-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Harga emas berbalik menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026) waktu Amerika Serikat (AS) atau malam WIB, setelah sebelumnya mencatat kinerja kuartalan terburuk dalam 13 tahun t

Kamis, 02 Juli 2026 | Juli 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-01T18:09:37Z

 

Harga emas berbalik menguat pada perdagangan Rabu (1/7/2026) waktu Amerika Serikat (AS) atau malam WIB, setelah sebelumnya mencatat kinerja kuartalan terburuk dalam 13 tahun terakhir.

 


Penguatan terjadi meski logam mulia masih tertekan oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi suku bunga tinggi di AS yang mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil tersebut.

Pada perdagangan waktu setempat, kontrak berjangka emas diperdagangkan di level US$ 4.041,30 per ons troi. Sementara itu, harga emas spot naik 0,49% menjadi US$ 4.025,89 per ons troi.

Meski berhasil menguat, harga emas masih jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 5.586,20 per ons troi yang tercapai pada 29 Januari 2026. Sejak saat itu, harga emas terus melemah karena investor mulai mengantisipasi peluang suku bunga yang tetap tinggi di AS.

Sepanjang kuartal II 2026 yang berakhir pada 30 Juni, harga emas anjlok sekitar 16%, menjadi penurunan kuartalan terdalam sejak kuartal II 2013. Secara tahun berjalan (year-to-date), harga emas juga masih terkoreksi 7,76%.

Meski mengalami tekanan, sejumlah analis menilai emas masih menjadi instrumen penting dalam portofolio investasi, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Pada laporan Global Investment Outlook pertengahan tahun, Amundi Investment Institute menyebut kebijakan moneter yang semakin ketat, tingginya utang publik, serta langkah bank sentral dunia yang terus mendiversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar AS akan tetap menopang permintaan emas pada paruh kedua 2026.

Kepala Amundi Investment Institute Monica Defend mengatakan, investor perlu memiliki portofolio yang mampu menghadapi berbagai skenario ekonomi.

“Investor menghadapi dunia di mana independensi bank sentral sedang diuji, inflasi semakin bergejolak, dan risiko konsentrasi terus meningkat. Portofolio terbaik untuk kondisi seperti ini harus terdiversifikasi, termasuk pada mata uang, aset riil, dan emas,” katanya.

Survei tahunan World Gold Council juga menunjukkan semakin banyak bank sentral di dunia yang berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan ke depan.

Staunovo memperkirakan permintaan emas dari bank sentral, diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap utang global akan tetap menjadi faktor pendukung harga emas dalam jangka panjang.

“Kami memperkirakan permintaan emas dari bank sentral, diversifikasi dari dolar AS, dan kekhawatiran terhadap utang global akan tetap menjadi penopang struktural. Meskipun dalam jangka pendek harga cenderung bergerak konsolidatif, prospek 12 bulan ke depan masih tetap positif,” pungkasnya.

×
Berita Terbaru Update