iPhone masih menjadi salah satu smartphone paling diminati di dunia. Di Amerika Serikat (AS), ponsel besutan Apple bahkan menjadi perangkat yang paling banyak digunakan.
Tak heran jika banyak orang memilih membeli iPhone, termasuk unit bekas, demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau. Meski begitu, membeli iPhone bekas bukan tanpa risiko.
Walaupun perangkat yang berusia beberapa tahun masih mampu bersaing dengan banyak ponsel Android kelas menengah, ada sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk membelinya.
Mulai dari masa dukungan pembaruan iOS yang semakin pendek, kondisi perangkat keras yang menurun, hingga potensi memperoleh perangkat dengan komponen tidak asli dapat membuat biaya kepemilikan menjadi lebih mahal dalam jangka panjang.
Apple kini menerapkan sistem validasi komponen pada iPhone generasi terbaru. Artinya, hampir seluruh komponen internal harus diverifikasi oleh Apple, bahkan ketika proses perbaikan dilakukan di bengkel pihak ketiga. Hal ini membuat penggunaan suku cadang tidak asli menjadi semakin sulit.
Karena alasan tersebut, banyak pengamat teknologi lebih menyarankan membeli iPhone terbaru yang masih sesuai anggaran dibandingkan memilih perangkat bekas. Selain memiliki usia pakai yang lebih panjang, perangkat baru juga menawarkan dukungan perangkat lunak yang lebih lama.
Alasan Sebaiknya Tidak Membeli iPhone Bekas
1. Dukungan update iOS semakin terbatas
Dikutip dari BGR, sekilas, membeli iPhone 15 bekas tampak menjadi pilihan menarik. Smartphone yang dirilis pada 2023 tersebut masih tergolong baru dan telah mengusung desain modern.
Namun, iPhone 15 merupakan model terbaru yang tidak mendukung Apple Intelligence. Seluruh fitur kecerdasan buatan milik Apple hanya tersedia mulai iPhone 15 Pro dan model yang lebih baru.
Ke depan, semakin banyak pembaruan perangkat lunak Apple yang dirancang untuk memanfaatkan kemampuan Apple Intelligence. Akibatnya, sejumlah fitur terbaru kemungkinan tidak akan tersedia pada iPhone yang lebih lama meskipun perangkat tersebut masih memperoleh pembaruan sistem operasi.
Saat ini iOS 27 masih mendukung perangkat hingga iPhone 11 yang diperkenalkan pada 2019. Namun, tidak ada kepastian berapa lama Apple akan mempertahankan dukungan tersebut.
Secara umum, Apple memberikan pembaruan sistem operasi utama selama sekitar tujuh tahun. Setelah masa itu berakhir, perangkat biasanya hanya menerima pembaruan keamanan dan perbaikan bug.
Meski demikian, kebijakan tersebut tidak selalu sama untuk setiap produk. Sebagai contoh, watchOS 27 menghentikan dukungan untuk Apple Watch Series 6, Series 7, Series 8, Apple Watch SE generasi kedua, dan Apple Watch Ultra generasi pertama. Padahal, Apple Watch Series 8 dan Ultra pertama baru dirilis pada 2022 atau berusia sekitar empat tahun saat dukungannya dihentikan.
2. Perangkat keras sudah tidak lagi seoptimal model terbaru
Membeli iPhone bekas juga berarti harus menerima perangkat keras yang sudah berumur. Apple terus meningkatkan efisiensi baterai dan performa setiap generasi iPhone melalui penggunaan prosesor yang lebih hemat daya serta kapasitas baterai yang lebih besar.
Pada iPhone 17 Pro, misalnya, Apple tidak lagi menggunakan material titanium dan menghadirkan sistem pendingin vapor chamber agar prosesor tetap dingin ketika menjalankan beban kerja berat. Teknologi tersebut membantu menjaga performa sekaligus mengurangi konsumsi baterai.
Selain itu, beberapa fitur penting juga hanya tersedia pada model yang lebih baru. Sebagai contoh, iPhone 16 belum memiliki fitur always-on display dan ProMotion, sedangkan kedua fitur tersebut sudah tersedia pada iPhone 17 meski sebelumnya hanya hadir di model Pro.
Sementara itu, iPhone 15 belum dibekali camera control, sedangkan iPhone 14 juga belum memiliki action button. Kapasitas penyimpanan juga menjadi pertimbangan penting. iPhone 17 kini hadir dengan penyimpanan dasar 256 GB, meningkat dibandingkan kapasitas awal 128 GB yang digunakan pada iPhone 13 hingga iPhone 16.
Jika membeli iPhone 12 atau iPhone SE generasi ketiga keluaran 2022, Anda mungkin hanya memperoleh penyimpanan 64 GB. Kapasitas tersebut sudah tergolong terbatas untuk kebutuhan penggunaan pada 2026.
Perbedaan kemampuan kamera, kecepatan pengisian daya, hingga fitur perangkat lunak juga menjadi alasan mengapa membeli perangkat keras lama kurang menguntungkan, terutama jika ponsel akan digunakan dalam jangka waktu yang panjang.
3. Garansi dan AppleCare+ biasanya sudah tidak berlaku
Setiap iPhone baru memperoleh garansi resmi Apple selama satu tahun. Garansi tersebut tetap berlaku meskipun perangkat dibeli melalui penjual resmi selain Apple, meski layanan perbaikannya umumnya hanya tersedia di negara tempat perangkat dibeli.
Berbeda dengan perangkat baru, sebagian besar iPhone bekas sudah melewati masa garansi resminya. Memang ada pengguna yang menjual iPhone bekas beserta perlindungan AppleCare+, tetapi kasus seperti ini relatif jarang ditemui.
Sebagian besar iPhone bekas dijual tanpa garansi maupun AppleCare+. Perlu diketahui, Apple hanya memberikan waktu 60 hari setelah pembelian perangkat baru untuk menambahkan perlindungan AppleCare+. Setelah melewati batas tersebut, layanan itu tidak lagi dapat diaktifkan.
Artinya, apabila terjadi kerusakan setelah membeli iPhone bekas, seluruh biaya perbaikan harus ditanggung sendiri. Biaya servis resmi Apple pun tidak murah.
Sebagai contoh, penggantian baterai iPhone 17 Pro Max dimulai dari US$ 119. Sementara itu, biaya penggantian layar mencapai US$ 379 dan beberapa jenis perbaikan bahkan dapat menembus US$ 799.
4. Risiko membeli iPhone rekondisi dari penjual yang tidak tepercaya
Saat ini banyak marketplace dan toko pihak ketiga yang menawarkan iPhone rekondisi maupun bekas. Sebagian memang memiliki reputasi baik, tetapi tidak sedikit pula penjual di platform seperti Facebook Marketplace yang menawarkan harga jauh lebih murah tanpa jaminan kondisi perangkat.
Risiko penipuan menjadi jauh lebih besar apabila pembeli tidak memahami kondisi teknis sebuah iPhone. Dari foto yang diunggah penjual, sering kali sulit mengetahui apakah perangkat memiliki kerusakan fisik, menggunakan komponen asli, atau pernah mengalami perbaikan dengan suku cadang tidak resmi.
Pembeli juga tidak dapat memastikan apakah perangkat pernah terinfeksi malware, masih mendukung pembaruan iOS terbaru, atau bahkan merupakan barang hasil pencurian.
Salah satu langkah yang disarankan adalah meminta foto nomor seri perangkat. Nomor tersebut dapat digunakan untuk memeriksa status garansi, usia perangkat, kompatibilitas pembaruan iOS, hingga memastikan apakah perangkat pernah dilaporkan hilang atau dicuri.
Membeli iPhone bekas pada dasarnya mirip seperti membeli mobil bekas. Jika memahami apa yang harus diperiksa, Anda bisa mendapatkan penawaran menarik. Sebaliknya, jika kurang teliti, perangkat tersebut justru dapat menimbulkan biaya tambahan yang tidak sedikit.
5. Kondisi baterai menjadi masalah yang paling sering ditemui
Salah satu kelemahan terbesar membeli iPhone bekas adalah kesehatan baterainya. Dalam penggunaan normal, kapasitas baterai iPhone umumnya berkurang hingga sekitar 10% setelah satu tahun pemakaian. Penurunan tersebut masih tergolong wajar.
Namun, apabila perangkat yang dibeli sudah berusia beberapa tahun, kemungkinan besar baterainya sudah mengalami penurunan performa yang cukup signifikan sehingga perlu diganti.
Biaya penggantian baterai resmi Apple berkisar mulai dari US$ 89 untuk iPhone 11 hingga US$ 119 untuk model-model terbaru. Jika baterai tidak segera diganti, pengguna harus lebih sering mengisi daya atau membawa power bank saat beraktivitas.
Baterai yang sudah aus juga dapat menyebabkan pengalaman penggunaan menjadi kurang nyaman. Dalam beberapa kasus, iPhone bahkan dapat mati mendadak meskipun indikator baterai belum menunjukkan angka nol persen.
Apple memang terus meningkatkan daya tahan baterai melalui peningkatan jumlah siklus pengisian dan berbagai fitur manajemen daya pada setiap generasi iPhone.
Namun, jika memilih iPhone bekas yang usianya sudah cukup tua, kemungkinan besar Anda tetap akan menghadapi berbagai masalah baterai yang umum terjadi pada perangkat yang telah lama digunakan.