
Selasa. Aksi demonstrasi dilaporkan terjadi di lebih dari 250 lokasi di 27 dari
31 provinsi Iran.
Pemerintah Iran berupaya meredam situasi. Pemimpin Tertinggi
Iran Ali Khamenei menyatakan pada akhir pekan lalu bahwa para perusuh harus
ditempatkan pada tempatnya, pernyataan yang dipahami luas sebagai sinyal keras
bagi aparat keamanan untuk menghentikan demonstrasi.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengambil
pendekatan lebih manusiawi. Ia menyerukan dialog serta menjanjikan reformasi
ekonomi guna meredakan tuntutan publik terkait perubahan politik, pemberantasan
korupsi, dan lonjakan biaya hidup.
Menurut laporan Reuters yang mengutip kantor berita Tasnim,
pemerintah berencana memberikan bantuan elektronik bulanan sebesar 10 juta rial
per orang dalam bentuk kredit non-tunai untuk kebutuhan pokok. Pemerintah juga
berjanji mereformasi sistem subsidi valuta asing agar bantuan langsung menyasar
konsumen, bukan importir yang kerap dikritik rawan korupsi.
Namun, keresahan publik tak surut. Aksi protes kini meluas
dari isu ekonomi menjadi penolakan terhadap rezim, dengan sejumlah demonstran
meneriakkan slogan 'Matilah diktator', yang merujuk pada Khamenei.
Situasi di Iran turut meningkatkan kekhawatiran akan
kemungkinan intervensi AS. Dalam unggahan media sosial, Trump menyatakan AS
siap membela demonstran jika diserang, serta menegaskan Washington 'siap siaga
untuk bertindak' apbila kekerasan digunakan terhadap aksi damai.
Ancaman tersebut makin serius setelah pasukan AS menangkap
Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada akhir pekan lalu dan membawanya ke New
York untuk diadili. Hal itu jadi langkah yang menimbulkan kekhawatiran Teheran
akan pola kebijakan luar negeri agresif Washington.
Trump kembali menegaskan sikapnya pada Minggu saat berbicara
di pesawat Air Force One.
“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai
membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir
mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” ujar Trump.
Analis unit riset Fitch Solutions menilai kepemimpinan Iran
kini kemungkinan lebih berhati-hati dalam menggunakan kekerasan, mengingat
rekam jejak Trump yang sebelumnya memerintahkan serangan terhadap fasilitas
nuklir Iran pada 2025 sebagai dukungan terhadap Israel. “Kami melihat
peningkatan risiko tindakan AS terhadap Iran pada awal 2026 jika protes
meningkat,” tulis para analis.
Tekanan domestik Iran diperparah kondisi ekonomi yang
memburuk sejak Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018
dan kembali memperketat sanksi. Nilai tukar rial Iran anjlok tajam pada
Desember 2025 hingga menyentuh rekor sekitar 1,45 juta rial per dolar AS,
sementara inflasi melonjak ke 42,5%.