Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan
Washington tidak menemukan bukti bahwa Iran masih menutup Selat Hormuz, jalur
pelayaran strategis yang menjadi perhatian dunia setelah konflik antara kedua
negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Vance pada Sabtu (20/6/2026)
di tengah upaya implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran
yang mulai berlaku pekan ini. Namun, kabar terbaru menyebut Iran kembali
memblokade Selat Hormuz.
"Kami tidak melihat bukti apa pun bahwa Iran masih
menutup Selat Hormuz. Namun, akan membutuhkan waktu untuk membersihkan
ranjau-ranjau itu," kata Vance kepada Fox News.
Selain itu, Vance juga menyampaikan keyakinannya bahwa
kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai kedua negara dapat terus
berjalan.
"Saya sangat yakin kita dapat mempertahankan gencatan
senjata," ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah lalu lintas pelayaran
komersial di Selat Hormuz menunjukkan pemulihan signifikan. Sebanyak 25 kapal
dilaporkan melintasi jalur tersebut pada Kamis (19/6/2026), menjadi angka
tertinggi sejak awal Juni.
Peningkatan aktivitas pelayaran terjadi setelah nota
kesepahaman perdamaian antara AS dan Iran mulai diimplementasikan. Kesepakatan
itu dicapai melalui perundingan yang dimediasi Pakistan pada 14 Juni 2026.
Dokumen yang dikenal sebagai Memorandum Islamabad tersebut
mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara digital oleh Presiden
Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan damai itu memuat 14 poin, termasuk penghentian
konflik, penerapan gencatan senjata di berbagai wilayah, pembukaan kembali
Selat Hormuz, serta pencabutan blokade maritim AS terhadap Iran.
Selat Hormuz menjadi sorotan pasar energi global setelah
aktivitas pelayaran di kawasan tersebut menurun tajam sejak dimulainya operasi
militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Sebagai salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia,
stabilitas Selat Hormuz dinilai krusial bagi kelancaran perdagangan minyak dan
gas internasional. Karena itu, perkembangan terbaru terkait jalur pelayaran
tersebut terus menjadi perhatian pelaku pasar global.