Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan pemanfaatan rontgen dada yang dipadukan dengan analisis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mampu meningkatkan deteksi kasus tuberkulosis (TB), termasuk kasus tanpa gejala. Kecanggihan AI dinilai dapat memperkuat upaya pencegahan penularan TB, khususnya di lingkungan lembaga pemasyarakatan (lapas).
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan kualitas dan cakupan skrining sangat menentukan jumlah kasus TB yang berhasil ditemukan. Berdasarkan data Kemenkes, pada 2023 ketika pemeriksaan rontgen digunakan secara terbatas, ditemukan 6.039 kasus TB atau sekitar 2,3% dari total populasi warga binaan.
Pada 2024, saat skrining hanya mengandalkan pemeriksaan gejala, jumlah kasus yang terdeteksi turun drastis menjadi 2.151 kasus atau 0,8% dari populasi. Sementara pada 2025, setelah pemeriksaan rontgen kembali diterapkan secara menyeluruh, jumlah kasus yang ditemukan meningkat menjadi 7.972 kasus atau 3,6% dari populasi.
"Pesannya tegas, cakupan dan kualitas skrining menentukan berapa banyak kasus yang ditemukan. Di lingkungan padat, seperti lapas, hanya mengandalkan gejala berisiko besar meninggalkan ribuan kasus tak terdiagnosis, yang memperpanjang rantai penularan," kata Imran di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Imran menambahkan, berbagai penelitian di Afrika dan Asia juga menunjukkan pembacaan hasil rontgen menggunakan AI memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas lebih tinggi dibandingkan pembacaan secara manual.
"Teknologi ini bukan sekadar pelengkap, melainkan terobosan yang mempercepat deteksi kasus, memperkuat sistem skrining, dan membuka jalan untuk eliminasi TB yang lebih efektif," tegasnya, dikutip dari Antara, Kamis (2/7/2026).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto meninjau pelaksanaan kick off screening TB di Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah, pada Senin (29/6/2026).
Program tersebut menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga binaan, meliputi skrining gejala, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan rontgen dada.
Program nasional skrining TB sepanjang 2026 menargetkan pemeriksaan terhadap 321.449 orang, yang terdiri atas 272.573 warga binaan dan 48.876 petugas di 532 lapas dan rumah tahanan (rutan). Program ini mencakup 375 kabupaten dan kota di bawah koordinasi 33 kantor wilayah.
Imran menuturkan, pelaksanaan skrining di Nusakambangan menunjukkan kesiapan pemerintah dalam memperkuat deteksi dini TB. Warga binaan menjalani pemeriksaan secara bertahap, sementara tenaga kesehatan dan unit rontgen bergerak disiagakan di lokasi.
Dengan menggabungkan pemeriksaan rontgen dada dan analisis berbasis AI, proses diagnosis dapat dilakukan lebih cepat sehingga pengobatan juga bisa segera dimulai, sehingga rantai penularan dapat segera diputus.
Keberhasilan program skrining TB untuk penghuni rutan memerlukan dukungan berkelanjutan, mulai dari ketersediaan alat diagnostik, pendanaan, tenaga kesehatan terlatih, hingga sistem pemantauan pengobatan yang efektif.
"Jika semua elemen ini diperkuat, skrining TB berbasis rontgen AI dapat menjadi model pengendalian TB di Indonesia, membuktikan teknologi dan kebijakan bersama mampu mempercepat pencapaian tujuan kesehatan publik," tutup Imran.