-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Puluhan rumah warga dan pondok pesantren (ponpes) di Desa Opo-opo dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur diterjang banjir bandang

Minggu, 18 Januari 2026 | Januari 18, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-17T18:09:50Z

 


Puluhan rumah warga dan pondok pesantren (ponpes) di Desa Opo-opo dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur diterjang banjir bandang, Sabtu (17/1/2026) malam. Sejumlah warga dan santri terpaksa mengungsi.

‎Banjir menggenangi permukiman warga setelah tanggul penahan air Sungai Rondoningo jebol akibat tidak mampu menahan volume debit air yang meningkat setelah wilayah itu diguyur hujan deras selama sekitar 5 jam.

Jebolnya tanggul membuat aliran air meluap dengan cepat ke perkampungan, menyebabkan air naik secara drastis dalam waktu singkat.

‎Tidak hanya merendam rumah warga, banjir bandang juga menerjang sejumlah pondok pesantren di wilayah Kabupaten Probolinggo.

‎Para santri terpaksa menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman, sementara sebagian lainnya berupaya mengamankan barang-barang berharga agar tidak hanyut atau terendam air.

‎Peristiwa banjir bandang tersebut sempat terekam kamera ponsel warga. Dalam rekaman video yang beredar, terlihat warga panik berlarian mencari tempat aman saat arus air bercampur lumpur datang dengan deras ke permukiman.‎Sebagian besar warga memilih keluar rumah demi keselamatan, mengantisipasi banjir susulan yang dikhawatirkan semakin membesar.

‎Sementara itu, para santri di sejumlah pondok pesantren memilih mengungsi ke bangunan yang lebih tinggi.

‎Seorang santri Pondok Pesantren Darut Tauhid, Reza Mahardika mengungkapkan hujan deras sudah turun sejak sekitar pukul 14.00 WIB siang tadi.

‎"Awalnya air yang datang kecil, tetapi lama-lama membesar. Sekitar pukul 20.00 WIB, air sudah setinggi perut orang dewasa dan mulai masuk ke dalam pondok, terutama di area pondok putri,” ujar Reza.

‎Sementara itu, Sekretaris Desa Tanjungsari, Edi Harianto, menyampaikan dampak banjir di wilayahnya cukup parah. Sedikitnya 75 rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi.

‎“Di Desa Tanjungsari ada sekitar 75 rumah yang terdampak. Warga memilih mengungsi ke balai desa dan masjid karena ketinggian air sudah lebih dari satu meter dan masuk ke rumah-rumah,” jelas Edi.

‎Edi menambahkan, titik banjir terparah berada di Dusun Krajan. Di dusun tersebut, hampir seluruh rumah warga di RT 01 dan RT 02 terendam air.

 

‎“Di Dusun Krajan, khususnya RT 01 dan RT 02, hampir semuanya terendam. Aktivitas warga lumpuh total,” tambahnya.

 

‎Selain merendam permukiman, banjir bandang di Kecamatan Krejengan juga berdampak pada akses transportasi warga.

 

‎Sejumlah jalan penghubung antar desa terendam air, sehingga kendaraan bermotor tidak dapat melintas dan aktivitas warga menuju beberapa dusun terhambat.

‎Hingga berita ini ditulis, banjir bandang masih terjadi di Desa Opo-opo dan Desa Tanjungsari, Kecamatan Krejengan.

‎Berdasarkan informasi yang dihimpun, banjir juga dilaporkan melanda beberapa kecamatan lain di Kabupaten Probolinggo, seiring masih tingginya intensitas hujan di wilayah tersebut.

×
Berita Terbaru Update