Perusahaan kecerdasan artifisial (artificial
intelligence/AI), OpenAI, dikabarkan berencana menggandakan jumlah pegawainya
menjadi 8000 karyawan pada akhir 2026.
Kondisi ini berbalik dengan yang dialami kompetitornya yang
cukup banyak mengambil tindakan memberhentikan karyawannya dari tahun ke tahun.
Laporan ini pertama kali diungkap Financial Times seperti
diwartakan Engadget, Jumat (20/3) waktu setempat.
Nantinya karyawan baru OpenAI itu akan berada di beberapa
departemen, termasuk pengembangan produk, teknik, penelitian, dan penjualan.
Keterlibatan OpenAI juga akan mencakup "spesialis"
untuk "duta teknis," atau karyawan yang bertugas membantu bisnis
memanfaatkan alat AI-nya dengan lebih baik, menurut laporan tersebut.
Adapun saat ini jumlah karyawan OpenAI tercatat mencapai
4.500 orang, dan apabila rencana rekrtmen itu berhasil maka jumlahnya di akhir
2026 mencapai dua kali lipatnya.
OpenAI kemungkinan sedang mencoba meningkatkan persaingan
melawan Anthropic dan chatbot Claude AI-nya.
Menurut Indeks AI dari Ramp, sebuah startup fintech yang
mengelola pengeluaran perusahaan, para pemilik bisnis sekarang 70 persen lebih
mungkin untuk memilih Anthropic ketika membeli layanan AI untuk pertama kalinya
dibandingkan dengan OpenAI.
OpenAI baru-baru ini diketahui membuat kontroversi pada
Februari 2026 ketika mengumumkan kontrak dengan Departemen Pertahanan untuk
menggunakan model AI-nya, menyusul dampak publik antara Anthropic dan lembaga
federal.
Selain kontrak pemerintah, OpenAI juga sedang dalam
"pembicaraan lanjutan" dengan perusahaan ekuitas swasta seperti
Brookfield Asset Management untuk menerapkan alat AI-nya di seluruh portofolio
perusahaan, menurut Reuters.