-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Banjir yang merendam Perumahan Periuk Damai, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, belum menunjukkan tanda-tanda surut meski telah memasuki hari keempat. Genangan air

Selasa, 27 Januari 2026 | Januari 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-26T18:07:26Z

 




Banjir yang merendam Perumahan Periuk Damai, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, belum menunjukkan tanda-tanda surut meski telah memasuki hari keempat. Genangan air setinggi 1 meter hingga 3,5 meter membuat aktivitas warga terhenti total dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.

Selamet (53), salah satu warga terdampak, mengatakan rumahnya hingga kini masih terendam air dengan ketinggian mencapai lebih dari 3 meter. Letak rumah yang berada di bagian paling ujung kawasan perumahan membuat air sulit mengalir keluar.

“Air masih setinggi atap. Karena posisi rumah saya di ujung, jadi paling lama surut,” kata Selamet saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin (26/1/2026).

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online itu mengaku kehilangan mata pencarian sejak banjir melanda. Bahkan sebelum air meninggi, akses jalan yang terputus membuatnya tidak dapat bekerja. “Kalau kondisi normal, penghasilan tidak menentu, bisa Rp 20.000 sampai Rp 50.000 per hari. Sekarang setelah banjir, benar-benar tidak ada pemasukan,” ujarnya.

Meski kebutuhan konsumsi di pengungsian relatif terpenuhi, Selamet menyebut masih banyak kebutuhan lain yang belum tercukupi. Ia mengaku terbantu dengan uluran tangan dari keluarga dan rekan, meski bantuan tersebut terbatas.

“Untuk makan aman, tetapi kebutuhan lain tetap banyak. Alhamdulillah masih ada saudara dan teman yang membantu sebisanya,” tuturnya.

Banjir juga mengakibatkan kerusakan parah pada perabotan rumah tangga miliknya. Sejumlah peralatan elektronik seperti kulkas dan mesin cuci dipastikan rusak setelah terendam air selama beberapa hari. “Elektronik sudah pasti rusak semua. Kasur juga tidak bisa dipakai lagi karena sudah empat hari terendam,” katanya.

Menurut Selamet, setelah banjir surut, warga akan sangat membutuhkan bantuan berupa kasur, perlengkapan tidur, serta alat kebersihan untuk membersihkan rumah. Selain itu, banyak plafon rumah yang diperkirakan mengalami kerusakan akibat terendam air.

Ia menilai banjir di Periuk Damai kerap terjadi karena posisi wilayah tersebut berada di dataran paling rendah. Kawasan ini menjadi titik akhir aliran air dari daerah sekitarnya.

“Kalau wilayah lain sudah kering, airnya justru mengalir ke sini. Makanya di sini paling terakhir surut,” jelasnya.

Selamet juga menyoroti kondisi tanggul di sekitar perumahan yang dinilai masih lemah dan perlu ditinggikan sebagai solusi jangka panjang. Selain itu, normalisasi danau serta sungai dianggap penting, meski dihadapkan pada kendala pembebasan lahan.

“Normalisasi memang perlu, tetapi banyak lahan milik investor yang tidak mudah dibebaskan. Itu jadi tantangan pemerintah,” ujarnya.Ia berharap adanya kerja sama lintas daerah, mulai dari Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan, Jakarta, hingga Bogor sebagai wilayah hulu. Menurutnya, penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Kita harus kerja bersama, jangan saling menyalahkan. Ini persoalan alam, tetapi dampaknya bisa dikurangi kalau semua daerah kompak,” pungkasnya.

Berdasarkan data RW setempat, banjir berdampak pada 286 keluarga atau sekitar 960 jiwa. Dari jumlah tersebut, tercatat 136 warga lanjut usia yang memerlukan perhatian khusus di lokasi pengungsian sementara.

 

×
Berita Terbaru Update