Banjir yang merendam Perumahan Periuk Damai, Kecamatan
Periuk, Kota Tangerang, belum menunjukkan tanda-tanda surut meski telah
memasuki hari keempat. Genangan air setinggi 1 meter hingga 3,5 meter membuat
aktivitas warga terhenti total dan berdampak langsung pada perekonomian
masyarakat.
Selamet (53), salah satu warga terdampak, mengatakan
rumahnya hingga kini masih terendam air dengan ketinggian mencapai lebih dari 3
meter. Letak rumah yang berada di bagian paling ujung kawasan perumahan membuat
air sulit mengalir keluar.
“Air masih setinggi atap. Karena posisi rumah saya di ujung,
jadi paling lama surut,” kata Selamet saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin
(26/1/2026).
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online
itu mengaku kehilangan mata pencarian sejak banjir melanda. Bahkan sebelum air
meninggi, akses jalan yang terputus membuatnya tidak dapat bekerja. “Kalau
kondisi normal, penghasilan tidak menentu, bisa Rp 20.000 sampai Rp 50.000 per
hari. Sekarang setelah banjir, benar-benar tidak ada pemasukan,” ujarnya.
Meski kebutuhan konsumsi di pengungsian relatif terpenuhi,
Selamet menyebut masih banyak kebutuhan lain yang belum tercukupi. Ia mengaku
terbantu dengan uluran tangan dari keluarga dan rekan, meski bantuan tersebut
terbatas.
“Untuk makan aman, tetapi kebutuhan lain tetap banyak.
Alhamdulillah masih ada saudara dan teman yang membantu sebisanya,” tuturnya.
Banjir juga mengakibatkan kerusakan parah pada perabotan
rumah tangga miliknya. Sejumlah peralatan elektronik seperti kulkas dan mesin
cuci dipastikan rusak setelah terendam air selama beberapa hari. “Elektronik
sudah pasti rusak semua. Kasur juga tidak bisa dipakai lagi karena sudah empat
hari terendam,” katanya.
Menurut Selamet, setelah banjir surut, warga akan sangat
membutuhkan bantuan berupa kasur, perlengkapan tidur, serta alat kebersihan
untuk membersihkan rumah. Selain itu, banyak plafon rumah yang diperkirakan
mengalami kerusakan akibat terendam air.
Ia menilai banjir di Periuk Damai kerap terjadi karena
posisi wilayah tersebut berada di dataran paling rendah. Kawasan ini menjadi
titik akhir aliran air dari daerah sekitarnya.
“Kalau wilayah lain sudah kering, airnya justru mengalir ke
sini. Makanya di sini paling terakhir surut,” jelasnya.
Selamet juga menyoroti kondisi tanggul di sekitar perumahan
yang dinilai masih lemah dan perlu ditinggikan sebagai solusi jangka panjang.
Selain itu, normalisasi danau serta sungai dianggap penting, meski dihadapkan
pada kendala pembebasan lahan.
“Normalisasi memang perlu, tetapi banyak lahan milik
investor yang tidak mudah dibebaskan. Itu jadi tantangan pemerintah,” ujarnya.Ia
berharap adanya kerja sama lintas daerah, mulai dari Kota Tangerang, Kabupaten
Tangerang, Tangerang Selatan, Jakarta, hingga Bogor sebagai wilayah hulu.
Menurutnya, penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Kita harus kerja bersama, jangan saling menyalahkan. Ini
persoalan alam, tetapi dampaknya bisa dikurangi kalau semua daerah kompak,”
pungkasnya.
Berdasarkan data RW setempat, banjir berdampak pada 286
keluarga atau sekitar 960 jiwa. Dari jumlah tersebut, tercatat 136 warga lanjut
usia yang memerlukan perhatian khusus di lokasi pengungsian sementara.