Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus
Octavianus menyebut Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia dengan
jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) tertinggi setelah India. Bahkan, jika dilihat
dari rasio jumlah penduduk, angka kasus TBC di Indonesia dinilai lebih tinggi.
Hal tersebut disampaikan Benjamin saat menghadiri Ceremony
Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis yang dirangkai dengan kegiatan skrining
TBC terhadap 200 warga Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis
(29/1/2026).
Kegiatan ini melibatkan tenaga kesehatan, mahasiswa, serta
perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
“Saat ini Indonesia berada di peringkat kedua dunia kasus
TBC tertinggi setelah India. Bahkan jika dibandingkan rasio per penduduk, angka
kita lebih tinggi. Karena itu presiden menugaskan kami untuk serius membereskan
TBC,” tegas Benjamin, Kamis (29/1/2026).
Benjamin menambahkan, percepatan eliminasi TBC menjadi salah
satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil
Presiden Gibran Rakabuming yang masuk dalam delapan program hasil terbaik cepat
di bidang kesehatan.
Ia menjelaskan, penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan
pada sektor kesehatan. Pemerintah melibatkan 31 kementerian dan lembaga, mulai
dari Kementerian Desa, Kementerian Dalam Negeri, TNI–Polri, hingga Kementerian
Perumahan, mengingat faktor lingkungan dan hunian sangat memengaruhi penularan
TBC.
“Rumah tanpa
ventilasi di daerah lembap bisa menyimpan kuman TBC berbulan-bulan tetapi
terkena sinar matahari 15–30 menit, kumannya bisa mati. Maka intervensi
lingkungan menjadi sangat penting,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, di Kabupaten Kulon Progo
baru ditemukan 429 kasus TBC dari estimasi lebih dari 800 kasus. Artinya, masih
terdapat ratusan penderita yang belum terdeteksi dan berpotensi menularkan
penyakit di masyarakat. Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan ACF melalui
penelusuran aktif kasus TBC.