Seorang penyintas bencana banjir bandang, yang menerjang
Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Joris
tetap membuka layanan perbankan dengan memanfaatkan bagian rumah yang tersisa.
Joris, agen BRILink, yang ditemui Kamis, menyampaikan ruko
yang terletak di seberang rumah luluh lantak tersapu banjir tanpa sisa.
Aktivitas layanan pun terpaksa dipindahkan ke rumahnya yang
kini hanya menyisakan kamar bagian belakang.
"Langganan banyak, transaksi ramai di sini, tarik uang
dan transfer. Jadi, dua hari setelah bencana lapor ke BRI, lalu tiga minggu
siap bencana sudah mulai kembali," kata Joris yang telah menjadi agen
selama tiga tahun.
Dalam kondisi serba terbatas, ia menyulap jendela kamar
menjadi loket transaksi. Meja sederhana ditempatkan di depan jendela dari sisi
dalam untuk meletakkan mesin electronic data capture (EDC) dan alat pengecekan
keaslian uang. Sementara itu, voucher internet disusun di ambalan kecil di sisi
ruang.
Meski mendapatkan bantuan perangkat perbankan dari pihak
bank sebagai kompensasi atas kerugian, Joris mengaku belum memiliki cukup modal
untuk membangun kembali ruko.
Ia menyebut idealnya seorang agen memiliki dana Rp100 juta
di rekening dan Rp100 juta dalam bentuk tunai. Namun, seluruh uang tunai miliknya
hilang terseret banjir.
Untuk kembali beroperasi, ia terpaksa meminjam Rp60 juta
dari rekannya dengan menjaminkan mobil pribadi.
Keputusan tersebut diambil mengingat sebelum bencana,
transaksi yang dilayaninya bisa mencapai 100 kali per hari dengan nominal dan jenis
transaksi yang bervariasi.
Akan tetapi, jumlah transaksi turun pascabencana hingga 50
persen, seiring banyaknya pelanggan yang juga menjadi korban.
"Banyak transaksi yang hilang, karena korban yang
meninggal itu juga nasabah saya. Hafal saya karena transaksi setiap hari.
Kadang anak mereka mengirim dari rantau, ambil di sini, masih ingat saya
orang-orangnya," ucapnya.
Kendati melayani transaksi dalam kondisi terbatas, terpantau
sejumlah warga tetap mendatangi rumah Joris untuk melakukan berbagai transaksi,
mulai dari transfer, tarik tunai, membayar tagihan, hingga pembelian pulsa
data.
Adapun bencana banjir bandang, tanah longsor, banjir dan
angin puting beliung melanda Agam pada akhir November 2025, mengakibatkan 165
orang meninggal dunia.
Korban terbanyak berasal dari Kecamatan Palembayan dengan
korban meninggal mencapai 136 orang.