Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dan
memunculkan kekhawatiran luas akan kemungkinan pecahnya Perang Dunia III.
Konflik yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika
Serikat, Rusia, Iran, serta dinamika di kawasan Eropa dan Timur Tengah membuat
isu keamanan global berada dalam situasi penuh ketidakpastian.
Kondisi ini mendorong banyak pihak mempertanyakan satu hal
mendasar, negara mana yang paling aman jika perang global, bahkan perang
nuklir, benar-benar terjadi?
Ancaman Nyata Perang Dunia III
Melansir laporan The Economic Times, isu Perang Dunia III
bukan lagi sebatas narasi fiksi. Peringatan keras datang dari Annie Jacobsen,
pakar perang nuklir sekaligus jurnalis investigatif, yang menilai bahwa jika
konflik nuklir benar-benar pecah, kehancuran global akan berlangsung dalam waktu
sangat singkat.
Menurut analisisnya, serangan nuklir pertama berpotensi
menewaskan miliaran manusia hanya dalam hitungan menit. Kekhawatiran tersebut
diperkuat oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Seorang komandan senior Iran, Brigadir Jenderal Seyyed Majid
Mousavi, menegaskan bahwa Republik Islam Iran siap memberikan respons tegas terhadap
setiap ancaman militer.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya retorika
Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan agresi
militer baru terhadap Iran.
Situasi semakin kompleks ketika Iran menuding adanya campur
tangan asing dalam gelombang protes domestik, termasuk dugaan dukungan
intelijen dan logistik dari Amerika Serikat serta Israel.
Pada sisi lain, para pejabat Iran menegaskan kesiapan
pertahanan nasional berada pada level tertinggi, sembari menyatakan bahwa Iran
tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap jika konflik tak terhindarkan.
Risiko Eskalasi Nuklir dan Dampak bagi Umat Manusia
Ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel disebut
berada pada titik terburuk sejak konflik bersenjata singkat pada Juni lalu.
Sejumlah analis menilai eskalasi saat ini terasa lebih
terarah dan sistematis dibanding sekadar kecelakaan geopolitik. Bahkan, potensi
meluasnya konflik regional menjadi perang global disebut bukan lagi kemungkinan
yang jauh.
Annie Jacobsen menjelaskan bahwa rudal balistik antarbenua
yang diluncurkan dari Rusia hanya memerlukan waktu sekitar 26 menit untuk
mencapai Pantai Timur Amerika Serikat.
Sejak sistem peringatan dini mendeteksi peluncuran, para
pemimpin dunia hanya memiliki waktu kurang dari 90 menit untuk mengambil
keputusan krusial yang menentukan nasib peradaban manusia.
Dalam perhitungannya, sekitar 5 miliar orang berpotensi
tewas dalam waktu kurang dari satu jam setelah serangan nuklir pertama. Namun,
kehancuran tidak berhenti pada ledakan awal. Debu dan asap dari ledakan nuklir
akan menutup sinar matahari dan memicu penurunan suhu ekstrem atau nuclear
winter.
Akibatnya, sebagian besar wilayah dunia, terutama lintang
tengah, akan mengalami musim dingin berkepanjangan hingga bertahun-tahun.
Daerah pertanian utama seperti Iowa dan Ukraina diperkirakan
tertutup salju hingga satu dekade, menyebabkan kegagalan panen global dan
kelaparan massal.
Dalam kondisi ini, manusia diperkirakan harus hidup di bawah
tanah dengan sumber daya sangat terbatas akibat rusaknya lapisan ozon dan
meningkatnya paparan radiasi.
Di tengah skenario terburuk Perang Dunia III, para analis
menilai tidak ada negara yang benar-benar kebal dari dampak perang nuklir
global.
Meski demikian, beberapa faktor dinilai mampu meningkatkan
peluang bertahan hidup suatu negara, antara lain netralitas politik, isolasi
geografis, minimnya kepentingan strategis militer, serta ketahanan sumber daya
alam dan pangan. Berdasarkan indikator tersebut, sejumlah negara kerap disebut
relatif aman jika perang global benar-benar pecah.
Daftar Negara yang Dinilai Paling Aman
Dihimpun Beritasatu.com dari berbagai sumber, berikut 10
negara yang disebut aman jika Perang Dunia II pecah:
1. Swiss
Swiss dikenal konsisten menjalankan kebijakan netralitas
sejak Kongres Wina tahun 1815 dan tidak terlibat dalam konflik bersenjata besar
sejak saat itu.
Letaknya yang dilindungi Pegunungan Alpen, status sebagai
negara terkurung daratan, serta keberadaan ribuan bunker perlindungan nuklir
membuat Swiss dinilai sangat siap menghadapi krisis global.
2. Selandia Baru
Lokasi Selandia Baru yang sangat terpencil di Pasifik
Selatan menjauhkannya dari pusat konflik global.
Negara ini kerap menempati peringkat teratas Indeks
Perdamaian Global dan dinilai memiliki kemampuan menjaga sektor pertanian,
bahkan dalam skenario nuclear winter.
3. Islandia
Isolasi geografis Islandia di Atlantik Utara membuatnya
minim kepentingan strategis global. Negara ini juga dikenal sebagai salah satu
yang paling damai di dunia, dengan populasi kecil serta sumber energi
terbarukan yang melimpah.
4. Indonesia
Indonesia secara konsisten menerapkan politik luar negeri
“bebas dan aktif” sejak era Presiden Soekarno.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tidak
terikat pada blok militer besar dan relatif netral dalam konflik global.
Letaknya yang jauh dari pusat kekuatan nuklir serta kekayaan
sumber daya alam menjadi nilai tambah dalam ketahanan jangka panjang.
5. Bhutan
Bhutan mengedepankan filosofi Kebahagiaan Nasional Bruto
yang berfokus pada perdamaian dan keberlanjutan.
Minim keterlibatan geopolitik global serta perlindungan
alami Pegunungan Himalaya membuat negara ini relatif aman dari sasaran
strategis militer.
6. Irlandia
Irlandia mempertahankan kebijakan netralitas militernya dan
memilih untuk tidak bergabung dengan NATO.
Sikap ini dinilai mengurangi kemungkinan negara tersebut
menjadi target serangan dalam konflik besar antarblok kekuatan dunia.
7. Fiji
Terletak jauh di Samudra Pasifik, Fiji berada di luar jalur
utama konflik geopolitik dunia. Ketersediaan sumber daya alam serta tingkat
konflik yang rendah mendukung ketahanan jangka panjang negara ini.
8. Australia
Australia memiliki wilayah luas, populasi relatif jarang,
serta sumber daya alam melimpah. Isolasi geografisnya menjadikan negara ini
relatif terlindungi dari dampak langsung perang besar, meski tetap memiliki risiko
karena aliansi militernya.
9. Norwegia
Meski merupakan anggota NATO, Norwegia memiliki medan
terjal, iklim ekstrem, serta populasi kecil. Lokasinya di kawasan Arktik
dinilai dapat mengurangi dampak langsung konflik berskala besar.
10. Cile
Cile dilindungi Pegunungan Andes dan Samudra Pasifik, serta
memiliki infrastruktur relatif stabil dan sumber daya alam beragam. Posisi
geografis ini membuatnya cukup terisolasi dari pusat konflik global.
Benarkah Ada Negara yang Benar-benar Aman?
Meski daftar negara paling aman jika Perang Dunia III
terjadi kerap dibahas, para ahli sepakat bahwa tidak ada satu pun negara yang
sepenuhnya kebal dari dampak perang nuklir.
Efek lanjutan seperti nuclear winter, krisis pangan, dan
kerusakan ekosistem akan berdampak lintas batas tanpa mengenal wilayah.
Namun, netralitas politik, isolasi geografis, dan ketahanan
sumber daya tetap menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang bertahan
hidup. Dalam konteks ini, Indonesia kerap dipandang memiliki posisi relatif
aman, meski tetap tidak terlepas dari risiko global.
Ancaman Perang Dunia III menjadi pengingat betapa rapuhnya
peradaban manusia di tengah persaingan geopolitik dan keberadaan senjata
pemusnah massal. Daftar negara paling aman menunjukkan bahwa netralitas,
kondisi geografis, dan ketahanan sumber daya menjadi penentu utama.