Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata
Nusantara (BPI Danantara) terus mempercepat agenda hilirisasi nasional dengan
memulai pembangunan sejumlah proyek strategis secara serentak. Enam proyek
hilirisasi di berbagai daerah dijadwalkan memasuki tahap peletakan batu pertama
alias groundbreaking pada 6 Februari 2026.
Proyek-proyek tersebut mencakup hilirisasi bauksit menjadi
alumina, pembangunan pabrik bioetanol, hingga produksi bioavtur. Selain itu,
terdapat juga proyek hilirisasi pangan berupa peternakan ayam pedaging dan
petelur terintegrasi.
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani menyampaikan groundbreaking
enam proyek tersebut akan dilakukan pada Jumat (6/2/2026) sore dan berlangsung
bersamaan di beberapa lokasi di Indonesia.
“Nanti kami
rencananya ada enam proyek hilirisasi yang kami akan lakukan
groundbreaking-nya, rencananya pada tanggal 6 sore hari,” ujar Rosan saat
ditemui seusai rapat dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Senayan,
Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Rosan menjelaskan keenam proyek tersebut tersebar di
sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Barat, Cilacap, dan Banyuwangi.
Sementara tiga lokasi lainnya belum diungkapkan.
“Rencananya bersamaan baik dari Kalimantan Barat, Cilacap,
Banyuwangi, dan proyek lainnya. Ya, ada enam proyek lah, jadi kami akan lakukan
bersamaan,” ujar Rosan.
Secara terpisah, COO Danantara Indonesia Dony Oskaria
mengungkapkan proyek-proyek yang segera memasuki tahap groundbreaking mencakup
hilirisasi bauksit menjadi alumina, pembangunan pabrik bioetanol, hingga
bioavtur.
"Kurang lebih hari Jumat itu akan melakukan ada enam
groundbreaking. Itu artinya Indonesia sudah siap menuju negara berbasis
industri,” kata Dony.
Selain itu, Dony juga menyampaikan rencana pembangunan
pabrik baja baru dengan kapasitas produksi mencapai 3 juta ton. Proyek tersebut
dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama pada bulan depan, meski lokasi dan
nilai investasinya masih dirahasiakan.
Langkah percepatan pembangunan proyek-proyek hilirisasi ini
diharapkan dapat memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan nilai
tambah sumber daya dalam negeri, serta mendorong Indonesia menuju transformasi
sebagai negara berbasis industri.
Target Pangkas BUMN
Sebelumnya, Rosan Roeslani juga menyampaikan menargetkan
proses penyesuaian atau pemangkasan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dapat rampung pada 2026.
“Tadi kami menyampaikan rencana tahun 2026, termasuk juga
penyesuaian dari jumlah BUMN,” ujar Rosan.
Dalam rapat tertutup yang berlangsung kurang dari 2 jam
tersebut, Rosan mengungkapkan pembahasan difokuskan pada langkah-langkah yang
akan ditempuh dalam proses penyesuaian jumlah BUMN.
Selain itu, rapat juga membahas program-program Danantara
sepanjang 2026, termasuk proyek-proyek yang akan dieksekusi pada tahun ini.
Secara terpisah, Chief Operating Officer (COO) Badan
Pengelola Investasi (BPI) Danantara Dony Oskaria menyampaikan pada 2025,
Danantara telah melakukan impairment atau penurunan nilai tercatat aset yang
melebihi nilai yang dapat dipulihkan.
“Setelah rapi buku-bukunya, bisnisnya kami restrukturisasi,
termasuk penurunan utang-utangnya,” tutur Dony.
Setelah tahap tersebut, lanjut Dony, Danantara akan masuk ke
fase konsolidasi bisnis melalui merger BUMN. BUMN yang akan dilebur merupakan
entitas yang dinilai tidak efektif, baik karena skala usaha yang terlalu kecil
maupun terus mencatatkan kerugian.
Dony menegaskan Danantara tetap membuka peluang pembentukan
BUMN baru apabila terdapat potensi industri besar yang belum memiliki entitas
BUMN.
“Misalkan industri nanti kita punya industri baterai, ada
industri nanti electric vehicle. Nah ini jadi jangan diliat kok enggak
konsisten. Yang ditutup itu tidak efektif dan tidak produktif yang menyebabkan
kerugian, tetapi namanya industri berkembang tentu kita juga harus
mengikuti," sebut Dony.
Dony menambahkan, apabila seluruh tahapan berjalan sesuai
rencana, konsolidasi BUMN Karya akan dilakukan pada paruh kedua tahun ini.
"Jadi kemungkinan besar nanti akan kita lakukan di
semester ke-2," tegasnya.