Asosiasi anggota UEFA secara sepakat menyuarakan aksi
pemboikotan terhadap Piala Dunia dan seluruh kompetisi resmi FIFA. Langkah
drastis ini diambil sebagai bentuk protes keras atas rencana FIFA yang berniat
menjual sebagian saham anak perusahaannya kepada investor swasta eksternal,
yang nantinya akan mengelola turnamen-turnamen skala global tersebut.
Asosiasi anggota UEFA secara sepakat menyuarakan aksi pemboikotan terhadap Piala Dunia dan seluruh kompetisi resmi FIFA
Gelombang protes ini dipicu oleh pengumuman mengejutkan dari
badan pengatur sepak bola dunia tersebut. FIFA menyatakan rencananya untuk
membentuk anak perusahaan bernilai 20 miliar dolar AS guna mengoperasikan Piala
Dunia serta ajang bergengsi lainnya, sembari membuka peluang bagi investor luar
untuk memiliki hingga 20% saham di
dalamnya. Sikap UEFA terhadap kebijakan baru ini terbilang sangat keras dan
tanpa kompromi.
“Tidak ada tim
nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA mana pun selama
proposal ini masih berlaku, kecuali jika proposal ini telah dibatalkan secara
keseluruhan dan jaminan yang mengikat telah diberikan bahwa FIFA tidak akan
pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya untuk kepemilikan swasta,”
tulis keterangan resmi UEFA dikutip Reuters, Kamis (30/7/2026).
UEFA menekankan bahwa turnamen sepak bola terbesar di dunia
tersebut memiliki nilai sejarah yang tidak bisa diukur dengan uang semata.
Menurut mereka Piala Dunia tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi.
"Ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar dalam
sepak bola yang telah dibangun selama bergenerasi-generasi oleh para pemain,
tim nasional, dan pendukung di setiap benua," tambah UEFA dalam pernyataan
resminya.
Penolakan terhadap masuknya modal asing ke dalam struktur
kompetisi tertinggi ini disuarakan dengan sangat emosional. Pihak UEFA
menambahkan tidak ada bagian darinya yang boleh diserahkan kepada investor
swasta. Bagi mereka Piala Dunia tidak untuk dijual.
Langkah berani UEFA ini langsung mendapat dukungan penuh
dari berbagai federasi sepak bola negara anggota, salah satunya adalah Federasi
Sepak Bola Inggris (FA). Seorang juru bicara FA dengan tegas menyatakan
dukungannya terhadap keputusan tersebut dan mengatakan bahwa organisasinya
"berdiri bahu-membahu dengan rekan-rekan kami di Eropa."
Kritik terhadap FIFA nyatanya tidak hanya datang dari Eropa.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) serta CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan
Karibia) sebelumnya juga telah melayangkan kecaman keras, di mana mereka
menyatakan bahwa mereka tidak diajak berkonsultasi dalam proses pengambilan
keputusan tersebut.
Aksi pemboikotan ini membayangi sejumlah agenda besar FIFA
dalam waktu dekat. Jika kebuntuan ini tidak segera menemukan titik terang,
ajang-ajang internasional seperti Piala Dunia Wanita yang dijadwalkan
berlangsung di Brasil tahun depan, hingga gelaran perdana Piala Dunia U-15 di
Azerbaijan pada Oktober 2026 mendatang terancam kehilangan panggung utamanya.
Keputusan sepihak FIFA mengenai komersialisasi ini dinilai
memicu ketegangan terbesar dalam tatanan sepak bola modern. Banyak pihak
menyayangkan minimnya dialog transparan antara FIFA dan konfederasi-konfederasi
benua sebelum rencana besar ini digulirkan ke publik.