-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Ketidakmampuan harga emas bertahan di atas level US$ 4.100 per troy ounce

Minggu, 26 Juli 2026 | Juli 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-26T16:45:47Z

 


Ketidakmampuan harga emas bertahan di atas level US$ 4.100 per troy ounce menunjukkan risiko pelemahan dalam jangka pendek. Meski demikian, BlackRock, perusahaan pengelola aset terbesar di dunia, tetap menyarankan investor mempertahankan sebagian alokasi investasi pada logam mulia tersebut.

 

Manajer Portofolio BlackRock Global Allocation Strategy Russ Koesterich mengatakan daya tarik emas di kalangan investor mulai berkurang. Saat ini, pelaku pasar lebih memusatkan perhatian pada perusahaan yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba dan arus kas yang kuat.

 

Meski demikian, Koesterich menilai alasan jangka panjang untuk mempertahankan emas dalam portofolio investasi masih tetap relevan.

 

Dalam catatan terbarunya yang dikutip dari Kitco News, Minggu (26/7/2026), Koesterich menyebut harga emas telah turun sekitar 25% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Januari setelah mengawali tahun dengan reli yang kuat. Secara year on year, harga emas juga telah melemah sekitar 7%.

 

Menurut dia, lonjakan harga emas pada awal tahun telah mengubah peran logam mulia tersebut dalam portofolio investor. Momentum kenaikan yang sangat kuat membuat emas tidak lagi sepenuhnya berfungsi sebagai aset lindung nilai atau safe haven ketika pasar mengalami tekanan.

 

"Alih-alih memberikan perlindungan ketika pasar turun, emas justru menambah risiko dalam portofolio," ujar Koesterich.

 

Namun, ia menambahkan pelemahan harga emas tidak hanya dipengaruhi perubahan momentum pasar. Faktor utama yang menekan harga logam mulia adalah kembali menguatnya dolar Amerika Serikat (AS).

 

"Meskipun pembicaraan mengenai strategi investasi untuk mengantisipasi penurunan nilai mata uang semakin ramai, dolar justru menguat tajam sejak mencapai level terendah pada Januari. Indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) telah naik lebih dari 6%," katanya.

 

DXY merupakan indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, termasuk euro, yen, dan pound sterling.

 

Koesterich menjelaskan kekhawatiran terhadap potensi guncangan energi global, ketahanan pasar saham AS, serta perubahan drastis ekspektasi kebijakan bank sentral AS telah mendorong penguatan dolar.

 

Pakar Prediksi Harga Emas Tembus US$ 6.000, Ini Pendorong Utamanya

"Ketika dolar menguat, suku bunga jangka panjang juga meningkat, terutama suku bunga riil atau suku bunga yang telah disesuaikan dengan inflasi," tuturnya.

 

Imbal hasil riil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang dihitung berdasarkan pasar Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) meningkat dari sekitar 1,65% pada awal Maret menjadi 2,2%.

 

TIPS merupakan surat utang pemerintah AS yang nilai pokoknya disesuaikan dengan tingkat inflasi sehingga memberikan perlindungan terhadap penurunan daya beli. "Perubahan kondisi suku bunga tersebut menjadi hambatan lain bagi harga emas," ujar Koesterich.

 

Selain itu, ia menilai saham perusahaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi faktor yang mengurangi minat investor terhadap emas.

 

"Bahkan di pasar saham, kinerja indeks semakin banyak ditopang oleh kelompok perusahaan AI yang jumlahnya makin terbatas, tetapi mencatat pertumbuhan laba sangat tinggi," jelasnya.

Koesterich menambahkan emas tidak menghasilkan laba maupun arus kas sehingga investor untuk sementara lebih memilih aset yang menawarkan pertumbuhan keuntungan.

 

Meski menghadapi berbagai tekanan, ia menegaskan emas tetap memiliki peran penting dalam portofolio investasi yang terdiversifikasi.

 

"Alasan struktural untuk memegang emas masih tetap berlaku. Tingkat utang dan defisit masih berada di level historis. Risiko penurunan nilai mata uang juga tetap menjadi ancaman jangka panjang," ungkapnya.

 

Ia mengakui emas tidak mampu memberikan perlindungan optimal ketika pasar mengalami tekanan pada Maret. Namun, kondisi geopolitik global juga belum menunjukkan perbaikan.

 

"Seluruh faktor tersebut tetap mendukung alasan untuk mempertahankan emas dalam porsi moderat di dalam portofolio," pungkas Koesterich.

×
Berita Terbaru Update