Samuel Sekuritas Indonesia menilai tekanan terhadap pasar modal akibat isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) mulai mereda. Namun, pasar keuangan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan pada semester II 2026, mulai dari pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, hingga ketidakpastian kebijakan.
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim mengatakan, kondisi tersebut membuat investor perlu menerapkan strategi investasi yang lebih defensif.
"Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting," ujar Shim, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, fokus utama Bank Indonesia (BI) saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sejak Maret hingga Juni 2026, BI telah menaikkan BI rate sebesar 100 basis poin, dari 4,75% menjadi 5,75%.
Shim menilai langkah tersebut memang diperlukan untuk menjaga daya tarik rupiah di mata investor. Namun, kebijakan tersebut berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi.
"BI menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik rupiah. Namun, konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap tertahan. Ini menjadi dilema utama pasar, karena stabilitas perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan juga menjadi lebih terbatas," jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi saat ini memiliki kemiripan dengan situasi pada 2018 ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk meredam pelemahan rupiah dan mengembalikan kepercayaan investor asing.
"Masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan itu. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko," kata Shim.
Di sisi lain, ia menilai valuasi saham Indonesia mulai kembali menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam. Namun, ruang pemulihan masih dibatasi oleh tingginya suku bunga dan ketidakpastian kebijakan.
"Kami memperkirakan tekanan terbesar dari isu MSCI kemungkinan telah berlalu, meskipun ketidakpastian terkait daya tarik, free float, transparansi dan downgrade frontier masih menjadi faktor yang perlu terus dicermati investor," ujarnya.
Sementara itu, Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi mengatakan, sektor perbankan masih mencatatkan kinerja yang relatif tangguh secara tahunan. Namun, tantangan diperkirakan semakin terasa pada paruh kedua tahun ini.
"Secara tahunan, kinerja bank masih terlihat resilien. Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan," kata Prasetya.
Ia menjelaskan kombinasi pelemahan rupiah dan tingginya suku bunga dapat meningkatkan biaya dana (cost of funds) perbankan, sekaligus menekan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman.
"Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan cost of funds. Jika repricing dana pihak ketiga bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. Di saat sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur," tutupnya.