-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan video yang viral di media sosial dan diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal merupakan informasi palsu

Senin, 06 Juli 2026 | Juli 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-05T19:51:21Z

 Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan video yang viral di media sosial dan diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal merupakan informasi palsu atau hoaks.



Video berdurasi kurang dari satu menit itu memperlihatkan sedikitnya dua orang merekam letusan gunung berapi yang disertai kilatan cahaya saat berada di atas kapal. Namun, setelah dilakukan verifikasi teknis, rekaman tersebut dipastikan bukan dokumentasi aktivitas erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

BPBD Banten Siaga Penuh Antisipasi Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

"Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia," katanya dalam keterangan di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Erupsi Hanya 2 Kali

Lana menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau baru mengalami dua kali erupsi kecil dalam beberapa hari terakhir, yakni pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB dan Jumat (3/7/2026) pukul 11.50 WIB. Pada kedua erupsi tersebut, tinggi kolom abu yang teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak gunung.

Selain meluruskan video viral, Badan Geologi juga membantah kabar yang menyebut radius aman Gunung Anak Krakatau diperluas menjadi 5 kilometer. Menurut Lana, informasi tersebut tidak benar.

Hingga saat ini, rekomendasi resmi bagi Gunung Anak Krakatau yang berstatus level III (Siaga) tetap menetapkan zona bahaya dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi. Dalam zona tersebut, masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun nelayan dilarang beraktivitas untuk menghindari risiko lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, hingga hujan abu.

Tolak Isu Tsunami

Badan Geologi juga meminta masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak mudah mempercayai isu menyesatkan yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami.

Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau selalu mengacu pada informasi resmi yang disampaikan melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) maupun aplikasi MAGMA Indonesia.

"Juga dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," ujar Lana.


×
Berita Terbaru Update