-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih. Teheran secara resmi memperingatkan negara-negara tetangga yang menampung pasukan Amerika Serikat (AS)

Kamis, 15 Januari 2026 | Januari 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-14T20:02:42Z

 


Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih. Teheran secara resmi memperingatkan negara-negara tetangga yang menampung pasukan Amerika Serikat (AS) bahwa pangkalan-pangkalan tersebut akan menjadi target serangan jika Washington melancarkan aksi militer terhadap Iran.

Ancaman ini muncul pada Rabu (14/1/2026) melalui pernyataan seorang pejabat senior Iran kepada Reuters. Langkah tersebut diambil Teheran sebagai upaya pencegahan atas ancaman Presiden Donald Trump yang berulang kali menyatakan akan melakukan intervensi guna mendukung para demonstran di Iran.

Tiga sumber diplomatik mengungkapkan bahwa sejumlah personel di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, telah disarankan untuk meninggalkan lokasi pada Rabu malam. Meski demikian, belum ada tanda-tanda evakuasi besar-besaran seperti yang terjadi tahun lalu sebelum serangan rudal Iran.

Seorang diplomat menggambarkan langkah tersebut sebagai "perubahan sikap" demi kewaspadaan, bukan perintah evakuasi resmi. Hingga saat ini, Kedutaan Besar AS di Doha dan Kementerian Luar Negeri Qatar belum memberikan komentar resmi terkait situasi di pangkalan yang menjadi markas Komando Pusat militer AS tersebut.

Presiden Donald Trump terus meningkatkan retorikanya terhadap Teheran. Hal ini dipicu oleh laporan kelompok hak asasi manusia yang menyebut sekitar 2.600 orang tewas dalam tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes antipemerintah.

Dalam wawancaranya dengan CBS News, Trump bersumpah akan mengambil tindakan sangat keras jika Iran melanjutkan eksekusi terhadap para demonstran. "Jika mereka menggantungnya, Anda akan melihat beberapa hal," ujar Trump dengan nada mengancam.

Trump juga sempat mendesak warga Iran melalui media sosial untuk terus melakukan demonstrasi dan mengambil alih lembaga pemerintah dengan menjanjikan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.

Menanggapi tekanan tersebut, pejabat senior Iran yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa Teheran telah menghubungi Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Turki. Pesannya jelas, cegah Washington menyerang Iran, atau pangkalan AS di negara-negara tersebut akan menjadi sasaran empuk.

Ketegangan ini juga berdampak pada jalur diplomasi. Kontak langsung antara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dan Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, dilaporkan telah ditangguhkan.

Meski arus informasi terhambat oleh pemadaman internet di Iran, kelompok hak asasi manusia HRANA memverifikasi sedikitnya 2.403 demonstran tewas. Di sisi lain, pemerintah Iran mengeklaim situasi mulai tenang dan menyebut kerusuhan tersebut dihasut oleh pihak asing, termasuk Israel dan AS.

Namun, laporan dari kelompok Hengaw menyebutkan bahwa eksekusi terhadap aktivis muda masih berlangsung, salah satunya menimpa Erfan Soltani (26) di Karaj.

Seorang pejabat Barat menilai bahwa meskipun aparat keamanan Iran masih memegang kendali, skala kerusuhan kali ini berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Posisi regional Iran yang melemah akibat tekanan terhadap sekutunya, seperti Hizbullah, membuat Teheran berada dalam posisi yang rentan.

Sebagai langkah antisipasi, Departemen Luar Negeri AS telah mendesak seluruh warga negara Amerika untuk segera meninggalkan Iran melalui jalur darat menuju Turki atau Armenia.

×
Berita Terbaru Update