Klub-klub Premier League tampil agresif pada bursa transfer musim panas lalu demi meningkatkan daya gedor lini serang. Total pengeluaran untuk mendatangkan pemain penyerang mencapai rekor £ 1,92 miliar atau sekitar Rp 38 triliun. Namun, investasi masif tersebut justru memunculkan pertanyaan besar: mengapa banyak striker kesulitan menunjukkan ketajaman mereka di lapangan musim ini?
Fenomena ini bahkan menimpa pemain sekelas Erling Haaland. Penyerang Manchester City itu menjadi satu dari hanya tiga pemain yang mampu menembus dua digit gol musim ini, bersama Igor Thiago dari Brentford dan rekrutan anyar City, Antoine Semenyo. Meski berada di papan atas daftar pencetak gol, Haaland tengah mengalami paceklik. Gagal mencetak gol saat menghadapi Manchester United, ia mencatatkan lima laga beruntun di Liga Inggris tanpa gol dari permainan terbuka, serta delapan pertandingan di semua kompetisi tanpa gol selain dari titik penalti.
Masalah ini bukan semata dialami Haaland. Sky Sport News, Rabu (21/1/2026) mencatat adanya tren penurunan produktivitas penyerang secara menyeluruh di Liga Inggris. Data menunjukkan rata-rata gol pemain depan kini turun ke level terendah dalam satu dekade, yakni 1,36 gol per pertandingan. Angka tersebut merosot dibanding musim lalu (1,58 gol) dan dua musim sebelumnya yang masih menyentuh 1,69 gol per laga.
Sejumlah nama lain juga menghadapi situasi serupa. Viktor Gyokeres memang sempat mencetak gol spektakuler dari luar kotak penalti saat Arsenal menang 3-1 atas Inter Milan. Namun, di Premier League, penyerang asal Swedia itu belum mencetak gol dari permainan terbuka dalam 10 pertandingan terakhir.

“Kondisi serupa dialami Benjamin Sesko di Manchester United yang baru mengoleksi empat gol dari 17 penampilan, serta Nick Woltemade di Newcastle United yang hanya mencetak satu gol dalam sembilan laga terakhir,” tulis Sky Sports News.
Penurunan ketajaman ini menjadi bagian dari tren yang lebih luas, yakni menurunnya jumlah gol dari permainan terbuka di seluruh liga. Sebaliknya, semakin banyak tim mengandalkan situasi bola mati sebagai senjata utama. Menariknya, pemain bertahan kini justru lebih sering berada di kotak penalti lawan untuk menyambut tendangan sudut atau bebas, sementara striker kerap terisolasi dan kesulitan mendapatkan ruang tembak ideal.
Manajer Arsenal, Mikel Arteta, menilai peran penyerang nomor 9 di era modern semakin sulit. Menurutnya, kualitas fisik dan disiplin bek tengah saat ini berada pada level yang sangat tinggi, sehingga ruang eksploitasi bagi striker semakin sempit. Dalam kasus Gyokeres, peralihan dari Liga Portugal ke Liga Inggris juga memperlihatkan perbedaan kualitas pertahanan yang signifikan, membuat keterbatasannya lebih terekspos.

Data statistik memperkuat pandangan tersebut. Kotak penalti kini menjadi area yang semakin padat oleh pemain. Jika pada musim 2019/2020 rata-rata terdapat 8,3 pemain di dalam kotak penalti saat serangan dibangun, jumlah itu kini meningkat menjadi 9,4 pemain. Penumpukan ini secara langsung memperkecil peluang penyerang untuk melepaskan tembakan bersih ke arah gawang.
Akar persoalan dari krisis ketajaman striker ini terletak pada strategi bertahan yang semakin rapat dan terorganisasi. Tim-tim hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga detik untuk merapatkan barisan begitu kehilangan bola. Dampaknya, celah menyerang menjadi sangat singkat. Hal ini tercermin pada pekan terakhir Liga Inggris, ketika 10 pertandingan hanya menghasilkan total 16 gol.
Bahkan, jumlah hasil imbang tanpa gol musim ini sudah mencapai 17 laga, melampaui catatan dua musim penuh sebelumnya. Bagi para striker, angka-angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa ruang gerak mereka kini benar-benar dikunci oleh taktik pertahanan modern.
