-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Sejumlah ekonom dan akademisi menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah munculnya

Selasa, 23 Juni 2026 | Juni 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-22T18:09:51Z

 

Sejumlah ekonom dan akademisi menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah munculnya berbagai narasi pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.

 


Tingginya minat investor global terhadap instrumen investasi Indonesia dinilai menjadi bukti bahwa kepercayaan pasar internasional masih terjaga.

Salah satu indikator yang disorot adalah keberhasilan Danantara Investment Management menerbitkan obligasi global senilai US$ 1,5 miliar. Penerbitan surat utang tersebut mendapat respons positif dari investor global dengan nilai pemesanan mencapai US$ 4,6 miliar atau mengalami kelebihan permintaan (oversubscription) lebih dari tiga kali lipat.

Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi menilai pencapaian tersebut membantah anggapan investor asing mulai meninggalkan Indonesia.

“Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat. Ini sekaligus membantah narasi ‘Sell Indonesia’. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap ‘Buy Indonesia’,” kata Iswadi di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, tingginya minat investor menjadi indikator bahwa pasar global masih memandang prospek ekonomi Indonesia secara positif meski kondisi ekonomi dunia masih diliputi ketidakpastian.

“Jika investor tidak percaya terhadap masa depan ekonomi Indonesia, maka mustahil permintaan bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat target penerbitan. Ini menjadi indikator penting bahwa kepercayaan pasar masih sangat tinggi,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Senior INDEF, Prof Didik J Rachbini. Ia menilai kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam koridor yang sehat dan terkendali.

“Saya cermati, kondisi fiskal cukup baik dengan pendapatan dan pengeluaran masih dalam toleransi yang memadai. Terutama soal defisit sampai Mei 2026, terjaga 0,7 persen terhadap PDB. Mudah-mudahan ini terus terjaga sampai kuartal kedua,” katanya.

Menurutnya, kemampuan pemerintah menjaga defisit pada level rendah menunjukkan pengelolaan APBN masih berjalan dengan baik. Selain itu, pendapatan negara juga mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.

“Pendapatan fiskal meningkat sekitar 19 persen secara tahunan hingga Mei 2026. Penerimaan pajak naik 22% dan menjadi salah satu penopang utama stabilitas fiskal kita,” ujarnya.Didik juga menyoroti realisasi pembiayaan fiskal yang telah mencapai Rp 379,4 triliun atau sekitar 55,1 persen dari target tahunan.

“Artinya ada penyediaan pendanaan yang cukup untuk mendukung pelaksanaan anggaran di sisa tahun ini,” tambahnya.

Sementara itu, Ekonom Myrdal Gunarto menilai risiko utang luar negeri (ULN) Indonesia masih relatif terkendali. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 1,9% secara tahunan.

“Perkembangan utang luar negeri kita memang pertumbuhannya masih pelan. Ini masih mencerminkan ketergantungan yang relatif rendah dari pemerintah ataupun pelaku bisnis swasta terhadap kebutuhan mereka untuk melakukan utang luar negeri,” katanya.

Ia menjelaskan, dunia usaha saat ini masih cenderung berhati-hati dalam melakukan ekspansi akibat ketidakpastian global. Karena itu, peningkatan utang lebih banyak berasal dari kebutuhan pembiayaan pemerintah dan refinancing utang yang jatuh tempo.

Myrdal juga menilai langkah pemerintah melakukan diversifikasi sumber pembiayaan merupakan strategi yang positif untuk menjaga stabilitas fiskal.

 “Panda Bond bagus karena yield-nya terlihat lebih rendah dibandingkan instrumen surat utang dalam mata uang lain. Ini menjadi keuntungan bagi pemerintah untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan kebutuhan APBN,” ujarnya.

 

×
Berita Terbaru Update