Cuaca ekstrem membayangi kelancaran matchday babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Hujan lebat disertai potensi banjir bandang diprediksi akan mengguyur kawasan di sekitar Stadion MetLife, New Jersey. Situasi ini tentu menjadi alarm bagi panitia penyelenggara lokal, mengingat stadion berkapasitas 80.000 penonton tersebut dijadwalkan menggelar laga sengit antara tim nasional Norwegia melawan Senegal pada Senin (22/6/2026) malam waktu setempat atau Selasa (23/6/2026) dini hari WIB.
Pihak Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat (NWS) sendiri bergerak cepat dengan merilis status waspada banjir (flood watch) untuk beberapa wilayah di New York City dan New Jersey. Wilayah Bergen County, tempat Stadion MetLife berdiri megah, masuk ke dalam daftar zona merah yang rawan terdampak. NWS memperkirakan kondisi ini melalui rilis resminya yang berbunyi, "Hujan deras disertai potensi badai petir dengan kelembapan tinggi diperkirakan akan melintasi wilayah ini sejak sore hingga malam hari. Hujan ini berpotensi menghasilkan curah hujan hingga sekitar 2 inci per jam. Tingkat curah hujan yang tinggi ini dapat memicu banjir bandang, terutama di kawasan perkotaan dan area dengan sistem drainase yang buruk."
Mendengar laporan cuaca ekstrem tersebut, Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, langsung mengeluarkan imbauan tegas kepada para suporter dan masyarakat umum demi meminimalisasi risiko kecelakaan. Dalam pernyataan tertulisnya, yang dikutip AP, Senin, Mamdani mengimbau semua orang untuk merencanakan perjalanan mereka sejak awal dan meluangkan waktu lebih agar bisa bepergian dengan aman.
“Tidak ada tempat tujuan yang lebih berharga daripada mempertaruhkan keselamatan Anda. Jika kondisi memburuk, tetaplah di dalam ruangan dan tunggulah sampai situasi dirasa aman untuk bepergian,” ucapnya.
Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Badan Manajemen Darurat New York City juga langsung menerbitkan panduan perjalanan bagi para suporter. Pihak pengelola stadion juga menyiagakan pompa air tambahan mengingat lokasi bangunan yang berdiri di atas kawasan tanah basah. Langkah preventif ini dilakukan agar aliran air di sekitar kawasan pintu masuk penonton tidak terhambat dan menimbulkan kepanikan massal sebelum peluit sepak mula dibunyikan.
Hingga memasuki hari ke-11 sejak pembukaan turnamen, jalannya Piala Dunia 2026 sebenarnya tergolong sangat mulus tanpa ada satu pun laga yang terganggu oleh faktor alam. Namun, bayang-bayang penundaan akibat cuaca buruk di tanah Amerika Serikat bukan hal baru. Sebagai catatan, pada turnamen Piala Dunia Antarklub yang digelar tahun lalu di AS, terdapat enam pertandingan yang terpaksa molor akibat cuaca buruk dengan total durasi penundaan mencapai lebih dari delapan jam.
Bahkan sebelum putaran final resmi bergulir bulan ini, beberapa laga uji coba internasional di AS juga sempat mencatatkan rapor merah akibat cuaca. Pertandingan persahabatan antara Inggris melawan Kosta Rika di Florida sempat diundur satu jam akibat terjangan badai. Di tempat lain, duel antara Arab Saudi dan Puerto Riko di Texas bahkan harus dihentikan secara mendadak pada menit ke-21 sebelum akhirnya bisa dilanjutkan kembali setelah menunggu selama 90 menit.
Jika kondisi cuaca malam nanti benar-benar memburuk dan memaksa wasit menghentikan laga, FIFA dipastikan akan mengacu pada regulasi resmi force majeure. Aturan ketat FIFA menyebutkan bahwa, "jika sebuah pertandingan terpaksa dihentikan akibat keadaan darurat (force majeure) setelah laga dimulai, pertandingan akan dilanjutkan kembali tepat pada menit saat laga tersebut dihentikan, bukan diulang dari awal, dan tetap menggunakan papan skor yang sama." Aturan tersebut juga menambahkan bahwa laga kembali dimulai dari titik terakhir seperti tendangan bebas atau lemparan ke dalam.
Kendati demikian, otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut juga memiliki hak veto mutlak yang tidak dapat diganggu gugat terkait jadwal turnamen jika cuaca tidak memungkinkan untuk menggelar pertandingan sama sekali. Berdasarkan berkas aturan keselamatan, "FIFA memiliki hak penuh untuk membatalkan, menjadwal ulang, atau memindahkan lokasi satu atau lebih pertandingan (atau bahkan seluruh gelaran FIFA World Cup 2026) karena alasan apa pun berdasarkan kebijakan mutlak mereka, termasuk akibat situasi force majeure atau demi alasan kesehatan, keselamatan, dan keamanan." Kini publik hanya bisa berharap agar badai mereda tepat waktu.