-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan video yang viral di media sosial memperlihatkan letusan Gunung Anak Krakatau

Minggu, 05 Juli 2026 | Juli 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-04T17:16:27Z

 Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan video yang viral di media sosial memperlihatkan letusan Gunung Anak Krakatau dari atas kapal merupakan hoaks. Masyarakat diminta tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi tersebut.



Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan resminya, Sabtu (4/7/2026) menjelaskan, hasil verifikasi menunjukkan video tersebut bukan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi/PVMBG dan MAGMA Indonesia.

Berdasarkan data pemantauan, Gunung Anak Krakatau mengalami dua kali erupsi dalam bulan ini, yakni pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dan 3 Juli 2026 pukul 11.50 WIB. Saat ini, aktivitas gunung api tersebut masih menunjukkan aktivitas magmatik berenergi rendah.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. 

Pengamatan aktivitas gunung tersebut dilakukan melalui dua Pos Pengamatan Gunung Api, yakni di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Ia menjelaskan, Gunung Anak Krakatau memiliki catatan sejarah erupsi besar pada 1883 yang memicu tsunami. Selain itu, guncangan gempa bumi memicu erupsi dan longsoran sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018. 

Setelah peristiwa tersebut, erupsi berskala rendah berlangsung hingga 16 Desember 2023 sebagai fase pertumbuhan kembali tubuh gunung api. Hingga kini, jeda erupsi masih berlangsung.

Lana Saria juga meluruskan informasi lain yang menyebut radius rekomendasi Gunung Anak Krakatau mencapai 5 kilometer. Menurutnya, informasi tersebut tidak benar. 

“Rekomendasi resmi yang berlaku saat ini adalah masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau,” katanya.

Badan Geologi mengimbau masyarakat agar selalu mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan PVMBG dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak memiliki sumber jelas. Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Selain itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai isu yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Warga dapat beraktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan BPBD setempat.


×
Berita Terbaru Update