-->

Notification

×

Iklan

Iklan

banner 728x90

Indeks Berita

Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dan memunculkan kekhawatiran luas akan kemungkinan pecahnya Perang Dunia III

Minggu, 25 Januari 2026 | Januari 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-24T19:38:21Z

Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dan memunculkan kekhawatiran luas akan kemungkinan pecahnya Perang Dunia III.

Konflik yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Iran, serta dinamika di kawasan Eropa dan Timur Tengah membuat isu keamanan global berada dalam situasi penuh ketidakpastian.

Kondisi ini mendorong banyak pihak mempertanyakan satu hal mendasar, negara mana yang paling aman jika perang global, bahkan perang nuklir, benar-benar terjadi?

Ancaman Nyata Perang Dunia III

Melansir laporan The Economic Times, isu Perang Dunia III bukan lagi sebatas narasi fiksi. Peringatan keras datang dari Annie Jacobsen, pakar perang nuklir sekaligus jurnalis investigatif, yang menilai bahwa jika konflik nuklir benar-benar pecah, kehancuran global akan berlangsung dalam waktu sangat singkat.

Menurut analisisnya, serangan nuklir pertama berpotensi menewaskan miliaran manusia hanya dalam hitungan menit. Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Seorang komandan senior Iran, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa Republik Islam Iran siap memberikan respons tegas terhadap setiap ancaman militer.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya retorika Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan agresi militer baru terhadap Iran.

Situasi semakin kompleks ketika Iran menuding adanya campur tangan asing dalam gelombang protes domestik, termasuk dugaan dukungan intelijen dan logistik dari Amerika Serikat serta Israel.

Pada sisi lain, para pejabat Iran menegaskan kesiapan pertahanan nasional berada pada level tertinggi, sembari menyatakan bahwa Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap jika konflik tak terhindarkan.

Risiko Eskalasi Nuklir dan Dampak bagi Umat Manusia

Ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel disebut berada pada titik terburuk sejak konflik bersenjata singkat pada Juni lalu.

Sejumlah analis menilai eskalasi saat ini terasa lebih terarah dan sistematis dibanding sekadar kecelakaan geopolitik. Bahkan, potensi meluasnya konflik regional menjadi perang global disebut bukan lagi kemungkinan yang jauh.

Annie Jacobsen menjelaskan bahwa rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari Rusia hanya memerlukan waktu sekitar 26 menit untuk mencapai Pantai Timur Amerika Serikat.

Sejak sistem peringatan dini mendeteksi peluncuran, para pemimpin dunia hanya memiliki waktu kurang dari 90 menit untuk mengambil keputusan krusial yang menentukan nasib peradaban manusia.

Dalam perhitungannya, sekitar 5 miliar orang berpotensi tewas dalam waktu kurang dari satu jam setelah serangan nuklir pertama. Namun, kehancuran tidak berhenti pada ledakan awal. Debu dan asap dari ledakan nuklir akan menutup sinar matahari dan memicu penurunan suhu ekstrem atau nuclear winter.

 

Akibatnya, sebagian besar wilayah dunia, terutama lintang tengah, akan mengalami musim dingin berkepanjangan hingga bertahun-tahun.

Daerah pertanian utama seperti Iowa dan Ukraina diperkirakan tertutup salju hingga satu dekade, menyebabkan kegagalan panen global dan kelaparan massal.

Dalam kondisi ini, manusia diperkirakan harus hidup di bawah tanah dengan sumber daya sangat terbatas akibat rusaknya lapisan ozon dan meningkatnya paparan radiasi.

Di tengah skenario terburuk Perang Dunia III, para analis menilai tidak ada negara yang benar-benar kebal dari dampak perang nuklir global.

Meski demikian, beberapa faktor dinilai mampu meningkatkan peluang bertahan hidup suatu negara, antara lain netralitas politik, isolasi geografis, minimnya kepentingan strategis militer, serta ketahanan sumber daya alam dan pangan. Berdasarkan indikator tersebut, sejumlah negara kerap disebut relatif aman jika perang global benar-benar pecah.

Daftar Negara yang Dinilai Paling Aman

Dihimpun Beritasatu.com dari berbagai sumber, berikut 10 negara yang disebut aman jika Perang Dunia II pecah:

1. Swiss

Swiss dikenal konsisten menjalankan kebijakan netralitas sejak Kongres Wina tahun 1815 dan tidak terlibat dalam konflik bersenjata besar sejak saat itu.

Letaknya yang dilindungi Pegunungan Alpen, status sebagai negara terkurung daratan, serta keberadaan ribuan bunker perlindungan nuklir membuat Swiss dinilai sangat siap menghadapi krisis global.

2. Selandia Baru

Lokasi Selandia Baru yang sangat terpencil di Pasifik Selatan menjauhkannya dari pusat konflik global.

Negara ini kerap menempati peringkat teratas Indeks Perdamaian Global dan dinilai memiliki kemampuan menjaga sektor pertanian, bahkan dalam skenario nuclear winter.

3. Islandia

Isolasi geografis Islandia di Atlantik Utara membuatnya minim kepentingan strategis global. Negara ini juga dikenal sebagai salah satu yang paling damai di dunia, dengan populasi kecil serta sumber energi terbarukan yang melimpah.

4. Indonesia

Indonesia secara konsisten menerapkan politik luar negeri “bebas dan aktif” sejak era Presiden Soekarno.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tidak terikat pada blok militer besar dan relatif netral dalam konflik global.

Letaknya yang jauh dari pusat kekuatan nuklir serta kekayaan sumber daya alam menjadi nilai tambah dalam ketahanan jangka panjang.

5. Bhutan

Bhutan mengedepankan filosofi Kebahagiaan Nasional Bruto yang berfokus pada perdamaian dan keberlanjutan.

Minim keterlibatan geopolitik global serta perlindungan alami Pegunungan Himalaya membuat negara ini relatif aman dari sasaran strategis militer.

6. Irlandia

Irlandia mempertahankan kebijakan netralitas militernya dan memilih untuk tidak bergabung dengan NATO.

Sikap ini dinilai mengurangi kemungkinan negara tersebut menjadi target serangan dalam konflik besar antarblok kekuatan dunia.

7. Fiji

Terletak jauh di Samudra Pasifik, Fiji berada di luar jalur utama konflik geopolitik dunia. Ketersediaan sumber daya alam serta tingkat konflik yang rendah mendukung ketahanan jangka panjang negara ini.

8. Australia

Australia memiliki wilayah luas, populasi relatif jarang, serta sumber daya alam melimpah. Isolasi geografisnya menjadikan negara ini relatif terlindungi dari dampak langsung perang besar, meski tetap memiliki risiko karena aliansi militernya.

9. Norwegia

Meski merupakan anggota NATO, Norwegia memiliki medan terjal, iklim ekstrem, serta populasi kecil. Lokasinya di kawasan Arktik dinilai dapat mengurangi dampak langsung konflik berskala besar.

10. Cile

Cile dilindungi Pegunungan Andes dan Samudra Pasifik, serta memiliki infrastruktur relatif stabil dan sumber daya alam beragam. Posisi geografis ini membuatnya cukup terisolasi dari pusat konflik global.

Benarkah Ada Negara yang Benar-benar Aman?

Meski daftar negara paling aman jika Perang Dunia III terjadi kerap dibahas, para ahli sepakat bahwa tidak ada satu pun negara yang sepenuhnya kebal dari dampak perang nuklir.

Efek lanjutan seperti nuclear winter, krisis pangan, dan kerusakan ekosistem akan berdampak lintas batas tanpa mengenal wilayah.

Namun, netralitas politik, isolasi geografis, dan ketahanan sumber daya tetap menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang bertahan hidup. Dalam konteks ini, Indonesia kerap dipandang memiliki posisi relatif aman, meski tetap tidak terlepas dari risiko global.

Ancaman Perang Dunia III menjadi pengingat betapa rapuhnya peradaban manusia di tengah persaingan geopolitik dan keberadaan senjata pemusnah massal. Daftar negara paling aman menunjukkan bahwa netralitas, kondisi geografis, dan ketahanan sumber daya menjadi penentu utama.

×
Berita Terbaru Update