Industri perasuransian Indonesia memasuki fase baru di
tengah meningkatnya tekanan ekonomi makro. IFG Progress menilai keberlanjutan
profitabilitas perusahaan asuransi tidak lagi hanya bergantung pada pertumbuhan
premi, tetapi semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola risiko, memperkuat
underwriting, serta menjaga kualitas portofolio.
Berdasarkan laporan IFG Progress yang dikutip pada Minggu
(19/7/2026), industri asuransi jiwa masih mencatatkan kinerja positif pada
kuartal I 2026. Laba bersih sektor tersebut meningkat 44,5% secara year on year
(yoy) menjadi Rp 7,7 triliun. Pertumbuhan itu ditopang efisiensi beban operasional
serta pengelolaan klaim yang lebih baik.
Senior Research Associate IFG Progress Ibrahim Kholilul
Rohman mengatakan keberlanjutan kinerja industri akan sangat bergantung pada
penguatan bisnis inti masing-masing perusahaan asuransi jiwa.
"Ke depan, keberlanjutan profitabilitas industri perlu
didukung oleh penguatan kinerja underwriting, mengingat kontribusi hasil
investasi masih rentan terhadap dinamika pasar keuangan," ujar Ibrahim.
Pada sektor asuransi umum, sejumlah lini usaha masih
membukukan loss ratio yang terkendali. Namun, beberapa segmen mulai menghadapi
tekanan akibat meningkatnya klaim.
Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi strategi seleksi
risiko, penetapan tarif premi, hingga pengelolaan reasuransi, terutama pada
lini usaha yang memiliki loss ratio di atas 100%.
Meski tekanan klaim meningkat, kinerja industri asuransi
umum masih tergolong solid. Pendapatan underwriting relatif stabil di tengah
pertumbuhan premi yang moderat, didukung efisiensi biaya serta penerapan
selektivitas risiko. Dari sisi lain, industri tetap menghadapi kenaikan klaim
bruto dan penurunan hasil investasi.
Kondisi tersebut membuat laba bersih industri asuransi umum
tetap meningkat menjadi sekitar Rp 3,7 triliun pada kuartal I 2026. IFG
Progress merekomendasikan perusahaan terus memperkuat disiplin underwriting dan
pengendalian klaim sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Memasuki paruh kedua 2026, tantangan industri diperkirakan
semakin besar seiring perubahan kondisi ekonomi makro. Ibrahim menilai sejumlah
indikator ekonomi pada Mei dan Juni 2026 menunjukkan tekanan eksternal tidak
hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga mulai memengaruhi permintaan
domestik, stabilitas sektor eksternal, hingga arah kebijakan moneter.
"Dengan demikian, industri asuransi dan penjaminan
memasuki fase di mana profitabilitas akan semakin ditentukan oleh kemampuan
mengelola risiko, bukan semata-mata oleh pertumbuhan premi," katanya.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan
cadangan devisa menjadi tantangan utama pada kuartal II 2026 yang berpotensi
berlanjut hingga semester II 2026.
Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan biaya reasuransi
luar negeri dan biaya penggantian aset impor sehingga memberikan tekanan pada
lini bisnis engineering, marine cargo, properti, dan kendaraan bermotor.
Pada saat yang sama, kenaikan inflasi juga mendorong
meningkatnya biaya layanan kesehatan, material konstruksi, serta suku cadang
kendaraan.