-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Harga Pertamax naik menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan masyarakat pada Juni 2026.

Selasa, 16 Juni 2026 | Juni 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-15T20:34:30Z

 

Harga Pertamax naik menjadi salah satu isu yang paling banyak diperbincangkan masyarakat pada Juni 2026. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi ini mendorong banyak pemilik kendaraan mulai mempertimbangkan alternatif transportasi yang lebih hemat dan efisien dalam jangka panjang.

 


Terhitung sejak Rabu (10/6/2026), PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 mengalami kenaikan dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Lonjakan harga tersebut menjadi penyesuaian pertama untuk Pertamax setelah harga minyak mentah dunia meningkat akibat konflik geopolitik Israel-Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Pada sisi lain, BBM nonsubsidi lainnya, seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina DEX masih dipertahankan pada harga sebelumnya. Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi juga belum mengalami perubahan harga.

Kondisi tersebut membuat banyak masyarakat mulai mencari alternatif kendaraan yang lebih hemat biaya operasional. Kendaraan listrik dan mobil hybrid pun semakin dilirik sebagai solusi untuk menghadapi ketidakpastian harga energi berbasis minyak.

Harga Pertamax Naik dan Dampaknya bagi Pengeluaran Masyarakat

Kenaikan harga Pertamax sebesar Rp 3.950 per liter dan Pertamax Green 95 sebesar Rp 4.100 per liter diperkirakan akan berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Pasalnya, kedua jenis BBM tersebut merupakan bahan bakar nonsubsidi yang banyak digunakan oleh kendaraan pribadi di Indonesia. Semakin tinggi frekuensi penggunaan kendaraan, semakin besar pula tambahan biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan.

Selain meningkatkan beban pengeluaran masyarakat, kenaikan harga BBM juga menjadi pengingat bahwa harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global.

Ketergantungan dunia terhadap pasokan minyak dari Kawasan Timur Tengah membuat harga energi rentan mengalami gejolak ketika terjadi konflik.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat mulai mencari kendaraan yang lebih efisien dan tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga BBM. Kendaraan listrik dan hybrid menjadi dua pilihan yang paling sering dipertimbangkan.

Memahami Perbedaan Kendaraan Listrik dan Hybrid

Sebelum menentukan pilihan, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara kendaraan listrik dan kendaraan hybrid.

Kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV) menggunakan tenaga listrik sepenuhnya yang disimpan dalam baterai. Energi tersebut harus diisi ulang melalui sumber listrik eksternal menggunakan fasilitas pengisian daya.

 

Karena tidak menggunakan mesin pembakaran internal, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang saat digunakan. Sementara itu, mobil hybrid menggabungkan mesin bensin atau diesel dengan motor listrik dalam satu sistem penggerak.

Teknologi ini memungkinkan kendaraan menggunakan tenaga listrik dan bahan bakar secara bersamaan untuk meningkatkan efisiensi konsumsi energi.

Pada tipe plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), baterai dapat diisi ulang menggunakan charger eksternal. Sedangkan pada full hybrid, pengisian daya dilakukan melalui pengereman regeneratif dan bantuan mesin pembakaran internal.

Perbedaan sistem tersebut membuat kendaraan listrik dan hybrid memiliki karakteristik, keunggulan, serta keterbatasan yang berbeda, terutama ketika dikaitkan dengan kenaikan harga BBM.

Keunggulan Kendaraan Listrik di Tengah Harga BBM Mahal

Kendaraan listrik dinilai menjadi solusi jangka panjang yang lebih stabil dari sisi biaya operasional. Beberapa keunggulan kendaraan listrik, antara lain:

Tidak memerlukan bensin atau solar sehingga tidak terdampak langsung oleh kenaikan harga BBM.

Biaya penggunaan harian relatif lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar minyak.

Memiliki komponen mekanis yang lebih sedikit sehingga biaya perawatan cenderung lebih murah.

Tidak memerlukan penggantian oli mesin secara berkala.

Mampu mengonversi lebih dari 77% energi listrik menjadi tenaga penggerak roda.

Angka efisiensi tersebut jauh lebih tinggi dibanding kendaraan berbahan bakar bensin konvensional yang umumnya hanya mampu mengubah sekitar 12%–30% energi bahan bakar menjadi tenaga gerak.

Selain efisien, kendaraan listrik juga menawarkan pengalaman berkendara yang lebih nyaman karena motor listrik bekerja lebih halus dan senyap dibanding mesin pembakaran internal.

Akselerasi instan yang dihasilkan motor listrik menjadi salah satu alasan mengapa kendaraan jenis ini semakin diminati oleh pengguna modern. Dari sisi lingkungan, kendaraan listrik juga menjadi pilihan paling ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi knalpot.

Penggunaan kendaraan listrik dapat membantu mengurangi polusi udara yang berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit pernapasan dan paru-paru.

Hybrid Bisa Menjadi Solusi Transisi yang Lebih Aman

Meski kendaraan listrik menawarkan banyak keunggulan, mobil hybrid masih menjadi pilihan yang dianggap lebih realistis bagi sebagian masyarakat.

Salah satu alasannya adalah pengalaman berkendara yang masih sangat mirip dengan mobil konvensional karena tetap menggunakan mesin bensin sebagai sumber tenaga utama.

 

Pengguna mobil hybrid juga tidak perlu terlalu bergantung pada ketersediaan stasiun pengisian daya. Ketika baterai habis, kendaraan tetap dapat beroperasi menggunakan bahan bakar seperti mobil biasa.

Teknologi pengereman regeneratif yang dimiliki kendaraan hybrid juga mampu meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar. Energi yang dihasilkan saat pengereman dapat disimpan kembali ke baterai dan digunakan untuk membantu penggerak kendaraan. Keunggulan lain mobil hybrid meliputi:

Konsumsi BBM lebih hemat dibanding mobil bensin konvensional.

Sangat efisien digunakan di wilayah perkotaan dengan kondisi lalu lintas padat.

Memiliki jangkauan perjalanan lebih panjang dibanding kendaraan listrik murni.

Tidak memerlukan waktu khusus untuk mengisi daya saat perjalanan jauh.

Meski demikian, mobil hybrid tetap memiliki ketergantungan terhadap BBM sehingga dampak kenaikan harga Pertamax dan bahan bakar lainnya masih akan dirasakan pengguna.

Selain itu, harga pembelian mobil hybrid umumnya lebih tinggi dibanding mobil bermesin bensin konvensional.

Pilihan antara kendaraan listrik dan hybrid sangat bergantung pada kebutuhan serta kondisi masing-masing pengguna. Bagi masyarakat yang memiliki akses mudah ke stasiun pengisian daya dan ingin menekan biaya energi dalam jangka panjang, kendaraan listrik dapat menjadi pilihan yang lebih menguntungkan.

Sebaliknya, bagi pengguna yang sering melakukan perjalanan jarak jauh atau tinggal di daerah dengan infrastruktur pengisian daya yang masih terbatas, mobil hybrid dapat menjadi solusi transisi yang lebih praktis dan aman.

Di tengah kondisi harga Pertamax naik hingga Rp 16.250 per liter, kedua jenis kendaraan tersebut mulai dipandang sebagai alternatif yang lebih efisien dibanding kendaraan berbahan bakar konvensional.

Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 menjadi sinyal bahwa biaya energi berbasis minyak akan semakin sulit diprediksi di masa depan. Ketidakpastian harga minyak dunia akibat faktor geopolitik membuat masyarakat mulai mempertimbangkan kendaraan yang lebih hemat dan memiliki biaya operasional yang lebih stabil.

Baik kendaraan listrik maupun hybrid menawarkan solusi yang berbeda sesuai kebutuhan pengguna. Kendaraan listrik unggul dalam efisiensi dan biaya operasional, sedangkan hybrid memberikan fleksibilitas lebih tinggi bagi pengguna yang belum siap sepenuhnya meninggalkan kendaraan berbahan bakar minyak.

×
Berita Terbaru Update