Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi
mengapresiasi niat baik Pemerintah Indonesia untuk memediasi Iran dan AS meski
hingga saat ini masih belum ada langkah konkret yang berkaitan dengan hal
tersebut.
Hal itu disampaikan olehnya saat ditanya apakah sudah ada
pihak yang menghubungi Kedutaan Besar Iran terkait mediasi tersebut dalam konferensi
pers di Jakarta, Senin.
“Sampai saat ini belum ada langkah berkaitan dengan hal itu
dan kami masih belum mengetahui apakah langkah seperti ini dapat berdampak atau
berpengaruh atau tidak,” ujar Dubes Boroujerdi.
Menurutnya, pemerintahan kedua negara dapat melakukan
komunikasi dan interaksi dengan pihak Iran, tetapi dia tidak dapat menjawab
apakah mediasi dapat dilakukan atau tidak.
“Apabila Iran dan Indonesia ingin melakukan interaksi dan
komunikasi lebih lanjut untuk mengetahui update dan situasi terkini di Iran,
maka hal tersebut mungkin dapat dilakukan. Tetapi apakah mediasi dapat mencapai
hasil atau tidak, saya tidak bisa berkomentar,” kata Dubes Iran itu.
Pada Sabtu (28/2), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI
menyatakan bahwa Indonesia siap untuk memfasilitasi dialog agar kondisi
keamanan dan kondusif dapat tercipta kembali.
“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia
bersedia untuk bertolak ke Tehran untuk melakukan mediasi,” menurut pernyataan
tersebut.
Pada Sabtu (28/2), Israel telah melancarkan serangan
terhadap Iran, yang merupakan serangan kedua yang dilakukan oleh Israel dan AS
setelah serangan pertama ke Iran pada Juni 2025.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pasukan Amerika
meluncurkan operasi militer besar di Iran untuk melindungi rakyatnya dengan
meniadakan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata
nuklir oleh Iran.
Bulan Sabit Merah Iran, Senin (2/3), menyatakan jumlah
korban tewas akibat serangan udara AS dan Israel sejak 28 Februari meningkat
menjadi 555 orang.
Dalam pernyataan yang dikutip Kantor Berita Fars, disebutkan
bahwa serangan gabungan tersebut menargetkan 131 kawasan permukiman di seluruh
Iran. Pernyataan itu mengonfirmasi 555 korban jiwa, namun tidak merinci jumlah
korban luka.