Kebijakan stimulus ekonomi senilai
Rp 26,34 triliun yang diluncurkan pemerintah pada semester II 2026 dinilai
belum cukup kuat untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi secara
signifikan. Stimulus tersebut lebih diarahkan untuk menjaga daya beli
masyarakat dan menopang konsumsi domestik di tengah berbagai tekanan ekonomi.
Kepala Departemen Riset
Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, mengatakan
besaran stimulus yang disiapkan pemerintah relatif kecil dibandingkan ukuran
perekonomian nasional.
"Ukuran kebijakan stimulus
ini relatif kecil, yaitu sekitar 0,15%-0,2% dari PDB (produk domestik bruto).
Kami memperkirakan dampaknya terhadap pertumbuhan PDB tahun 2026 berada di
kisaran 0,05%-0,15% tergantung pada besarnya efek pengganda fiskal, kecepatan
pelaksanaan program, dan besarnya dampak tidak langsung yang ditimbulkan,"
jelas Faisal, Selasa (23/6/2026).
Jaga Stabilitas dan Momentum
Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Gulirkan 8 Kebijakan Stimulus Q2 dan Semester
II-2026
Menurutnya, kebijakan tersebut
lebih bertujuan menjaga momentum permintaan domestik daripada menciptakan
lonjakan pertumbuhan ekonomi yang berbasis investasi. Langkah itu juga
dilakukan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, termasuk tekanan dari
kenaikan biaya energi dan pangan impor.
Faisal menilai stimulus akan
memberikan dorongan jangka pendek terhadap konsumsi masyarakat serta
meningkatkan kepercayaan konsumen, terutama melalui bantuan yang menyasar
kelompok berpendapatan rendah dan sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan
aktivitas konsumsi.
Meski demikian, ia memperkirakan
dampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tetap terbatas.
"Oleh karena itu, kami tetap
mempertahankan proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2026 sebesar 5,26%,
dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap relatif stabil di
level sedikit di atas 5%," tuturnya.
Sebelumnya, pemerintah mengumumkan
paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun yang akan digelontorkan pada
semester II 2026. Anggaran tersebut dialokasikan untuk sejumlah program, mulai
dari insentif transportasi, program magang dan vokasi, hingga bantuan pangan.
Berdasarkan perincian yang
disampaikan pemerintah, insentif transportasi untuk mendukung mobilitas
masyarakat selama periode liburan dan Natal-Tahun Baru mencapai Rp 2,04
triliun. Sementara program magang dan vokasi memperoleh alokasi Rp 6,26
triliun, sedangkan bantuan pangan menjadi komponen terbesar dengan nilai Rp
18,04 triliun.
Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan paket stimulus tersebut telah
dibahas lintas kementerian dan mendapatkan arahan langsung dari Presiden
Prabowo Subianto.
"Kami sudah membahas secara
lintas kementerian dan sudah mendapatkan arahan dari Bapak Presiden (Prabowo
Subianto) jadi total stimulus yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk di
semester II 2026 ini nilainya sekitar Rp 26,34 triliun," ujar Airlangga.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut
mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun, terutama melalui
penguatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu motor utama
perekonomian nasional.