Korban jiwa dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan
Iran terus bertambah seiring meningkatnya intensitas serangan kedua negara.
Serangan Iran ke pangkalan militer AS di Yordania
mengakibatkan dua tentara AS tewas, satu orang hilang, dan empat lainnya harus
menjalani perawatan di rumah sakit. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari
2026, sedikitnya 16 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 430
lainnya terluka.
Dilansir dari Al Jazeera, otoritas Iran menyebut dari pihak
mereka sedikitnya 50 orang meninggal dunia dan 517 lainnya terluka akibat
serangan terbaru AS yang berlangsung sejak awal Juli 2026.
Hingga kini, pemerintah Iran belum mengungkapkan secara
menyeluruh besaran kerusakan infrastruktur maupun kerugian material akibat
serangan AS yang telah memasuki hari kedelapan.
Konflik kedua negara juga semakin berfokus pada Selat
Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan
minyak dan gas alam dunia.
Profesor Hubungan Internasional dari Georgetown University
di Qatar, Mehran Kamrava, menilai Iran sejauh ini masih menerapkan prinsip
serangan yang proporsional dengan membidik fasilitas yang sejenis dengan target
serangan AS di wilayah Iran.
Meski demikian, ia memperingatkan strategi tersebut berisiko
menjadi bumerang.
Menurut Kamrava, Iran berpotensi melakukan langkah yang
justru merugikan kepentingannya sendiri jika terus memperluas serangan di
kawasan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Ia menilai sejumlah negara Teluk telah menyiapkan jalur
alternatif untuk mengekspor minyak dan gas sehingga ketergantungan terhadap
Selat Hormuz mulai berkurang.
Sementara itu, analis politik internasional dari Doha
Institute for Graduate Studies, Muhanad Seloom, menilai serangan terbaru AS
bertujuan membuka jalan bagi penggunaan kekuatan militer di sekitar Selat
Hormuz dengan mengganggu jalur transportasi di kawasan tersebut.
Menurutnya, Iran memanfaatkan posisi strategis Selat Hormuz
sebagai alat tekanan terhadap AS karena tidak memiliki kemampuan untuk
mengalahkan Washington melalui konfrontasi militer secara langsung.
Seloom mengatakan Teheran berharap gangguan terhadap
distribusi minyak dunia akan mendorong kenaikan harga energi sehingga memicu
tekanan politik di dalam negeri AS dan memaksa Presiden Donald Trump mengambil
sikap yang lebih lunak dalam perundingan.
Dari sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)
mengeklaim telah memberikan "pukulan berat" terhadap pangkalan
militer AS di Yordania, Kuwait, Oman, dan beberapa negara lainnya.
Brigadir Jenderal Yadollah Javani menyatakan operasi militer
Iran akan terus berlanjut. Ia juga menuduh AS berupaya menutupi kekalahan
militernya melalui serangan lanjutan serta berusaha mengembalikan kondisi Selat
Hormuz seperti sebelum perang.
Javani turut menegaskan Iran akan membalas pihak-pihak yang
dianggap bertanggung jawab atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali
Khamenei.