-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menilai penentuan penyebab banjir di sejumlah wilayah di Indonesia harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah

Jumat, 30 Januari 2026 | Januari 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-29T21:57:32Z

 


Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menilai penentuan penyebab banjir di sejumlah wilayah di Indonesia harus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang transparan. Publik maupun pemerintah diminta tidak menyimpulkan atau memvonis pihak tertentu sebagai penyebab banjir.

Menurut Ketua Umum IAGI STJ Budi Santoso secara ilmiah tidak tepat jika penyebab banjir langsung diarahkan kepada pihak tertentu tanpa kajian menyeluruh.

Budi mengingatkan banjir tidak dapat disederhanakan menjadi satu faktor tunggal, setiap kejadian bencana perlu dianalisis sejak awal berdasarkan kondisi material penyusun wilayah.

Pendekatannya memang multidisiplin. Faktor geologis, hidrologis, iklim, hingga kegiatan manusia harus dirunut satu per satu. Kita tidak bicara tentang siapa, tetapi melihat permasalahan secara objektif agar langkah mitigatif dan korektif yang diambil tepat sasaran. Diagnosisnya harus tepat agar obat yang diberikan sesuai," ujar Budi kepada wartawan, Kamis (29/1/2026).

Budi menambahkan, kondisi geologis suatu wilayah memiliki daya dukung yang berbeda-beda sehingga perlu menjadi referensi utama dalam menilai kerentanan dan risiko bencana.  

"Kita perlu melihat kasus-kasusnya. Ada area di mana bagian atasnya cukup terjaga, kegiatan manusia juga tidak banyak, pohon-pohon masih bagus, tetapi tetap terjadi banjir bandang. Hal seperti itu perlu dilihat secara objektif," tandasnya.Menurut dia, teknologi saat ini memungkinkan analisis lebih terukur, termasuk memanfaatkan citra satelit untuk melihat kondisi wilayah dalam rentang waktu tertentu sebelum kejadian. Dia menilai kajian tersebut tidak hanya untuk menjelaskan kejadian, tetapi juga untuk memperkuat pencegahan.

"Ini bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, tetapi lebih pada bagaimana kita mengantisipasi agar ke depan tidak terjadi lagi. Kalau pun terjadi, kita sudah punya langkah-langkah antisipatif atau mitigatif," jelas dia.

IAGI menilai, kesimpulan penyebab bencana yang tidak ditopang proses ilmiah berisiko menghasilkan langkah korektif yang keliru dan tidak menyentuh akar masalah. Budi menganalogikan obat yang diberikan tidak sesuai dengan hasil diagnosis.

Dalam konteks penguatan kebijakan, kata Budi IAGI mendorong agar analisis berbasis geosains dijadikan dasar utama dalam kebencanaan, tata ruang, dan pemanfaatan wilayah.

“Kami mendorong adanya regulasi setingkat undang-undang, yaitu undang-undang geologi atau undang-undang kebumian, agar muatannya cukup kuat dan aturan di bawahnya harus mengacu pada itu," imbuh dia.

×
Berita Terbaru Update