. Menteri Ekonomi Lebanon, Amer Bisat, menyatakan konflik dengan Israel telah menyebabkan kerusakan besar pada perekonomian negaranya. Ia memperkirakan total kerugian yang dialami Lebanon mencapai sekitar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 360 triliun.
Dampak perang tersebut disebut telah mendorong ekonomi Lebanon ke mode “reset” atau kembali ke titik nol. Menurut Bisat, perang tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik yang meluas di wilayah Lebanon selatan, tetapi juga memicu kerugian nyata lainnya seperti meningkatnya pengangguran serta penutupan sejumlah bisnis dan pabrik-pabrik.
Dalam wawancara Bisat dengan Radio Sputnik pada Jumat (12/6/2026) waktu setempat, ia juga menyoroti beban ekonomi yang berat akibat krisis pengungsi, dengan estimasi biaya yang ditanggung Lebanon mencapai US$ 80 juta hingga US$ 90 juta per bulannya.
Ia menuturkan, persoalan pengungsi di Lebanon saat ini telah berkembang melampaui aspek politik dan demografis, dan mulai memberikan dampak nyata ekonomi yang semakin besar terhadap kondisi negara.
Bisat menambahkan, perekonomian Lebanon saat ini mengalami guncangan serius dan masih dalam kondisi rapuh. Ia menyebut ukuran ekonomi negara tersebut hampir menyusut setengah dibandingkan sebelum krisis keuangan melanda.
Mengutip Al Mayadeen, Sabtu (13/6/2026), sebelum perang, ekonomi Lebanon diperkirakan bernilai antara US$ 55 miliar hingga US$ 57 miliar per tahun. Tetapi, saat ini nilainya merosot drastis menjadi hanya sekitar US$ 32 miliar.
“Sekitar 28% sektor pertanian tidak lagi produktif. Sementara itu, sektor pariwisata mengalami kerugian sekitar US$ 2 miliar, atau setara dengan sekitar 7% dari produk domestik bruto (PDB) Lebanon,” ungkap Bisat.
Selain itu, ia menyoroti penurunan signifikan dalam bantuan internasional yang dikaitkan dengan perlambatan ekonomi global serta meningkatnya tekanan domestik di negara-negara Teluk yang sekarang lebih fokus pada kepentingan nasionalnya masing-masing.
Meski demikian, Bisat menegaskan masa ketergantungan Lebanon pada bantuan asing telah berakhir. “Pemerintah kini mulai mengadopsi pendekatan baru dengan mengandalkan pengelolaan krisis melalui sumber daya dan kemampuan nasional,” tutupnya.