Penghitungan suara pemilu Israel yang digelar pada Selasa
(27/10/2026) waktu setempat mulai memperlihatkan perubahan peta persaingan.
Setelah exit poll sempat menempatkan kubu oposisi di depan, hasil penghitungan
sementara justru menunjukkan blok Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperoleh
proyeksi 53 kursi, sedangkan blok oposisi pimpinan mantan kepala militer Gadi
Eisenkot meraih 48 kursi.
Pembaruan Komite Pemilihan Pusat Israel pada Rabu
(28/10/2026) menunjukkan sekitar 90%
surat suara telah dihitung. Dua partai Arab, yakni United Arab List (UAL) dan
Joint List, diproyeksikan memperoleh total 19 kursi di Knesset atau parlemen
Israel yang memiliki 120 kursi.
Meski unggul dalam penghitungan sementara, blok Netanyahu
belum memiliki cukup kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas. Hal serupa
berlaku bagi kubu Eisenkot. Keduanya membutuhkan sedikitnya 61 kursi untuk
menguasai mayoritas parlemen.
Perubahan tersebut berbeda dari hasil exit poll yang dirilis
ketika tempat pemungutan suara (TPS) ditutup pada Selasa malam. Saat itu,
sejumlah lembaga penyiaran Israel memperkirakan blok oposisi unggul tipis atas
koalisi Netanyahu.
Dengan masih adanya surat suara yang belum dihitung, hasil
akhir pemilu belum dapat dipastikan. Persaingan kini berlanjut ke tahap
pembentukan koalisi, dengan partai-partai Arab berpotensi memegang peran
penting dalam menentukan arah pemerintahan berikutnya.
Mengubah Peta Persaingan
Hasil awal yang dirilis lembaga penyiaran publik Kan,
Channel 12, dan Channel 13 memperlihatkan persaingan ketat antara kubu Eisenkot
dan Netanyahu. Dalam proyeksi awal, blok Eisenkot diperkirakan memperoleh 52
hingga 53 kursi, sedangkan koalisi pemerintahan Netanyahu diproyeksikan meraih
50 kursi.
Pengumuman tersebut disambut sorak-sorai pendukung Partai
Yashar pimpinan Eisenkot di markas mereka di Tel Aviv. Eisenkot menyatakan
bahwa pihaknya telah mencetak sejarah. Ia juga berjanji akan memastikan
keputusan rakyat diterjemahkan menjadi pemerintahan Zionis yang stabil dan baik
bagi seluruh warga Israel. Sekutu Eisenkot dari Partai Beyachad, mantan Perdana
Menteri Yair Lapid, menyebut blok Netanyahu telah mengalami kekalahan telak.
Namun, gambaran tersebut berubah setelah penghitungan suara
berlanjut. Ketika data dari lebih banyak TPS masuk, perolehan blok Netanyahu
meningkat hingga melampaui proyeksi awal exit poll.
Pada update Rabu (28/10/2026), Komite Pemilihan Pusat
memperkirakan blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, sedangkan blok Eisenkot
meraih 48 kursi. Dua partai Arab diproyeksikan menguasai total 19 kursi.
Perbedaan antara hasil exit poll dan penghitungan sementara
memperlihatkan pentingnya membedakan proyeksi lembaga penyiaran dari hasil
penghitungan suara. Hasil akhir tetap bergantung pada seluruh surat suara yang
sah dan proses pengesahan resmi.
Peluang Netanyahu
Di markas Partai Likud di Yerusalem, para pendukung
Netanyahu tetap berharap hasil akhir memungkinkan koalisi petahana melanjutkan
pemerintahan. Likud diproyeksikan menjadi partai tunggal terbesar di parlemen,
meskipun gabungan kursi partai tersebut dan sekutunya belum mencapai mayoritas.
Sejumlah pendukung Likud mengaku gugup menghadapi hasil
sementara. Menteri Luar Negeri Gideon Saar, sekutu Netanyahu, menilai perayaan
dari kubu kiri masih terlalu dini.
BACA JUGA
Kenapa Tak Ada Partai yang Menang Mutlak pada Pemilu Israel?
Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir
meminta pendukung partai sayap kanan Jewish Power berdoa agar hasil akhir
memungkinkan terbentuknya pemerintahan yang sepenuhnya berhaluan kanan.
Netanyahu kemudian muncul di markas Likud dan menyampaikan
pidato yang menegaskan keyakinannya terhadap kekuatan blok kanan. Ia
menyatakan, bloknya memiliki mayoritas besar dan menyerukan pembentukan
pemerintahan nasional yang kuat dan berhaluan kanan.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika hasil exit poll masih
memperlihatkan persaingan ketat dan penghitungan suara belum selesai. Hasil
sementara yang menempatkan blok Netanyahu di posisi terdepan belum berarti
koalisi pemerintahannya telah memperoleh mayoritas parlemen.
Dengan proyeksi 53 kursi, blok Netanyahu masih membutuhkan
dukungan tambahan untuk mencapai ambang 61 kursi. Pilihan untuk memperoleh
dukungan dari partai oposisi atau membentuk koalisi yang lebih luas dapat
menjadi bagian dari negosiasi politik setelah hasil pemilu dikonfirmasi.
Potensi Partai Arab untuk Koalisi
Selain persaingan antara Netanyahu dan Eisenkot, perhatian
tertuju pada dua partai Arab, yakni United Arab List (UAL) dan Joint List.
Keduanya diproyeksikan memperoleh total 19 kursi dalam penghitungan sementara,
meningkat dibandingkan jumlah kursi yang mereka miliki sebelumnya.
Warga Arab Israel mencakup sekitar seperlima populasi negara
tersebut. Sebagian dari mereka mengidentifikasi diri sebagai warga Palestina
yang memiliki kewarganegaraan Israel.
Kenaikan perolehan kursi kedua partai itu sejalan dengan
meningkatnya partisipasi pemilih Arab Israel. Dengan jumlah kursi yang
diproyeksikan mencapai 19, keduanya berpotensi menjadi penentu dalam upaya
pembentukan koalisi pemerintahan.
Namun, dukungan partai-partai Arab tidak otomatis menjamin
terbentuknya mayoritas. Sejumlah partai dalam blok oposisi sebelumnya menolak
atau membatasi kemungkinan bekerja sama dengan mereka dalam pemerintahan.
Pemimpin United Arab List, Mansour Abbas, berharap hasil
akhir memungkinkan blok perubahan dan partainya mengumpulkan dukungan
mayoritas.
"Saya berharap angka-angka itu sesuai harapan dan kami,
Blok Perubahan dan UAL, dapat memastikan ada 61 kursi Knesset," kata
Abbas.
Mayoritas di parlemen Israel membutuhkan sedikitnya 61 dari
total 120 kursi. Karena itu, dukungan dari partai-partai di luar dua blok utama
dapat menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang mampu membentuk
pemerintahan.
Peran partai Abbas bukan hal baru dalam politik Israel.
Setelah pemilu 2021, partainya menjadi bagian dari koalisi pemerintahan yang
dipimpin Naftali Bennett dan Yair Lapid. Namun, pemerintahan tersebut hanya
bertahan selama satu tahun sebelum runtuh.
Ketua Joint List, Yousef Jabareen, menegaskan, pihaknya
tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik.
"Kelompok ini tidak dapat diabaikan dalam skenario
politik apa pun," ujarnya.
Meski demikian, peluang partai-partai Arab untuk memengaruhi
pembentukan pemerintahan bergantung pada kesediaan partai lain untuk bekerja
sama. Sejumlah pemimpin politik Israel sebelumnya menyatakan keberatan terhadap
pembentukan koalisi bersama partai-partai Arab.
Situasi ini membuat hasil penghitungan suara bukan
satu-satunya faktor penentu. Negosiasi antarpartai setelah pemilu juga akan
menentukan apakah Netanyahu dapat mempertahankan kekuasaan atau oposisi mampu
membentuk pemerintahan baru.
Partisipasi Pemilih Capai Level Tertinggi
Di tengah persaingan antarblok, pemilu Israel kali ini
mencatat tingkat partisipasi pemilih yang tinggi. Mengutip BBC, Kamis
(29/10/2026), Komite Pemilihan Pusat Israel melaporkan partisipasi mencapai
77,7% ketika TPS ditutup pada pukul 22.00 waktu setempat.
Angka tersebut menjadi tingkat partisipasi tertinggi pada
jam penutupan sejak 1999. Tingginya jumlah pemilih menunjukkan besarnya
keterlibatan masyarakat dalam pemilu kali ini.
Komite Pemilihan Pusat menolak permintaan Likud dan sejumlah
partai kanan untuk memperpanjang waktu pemungutan suara melewati pukul 22.00
waktu setempat.
“Keadaan saat ini
tidak membenarkan perpanjangan waktu,” bunyi pernyataan komite.
Lembaga tersebut juga menyatakan tingkat partisipasi tinggi
mencerminkan keterlibatan publik yang kuat dalam proses demokrasi.
Sebelum pemungutan suara berakhir, Netanyahu dan
sekutu-sekutunya telah mendorong para pendukung untuk datang ke TPS. Mereka
memperingatkan tentang kemungkinan meningkatnya partisipasi pemilih dari
kelompok kiri dan masyarakat Arab.
"Jika kalian tidak memilih, kita akan bangun besok
dengan pemerintahan sayap kiri, partai-partai Arab, Islam ekstrem, dan kita akan
kehilangan Israel,” kata Netanyahu dalam sebuah rekaman.
Tingginya partisipasi pemilih menjadi salah satu catatan
penting dalam pemilu kali ini. Namun, tingkat partisipasi tersebut tidak dengan
sendirinya menentukan kubu yang akan memperoleh mayoritas kursi parlemen.
Penghitungan Surat Suara Absen Masih Berlangsung
Meski sebagian besar surat suara telah dihitung, proses
penghitungan pemilu Israel belum sepenuhnya selesai. Selain surat suara reguler
yang masih memerlukan pemeriksaan, terdapat ratusan ribu surat suara melalui
mekanisme amplop ganda atau double-envelope ballots yang belum dihitung.
Pada pembaruan Rabu, jumlah surat suara tersebut
diperkirakan sekitar 430.000 hingga 480.000. Sebelumnya, laporan awal menyebut
jumlahnya dapat mencapai sekitar 600.000 surat suara. Angka tersebut masih
bersifat perkiraan karena petugas pemilu terus menerima dan memproses surat
suara.
Surat suara amplop ganda terutama berasal dari personel
militer, narapidana, diplomat yang bertugas di luar negeri, serta pemilih lain
yang tidak dapat memberikan suara di TPS yang telah ditentukan. Suara tersebut
diperiksa secara terpisah untuk memastikan pemilih tidak memberikan suara lebih
dari satu kali.
Penghitungan surat suara tersebut dijadwalkan dimulai pada
Kamis dini hari dan diperkirakan selesai pada Kamis malam. Hasilnya dapat
memengaruhi pembagian kursi di Knesset, terutama karena selisih perolehan kursi
di antara sejumlah partai relatif kecil.
Komite Pemilihan Pusat memperkirakan hasil akhir resmi akan
diumumkan pada 4 November 2026. Sebelum itu, angka perolehan kursi yang beredar
masih dapat berubah.
Setelah hasil akhir dikonfirmasi dan melalui konsultasi
dengan seluruh faksi politik, Presiden Israel Isaac Herzog akan mengundang
pemimpin partai yang dinilai memiliki peluang terbesar untuk membentuk koalisi
pemerintahan.
Proses tersebut dapat berlangsung selama beberapa pekan.
Pemimpin yang ditunjuk harus menggalang dukungan partai lain agar dapat
memperoleh mayoritas parlemen. Jika gagal membentuk pemerintahan dalam batas
waktu yang ditetapkan, Israel berpotensi harus menyelenggarakan pemilu kembali.
Selama proses tersebut berlangsung, Netanyahu tetap
menjalankan tugas sebagai perdana menteri sementara. Namun, belum terbentuknya
mayoritas membuat susunan pemerintahan berikutnya masih menjadi persoalan yang
harus diselesaikan melalui negosiasi politik.
Pemilu di Tengah Isu Keamanan dan Arah Politik
Pemilu kali ini merupakan pemilihan umum pertama sejak
serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Serangan
tersebut diikuti rangkaian perang di Gaza, Lebanon, dan Iran.
Bagi masyarakat Israel, pemilu ini dipandang sebagai salah
satu pemilihan penting dalam sejarah. Hasilnya tidak hanya berpengaruh terhadap
kepemimpinan Israel, tetapi juga dapat menentukan arah kebijakan Israel,
termasuk pendekatan terhadap keamanan, nasionalisme keagamaan, dan hubungan
dengan masyarakat internasional.
Sejumlah isu utama mewarnai kampanye. Di antaranya,
pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan yang mendahului serangan 7 Oktober,
penanganan perang regional, pembagian beban wajib militer, reformasi peradilan,
serta kedudukan Israel di tingkat internasional.
Berbagai persoalan tersebut menjadi latar persaingan antara
kubu Netanyahu dan oposisi. Para pemilih dihadapkan pada pilihan mengenai
kepemimpinan dan arah kebijakan negara di tengah situasi keamanan yang rumit.
Kritik terhadap penanganan keamanan sebelum serangan Hamas
menjadi salah satu persoalan yang membayangi Netanyahu. Selain itu, perdebatan
mengenai kewajiban militer bagi warga ultra-Ortodoks dan reformasi peradilan
juga memengaruhi persaingan politik.
Perbedaan pandangan para pemilih mencerminkan persaingan
mengenai kepemimpinan dan arah politik Israel. Kini, setelah penghitungan suara
mengubah peta persaingan dari hasil exit poll, perhatian beralih pada kemampuan
masing-masing kubu menggalang dukungan untuk membentuk pemerintahan.
