Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengapresiasi langkah
Pakistan menjadi tuan rumah dialog antara Amerika Serikat dan Iran.
"Saya memuji Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif
serta para pemimpin negara sahabat lainnya yang telah melangkah maju,"
kata Anwar dalam keterangannya di Kuala Lumpur, Rabu (25/3).
Ia menilai posisi Pakistan sebagai mitra berbagai pihak dan
suara kredibel di dunia Muslim memberi peran penting dalam mendorong
perundingan yang bermakna.
Malaysia, kata Anwar, mendukung inisiatif tersebut serta
mendorong Amerika Serikat dan Iran merespons secara positif.
Ia menilai masih ada ruang untuk diplomasi yang harus
dimanfaatkan dengan serius.
"Setiap perundingan harus dilaksanakan atas dasar niat
yang tulus: komitmen yang jelas untuk mengakhiri konflik, bukan sekadar
mengelola ritmenya demi keuntungan taktis," ujarnya.
Anwar mengatakan komunitas internasional terlalu sering
menyaksikan gencatan senjata yang hanya menjadi jeda, bukan solusi.
Menurutnya, kawasan membutuhkan penyelesaian yang lebih
berkelanjutan.
Ia juga menegaskan hak Iran untuk membela kedaulatannya
sesuai hukum internasional.
Namun, Malaysia tetap menyerukan semua pihak menahan diri
dan melindungi warga sipil serta infrastruktur negara-negara tetangga,
khususnya di kawasan Teluk.
"Negara-negara Teluk, kawasan, dan dunia memiliki
banyak hal yang dipertaruhkan — baik secara ekonomi, sosial, maupun dalam hal
stabilitas jangka panjang — dan rakyatnya tidak boleh menanggung konsekuensi
dari keputusan yang diambil di tempat lain," kata Anwar.
Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam penerapan
hukum internasional.
Menurut Anwar, hukum internasional tidak boleh diterapkan secara
selektif.
Ia mengatakan dalam beberapa hari terakhir, dirinya telah
berdiskusi dengan para pemimpin dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk
memahami situasi dan mendorong de-eskalasi.
"Malaysia akan terus mendukung setiap upaya yang
kredibel menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan," katanya.