-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menyebut Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus Tuberkulosis

Jumat, 30 Januari 2026 | Januari 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-29T19:16:34Z

 


Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menyebut Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) tertinggi setelah India. Bahkan, jika dilihat dari rasio jumlah penduduk, angka kasus TBC di Indonesia dinilai lebih tinggi.

Hal tersebut disampaikan Benjamin saat menghadiri Ceremony Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis yang dirangkai dengan kegiatan skrining TBC terhadap 200 warga Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (29/1/2026).

Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan, mahasiswa, serta perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Saat ini Indonesia berada di peringkat kedua dunia kasus TBC tertinggi setelah India. Bahkan jika dibandingkan rasio per penduduk, angka kita lebih tinggi. Karena itu presiden menugaskan kami untuk serius membereskan TBC,” tegas Benjamin, Kamis (29/1/2026).

Benjamin menambahkan, percepatan eliminasi TBC menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang masuk dalam delapan program hasil terbaik cepat di bidang kesehatan.

Ia menjelaskan, penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan. Pemerintah melibatkan 31 kementerian dan lembaga, mulai dari Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri, TNI–Polri, hingga Kementerian Perumahan, mengingat faktor lingkungan dan hunian sangat memengaruhi penularan TBC.

 “Rumah tanpa ventilasi di daerah lembap bisa menyimpan kuman TBC berbulan-bulan tetapi terkena sinar matahari 15–30 menit, kumannya bisa mati. Maka intervensi lingkungan menjadi sangat penting,” jelasnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, di Kabupaten Kulon Progo baru ditemukan 429 kasus TBC dari estimasi lebih dari 800 kasus. Artinya, masih terdapat ratusan penderita yang belum terdeteksi dan berpotensi menularkan penyakit di masyarakat. Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan ACF melalui penelusuran aktif kasus TBC.

×
Berita Terbaru Update