Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies
(CELIOS) Bhima Yudhistira menilai Saldo Anggaran Lebih (SAL) bisa dialokasikan
sebagai cadangan untuk mencegah pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN).
“Dari sisi APBN, sebenarnya SAL sedang dibutuhkan untuk
cadangan pelebaran defisit, khususnya dari subsidi energi,” kata Bhima saat
dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Dia menjelaskan bila harga minyak berada pada level 90–110
dolar AS per barel, APBN membutuhkan tambahan Rp126 triliun untuk menambal
subsidi energi.
“Pemerintah bisa ambil dari SAL, dibanding lakukan efisiensi
anggaran yang esensial. Kalau SAL-nya sudah jadi kredit dan berputar kan ada
ketidakcocokan jika pemerintah membutuhkan tambahan anggaran,” tambahnya.
Sementara itu, dia menilai tambahan suntikan SAL senilai
Rp100 triliun kepada perbankan belum menyasar akar permasalahan secara tepat
sasaran.
Menurutnya, masalah pada sisi kredit terletak pada rendahnya
permintaan, alih-alih likuiditas perbankan.
Per Januari 2026, fasilitas pinjaman yang belum digunakan
(undisbursed loan) perbankan masih Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari
plafon kredit yang tersedia. Artinya, kata dia, angka kredit menganggur masih
tinggi.
Sedangkan pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) pada periode yang sama terkontraksi 0,5 persen. Kredit
Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) pun tumbuh di bawah
pertumbuhan kredit umum sekitar 5,5 persen.
“Ada kekhawatiran tambahan suntikan SAL meningkatkan jumlah
kredit menganggur Bank Himbara. Sementara kalau dipaksa masuk ke program
seperti kredit untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atau mitra Makan Bergizi
Gratis (MBG) bisa berujung ke penurunan kualitas kredit,” tuturnya.
Sebagai catatan, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa
kembali menambah penempatan dana SAL sebesar Rp100 triliun ke perbankan.
Penambahan dana ini dilakukan seminggu sebelum Lebaran guna memastikan
likuiditas tetap terjaga di tengah potensi peningkatan kebutuhan dana.
Dengan penambahan tersebut, total dana SAL yang telah
ditempatkan di perbankan mencapai sekitar Rp300 triliun.