-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama pekan ini periode 19–23 Januari 2026 ditutup dengan pergerakan yang bervariasi.

Minggu, 25 Januari 2026 | Januari 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-24T20:18:20Z

 


Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama pekan ini periode 19–23 Januari 2026 ditutup dengan pergerakan yang bervariasi. Sejumlah indikator perdagangan menunjukkan penguatan, meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah secara mingguan.

BEI mencatat rata-rata volume transaksi harian mengalami peningkatan paling signifikan, yakni naik 9,32% menjadi 65,73 miliar lembar saham, dibandingkan pekan sebelumnya sebesar 60,13 miliar lembar saham.

Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian juga tumbuh 3,59% menjadi Rp 33,85 triliun, dari sebelumnya Rp 32,67 triliun. Namun, rata-rata frekuensi transaksi harian justru mengalami penurunan 2,66% menjadi 3,75 juta kali transaksi, dari 3,86 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Sementara itu, IHSG tercatat melemah 1,37% dan ditutup pada level 8.951,010, turun dari posisi 9.075,406 pada akhir pekan sebelumnya. Meski demikian, sepanjang pekan tersebut IHSG sempat mencatatkan level tertinggi sepanjang masa (all time high) dengan penutupan di posisi 9.134,700 pada Selasa (20/1/2026).

Sejalan dengan pelemahan IHSG, kapitalisasi pasar BEI juga mengalami penurunan 1,62% menjadi Rp 16.244 triliun, dari Rp 16.512 triliun pada sepekan sebelumnya.

Dari sisi investor asing, pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini tercatat beli bersih (net buy) sebesar Rp 759 miliar. Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing membukukan beli bersih Rp 4,05 triliun, mencerminkan kepercayaan yang masih terjaga terhadap pasar saham Indonesia.

Proyeksi IHSG 2026

Sepanjang 2026 ini, IHSG diperkirakan bergerak dengan volatilitas tinggi, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, potensi perubahan kebijakan indeks internasional, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Ekonom dan praktisi pasar modal Hans Kwee menilai meskipun pergerakan IHSG akan lebih fluktuatif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tren jangka panjang indeks masih mengarah naik. Menurutnya, terdapat dua skenario utama pergerakan IHSG pada 2026.

Dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang menembus level psikologis 10.000, sementara pada skenario pesimistis, indeks berpotensi terkoreksi hingga 7.500. Namun, Hans menegaskan arah dominan IHSG tetap positif.

IHSG Diyakini Tembus 10.000 meski Rupiah Alami Tekanan

“Fluktuasi pasar saham akan sangat tinggi pada 2026. Arah IHSG itu menuju 10.000, biar pun dengan bear case itu ke 7.500 dalam 12 bulan ke depan, tetaapi arahnya naik dengan volatilitas yang sangat tinggi,” ujarnya dalam acara “Edukasi Wartawan terkait Arah IHSG di Tengah Tensi Geopolitik dan Potensi Bubble AI” di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Sentimen MSCI Jadi Penentu Jangka Pendek

Salah satu sentimen jangka pendek yang dinilai krusial adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait rencana perubahan metodologi penghitungan free float untuk emiten Indonesia. MSCI tengah mengkaji kebijakan yang berpotensi mengeluarkan kepemilikan perseroan terbatas (PT) dari komponen free float.

Hans menilai kebijakan tersebut kurang tepat karena PT bukan pemegang saham pengendali dan seharusnya tetap dikategorikan sebagai investor publik. Meski begitu, ia memperkirakan MSCI tidak akan menerapkan perubahan tersebut dalam waktu dekat.

“Kami perkirakan MSCI tidak akan melakukan perubahan mekanisme perhitungan free float Indonesia pada pengumuman akhir Januari,” ujarnya.

Kebijakan Trump dan The Fed Tekan Pasar Global

 

Dari sisi eksternal, volatilitas IHSG juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, khususnya kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penerapan tarif impor tinggi dinilai dapat meningkatkan inflasi AS, menekan daya beli, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Kondisi ini membuat The Fed sulit menurunkan suku bunga secara agresif, meskipun Trump mendorong penurunan bunga untuk memperluas ruang fiskal AS. Ketidaksinkronan kebijakan tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Selain AS, perkembangan ekonomi Eropa dan China juga menjadi faktor penting. Uni Eropa diperkirakan menghadapi tekanan apabila tarif AS diperluas, sementara China masih bergulat dengan deflasi produsen, lemahnya sektor properti, dan tingginya pengangguran muda.

Menurut Hans, kebijakan Beijing memperkuat yuan dan meningkatkan likuiditas pasar saham berpotensi menjadi katalis positif bagi Indonesia.

 “Kebijakan Beijing memperkuat mata uang dan mendukung konsumsi bisa jadi katalis positif bagi Indonesia sepanjang 2026,” jelasnya.

AI Dinilai Belum Masuk Fase Bubble

Terkait teknologi, Hans menepis kekhawatiran bahwa adopsi artificial intelligence (AI) akan menciptakan gelembung dalam waktu dekat. Ia menilai belanja modal sektor AI masih relatif kecil dibandingkan PDB global.

Sebaliknya, perkembangan AI justru mendorong peningkatan kebutuhan energi dan pusat data, sehingga membuka peluang bagi sektor energi, termasuk batu bara dan energi terbarukan. Meski demikian, adopsi AI juga dinilai berpotensi menimbulkan volatilitas baru di pasar tenaga kerja global.

Risiko Fiskal Dalam Negeri Masih Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, pasar mencermati posisi fiskal Indonesia yang kian terbatas. Defisit APBN 2025 tercatat mencapai 2,92% dari PDB, mendekati batas maksimal 3%. Kondisi ini membuat pelaku pasar menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan.

Meski volatilitas tinggi diperkirakan akan terus mewarnai pasar, Hans menilai koreksi merupakan bagian sehat dari tren kenaikan IHSG.

“Koreksi menjadi bagian sehat dari tren naik, selama tidak menembus level teknikal penting,” ujarnya.

Ia juga merekomendasikan sejumlah sektor yang dinilai menarik sepanjang 2026, antara lain konsumer, energi, batu bara, emas, serta sektor pertambangan terkait nikel dan timah.

“Rekomendasi kami, kami masih melihat saham big cap menarik, sektor konsumer bagus, energi dan batu bara akan cenderung bagus, dan kemudian komoditas emas dan mining yang terkait nikel, timah, dan lain-lain itu cenderung bagus di tahun 2026,” katanya.

Bisa Tembus 10.500

 

Dalam risetnya, Mirae Asset Sekuritas Indonesia juga menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif, dengan target IHSG pada level 10.500, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, IHSG menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya. 

“Menariknya, penguatan IHSG pada awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember 2025 yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ujar Rully, Senin (19/1/2026).

Harga Emas Dunia Dekati US$ 5.000

Selain itu, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks dollar AS (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.

“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama apabila kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelas Rully.

Menurutnya, dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,3% pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1% pada 2025. Momentum ini akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan.

“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Apabila likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” kata Rully.

×
Berita Terbaru Update